URGENSI PENDIDIKAN BUDAYA DALAM KELUARGA

Penerapan nilai budaya dalam keluarga merupakan hal yang penting untuk dilakukan agar dapat menciptakan generasi yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap nilai budaya yang ada dalam kehidupan. Penerapan ini dapat dimulai dari lingkungan keluarga yang akan senantiasa memberikan dukungan secara moral melalui pendidikan nilai budaya yang ada dalam kehidupan. Hal ini dilakukan agar anak memperoleh pengetahuan mengenai budaya dan mendapatkan pelajaran berharga dari kisah-kisah budaya yang ada. Sehingga anak akan memiliki sebuah kebanggaan dan tanggung jawab terhadap nilai budaya yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Nilai budaya tersebut dapat berupa norma dan etika yang ada di lingkungan masyarakat. Baik itu berupa keharusan, anjuran ataupun larangan sebagai perwujudan dari nilai budaya yang ada di masyarakat. Salah satu norma dan etika yang dapat diajarkan kepada anak dalam keluarga adalah mengucapkan salam dan mengetuk pintu saat akan bertamu ke rumah tetangga. Memberi salam kepada orang yang lebih tua dan mencium tangannya dan makan dengan menggunakan tangan kanan merupakan contoh dari budaya yang harus diajarkan kepada anak dalam keluarga.

Sangat banyak budaya yang harus diajarkan kepada anak mulai dari yang terkecil seperti contoh-contoh diatas sampai budaya yang cakupannya lebih luas seperti bergotong-royong dalam masyarakat.

Peran keluarga dalam mendidik anak agar menjadi anak yang berbakti kepada bangsa dan negara sangatlah penting karena waktu anak dalam keluarga lebih lama dibandingkan waktu anak di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Untuk itu kepribadian anak sangat tergantung pada pendidikan budaya yang ia terima di keluarga. Pendidikan budaya dalam keluarga adalah tanggungjawab orang tua. Namun peran ibu lebih banyak daripada peran ayah karena ayah biasanya pergi bekerja dan waktunya di rumah tidak lebih banyak daripada ibu. Namun meskipun begitu, peran ayah juga sangat penting terutama sebagai pemimpin dalam keluarga dan pemberi nasihat. Seorang ibu harus dengan sepenuhnya memberikan pendidikan budaya kepada anak dan ayah memberikan waktu liburnya untuk keluarga agar keseimbangan pendidikan yang ada dalam keluarga dapat terjalin dengan baik.

Namun di zaman yang semakin canggih ini makin banyak ibu yang bekerja dan tidak memiliki banyak waktu untuk anaknya. Hal ini tentunya menimbulkan keterlantaran pendidikan budaya yang dialami oleh anak. Bukan berarti bahwa ibu tidak boleh bekerja namun alangkah lebih baiknya jika ibu melaksanakan kewajibannya untuk memberikan pendidikan kepada anaknya agar pendidikan anak tersebut tidak terlantar. Apakah dengan cara ibu bekerja sebagai pekerja yang tidak full time seperti guru ataupun berwirausaha di rumah agar anak tetap terkontrol pendidikannya. Para ibu yang bekerja harus mengusahakan waktu semaksimal mungkin untuk anaknya.

Pendidikan budaya untuk anak dalam keluarga harus dilakukan mulai dari anak itu balita hingga dewasa bahkan ketika anak akan menikah, orang tua wajib memberikan pendidikan terhadap anaknya mengenai cara membina keluarga yang baik. Dengan begitu anak akan terus menjalankan pendidikan budaya kepada keturunannya di kemudian hari. Hal ini kiranya sangat penting demi terbentuknya karakter generasi bangsa yang baik. Namun yang harus diperhatikan ketika orang tua memberikan pendidikan budaya kepada anaknya adalah dengan tidak mengacuhkan kebebasan anak dalam bertindak, berimajinasi dan berkreasi. Jangan pernah membatasi kebebasan anak dalam berpikir. Namun orang tua sangatlah harus mengawasi setiap kegiatan anak dengan tidak mengekang anak tersebut. Dengan mengekang anak maka potensi dan bakat anak tidak dapat berkembang menjadi kekuatan nyata. Pendidikan dalam keluarga dapat memberikan pengaruh besar kepada karakter anak dimana karakter anak dibentuk sejak ia kecil hingga dewasa. Oleh karena itu salah satu kunci untuk menjadikan manusia Indonesia tidak manja terletak dalam pendidikan budaya dalam keluarga. Karakter anak yang baik merupakan salah satu faktor tumbuhnya prestasi anak dalam berbagai bidang. Seperti dalam bidang olahraga, pemimpin di sekolahnya maupun dalam berbagai kegiatan lainnya (Silvia Noviani, Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Manajemen Industri Katering FPIPS UPI).

~ dilihat : 968 kali ~