IPB miliki 180 guru besar

Bogor (BeritaXYZ.com) – Institut Pertanian Bogor hingga Juli 2013 telah memiliki sebanyak 180 guru besar, kata Humas IPB Waluyo Suprihartono di Bogor, Jawa Barat, Kamis.

“Jumlah itu termasuk tiga guru besar baru yang telah dikukuhkan pada awal Juli, yakni Prof Dewi Apri Astuti, Prof Slamet Susanto, dan Prof Kukuh Murtilaksono,” katanya.

Dalam pengukuhannya, Prof Dewi Apri Astuti dari Fakultas Peternakan menyampaikan orasinya berjudul “Upaya Peningkatan Efisiensi Pemanfaatan Energi Ternak Tropis dalam Menghadapi Pemanasan Global”.

Sementara itu, Prof Slamet Susanto yang merupakan Guru Besar Agronomi dan Hortikultura menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Pamelo: Jeruk Potensial Yang Masih Terabaikan”.

Selanjutnya, Prof Kukuh Murtilaksono, Guru Besar Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Penyelarasan Implementasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai di Indonesia”.

Ia menjelaskan 180 guru besar IPB itu terdiri atas 30 guru besar emiritus dan 150 guru besar aktif.

“Guru besar yang telah mengakhiri masa jabatannya karena pensiun dapat diangkat kembali menjadi Guru Besar Emeritus di perguruan tinggi yang bersangkutan sebagai penghargaan istimewa dari Senat Perguruan Tinggi atau Senat Akademik setelah memenuhi persyaratan dan prosedur tata cara pengangkatan Guru Besar Emeritus,” katanya.

Menurut dia, orasi ilmiah ketiga profesor baru yang diselenggarakan bersamaan itu merupakan tradisi baru yang dikembangkan IPB.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof Dewi Apri Astuti menawarkan solusi dalam upaya peningkatan efisiensi pemanfaatan energi ternak tropis melalui penekanan kehilangan panas yang dapat dilakukan dengan beberapa cara.

Solusi pertama, pemilihan pakan padat energi yang kaya karbohidrat terlarut atau sumer lemak untuk diberikan pada ternak.

Kedua, pengaturan manajemen pemberian pakan berserat rendah dengan alternatif pemberian hijauan legume pada takaran yang optimal dan pemberian pakan berserat dilakukan malam hari pada suhu yang lebih nyaman.

Ketiga, memperhatikan kebutuhan ekstra energi untuk ternak yang digembalakan pada siang hari serta menjalankan “animal welfare” yang tepat bagi ternak yang digembalakan, seperti memberikan perlindungan dalam bentuk naungan pohon di padang penggembalaan.

Keempat, memperhatikan kondisi suhu dan kelembapan kandang dengan sirkulasi udara yang nyaman serta kepadatan ternak agar mempermudah desipasi panas tubuh.

Sementara itu, Prof Kukuh Murtilaksono dalam orasinya menyampaikan persoalan banjir di Jakarta yang selalu kerap terjadi, dan bahkan menjadi langganan lima tahunan.

Ia mengatakan dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) terpadu diperlukan catatan penting, yaitu komitmen atau kesepakatan para pemangku kepentingan yang telah dibuat harus konsisten diterapkan tanpa harus mendahulukan kepentingan atau interes atau bahkan politik tertentu.

“Untuk itu, diperlukan pelibatkan dan pengontrolan masyarakat umum, LSM, dan akademisi untuk membantu penyelarasan implementasi kebijakan pengeloaan DAS yang telah dibuat oleh lembaga pemerintah terkait,” katanya.

Lain halnya dengan Prof Slamet Susanto. Ia memaparkan tentang keberadaan jeruk Pamelo yang masih belum diperhatikan atau dikesampingkan dan terabaikan karena belum dikenal.

Di pasar internasional, Pamelo merupakan jenis jeruk yang mempunyai nilai perdagangan yang tinggi dan mendampingi “grapefruit”, mandarin, orange, dan lemon.

“Konsumen jeruk termasuk Pamelo mempunyai rentang yang luas baik dilihat dari sisi usia, kelas sosial, tingkat pendidikan maupun geografis,” katanya.

Ia mengungkapkan, jeruk Pamelo potensial dikembangkan, karena karakteristiknya yang khas, yaitu berukuran besar, memiliki rasa segar, dan daya simpan yang lama sampai empat bulan.

“Pamelo juga memiliki beberapa kultivar hanya terdapat di Indonesia,” katanya.

(A035/E011)

~ dilihat : 390 kali ~