Teori Tingkah Laku Connectionism oleh Thorndike

Dalam dunia pendidikan begitu banyak teori tingkah laku diantaranya yang sangat dikenal adalah teori Connectionism: dari E. L. Thorndike.

Dalam studi Thorndike, ia memandang perilaku sebagai suatu respons terhadap stimulus-stimulus dan lingkungan, artinya stimulus-stimulus dapat memberikan respons sehingga teorinya dikenal dengan teori S-R (Stimulus-Respons). Thorndike menghubungkan perilaku pada rekleks-refleks fisik, sehingga ia menyatakan bahwa perilaku ditentukan secara refleksif oleh stimulus yang ada dan lingkungan, dan bukan oleh pikiran yang sadar atau tidak sadar. Dalam eksperimennya yang dilakukan pada kucing yang dimasukkan kedalam kotak. Dari eksperimennya mengembangkan tiga hukumnya, yaitu : “Law of Effect” yang menyatakan “bila koneksi yang dapat dimodifikasi antara suatu situasi dan respons terbentuk dan disertai oleh keadaan yang memuaskan, kekuatan koneksi tersebut akan meningkat, bila koneksoi terbentuk dan disertai dengan suatu keadaan yang tidak menyenangkan maka kekuatan hubungan tersebut akan berkurang”, “Law of Exercise” yang menyatakan bahwa “kegiatan belajar terjadi selama aksi tertentu dipraktekkan”. “Law of Readiness” yang menyatakan bahwa “kesiapan individu yang dihubungkan dengan karakteristik tingkah laku untuk pencapaian tujuan utama”.

Thorndike juga mengembangkan 5 hukum tambahannya, yaitu :

1.       Hukum Pengulangan Reaksi atau Reaksi Bervariasi, yang menyatakan bahwa “bertahan pada suatu respons dan situasi yang baru maka sebagian objek akan menampilkan respon dan reaksi yang bervariasi”.
2.       Hukum Ketepatan, yang menyatakan bahwa “reaksi individu rhadap kondisi yang dihadapi ditentukan oleh posisi dan karakter individu”.
3.       Hukum Bagian Aktivitas,  yang menyatakan bahwa “dalam suatu situasi ada bagian dari situasi yang berpengaruh khusus terhadap bagian atau seluruh tingkah laku individu”.
4.       Hukum Kesesuaian atau Kesamaan, yang menyatakan “tidak ada situasi yang sama, sehingga jika individu dihadapkan pada situasi baru yang hamper sama dengan kondisi masa lampau, maka ia akan memberikan reaksi yang sama dengan rekasi di masa lampau”.
5.       Hukum Tindakan Bersama, yang menyatakan bahwa “ reaksi yang sulit sekalipun akan dapat dilakukan jika ada kesatuan antara satu respon dengan yang lainnya”.

~ dilihat : 3562 kali ~