UPI Kukuhkah Empat Guru Besar

Gubes4

Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Purwakarta boleh berbangga hati dengan dikukuhkannya Dr. H. Sofyan Iskandar, M.Pd., menjadi seorang Guru Besar dalam Bidang Ilmu Teknologi Pendidikan, Kamis (10/4/2014), di Gd. Achmad Sanusi (Balai Pertemuan UPI) Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, pukul 08.00 WIB. Surat Keputusan pengangkatan Guru Besar tersebut dibacakan oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Keuangan, dan Administrasi Umum Prof. Dr. H. Idrus Affandi, M.Pd.

Prof. Dr. H. Sofyan Iskandar, M.Pd., yang juga mantan Direktur UPI Kampus Serang dilantik oleh Rektor UPI Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., bersama tiga Guru Besar lainnya, diantaranya Prof. Dr. Munir, M. IT., Guru Besar dalam Bidang Ilmu Teknologi Informasi dan Komunikasi; Prof. Dr. Asep Kadarohman, M. Si., Guru Besar dalam Bidang Ilmu Kimia Organik; dan Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., Guru Besar dalam Bidang Ilmu Linguistik.Gubes3

Satu hal yang juga menarik adalah pengukuhan Prof. Dr. Munir, M. IT., sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Teknologi Informasi dan Komunikasi, karena Prof. Munir merupakan Guru Besar pertama yang dimiliki oleh Program Studi Ilmu Komputer Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang telah berdiri sejak tahun 2005.

Permasalahan karakter bangsa disinggung oleh Prof. Munir dalam pidato pengukuhan Guru Besarnya yang berjudul Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Membangun Karakter Bangsa,”Permasalahannya adalah bagaimana kontribusi TIK dalam mengkristalisasikan nilai-nilai pancasila dalam membangun karakter bangsa. TIK dalam pembangunan karakter bangsa dapat dimaknai dalam tiga paradigma, yaitu TIK sebagai alat atau produk teknologi, TIK sebagai konten, dan TIK sebagai program aplikasi atau alat bantu untuk manajemen yang efektif dan efisien dalam pembangunan karakter.”

Dikatakan,“Dengan tiga paradigma tersebut, TIK dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu layanan publik kepada seluruh masyarakat Indonesia tanpa mengenal bangsa, suku, ras dan agama, mengatasi kesenjangan layanan pendidikan akibat kondisi geografis yang mana jika diabaikan akan menimbulkan disparitas mutu layanan, mengantisipasi perubahan sosio-budaya masyarakat yang dinamis, memupuk rasa nasionalisme, membangun kemandirian dan kreativitas, dan membangun daya saing.”

Sementara itu, Membangun Kompetensi Guru menuju Pengembangan Pendidikan Bermutu, merupakan judul pidato pengukuhan Guru Besar Prof. Sofyan. Ia mengungkapkan,”Pendidikan bermutu tidak akan terwujud tanpa adanya guru yang berkualitas, jadi guru harus mempunyai kompetensi baik pribadinya maupun dari segi pembelajaran, lalu seorang guru harus mampu mengelola konflik, makadari itu guru dituntut untuk inovatif.”Gubes2

“Dalam penelitian ditemukan terdapat hubungan positif antara kemampuan mengelola konflik dengan kemampuan pembelajaran guru, lalu terdapat kaitan antara keinovatifan guru dengan kemampuan pembelajaran guru, kemudian terdapat keterkaitan positif antara sikap terhadap profesi guru dengan kemampuan pembelajaran guru, serta terdapat keterkaitan antara kemampuan mengelola konflik, keinovatifan guru dan sikap terhadap profesi guru secara bersama-sama dengan kemampuan pembelajaran guru,” paparnya.

Penelitian spektakuler juga telah dilakukan oleh Prof. Dr. Asep Kadarohman, M. Si. Dalam pidato pengukuhan Guru Besarnya yang berjudul Peran Pendidikan dalam Meningkatkan Potensi Minyak Astiri Indonesia, dia mengungkapkan tentang riset-riset dalam minyak astiri yang memperkuat pengembangan konten bahan ajar kimia dan meningkatkan cara berpikir tingkat tinggi mahasiswa. Senyawa-senyawa minyak astiri dapat digunakan untuk menjelaskan konsep isolasi dan ekstraksi, pemisahan dan pemurnian senyawa baik secara kimia maupun secara fisika, penentuan struktur senyawa, berbagai jenis reaksi, kajian kontrol dan jejak reaksi, kinetika reaksi kompleks, dan mekanisme reaksi.

“Minyak astiri telah mengantarkan saya melakukan riset dalam bidang kajian parfum yang tidak hanya memberikan efek manfaat rasa nyaman dan bahagia, namun juga bermanfaat bagi kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. Saya juga mengembangkan beberapa parfum, diantaranya Smart untuk meningkatkan daya ingat, Friendly untuk mengurangi bau tubuh, dan Full untuk menurunkan berat badan dengan mengurangi rasa lapar,” ujarnya.

Prof. Didi dalam kesempatan yang sama mengungkapkan tentangUrgensi Pengembangan Model Kompetensi Komunikatif Multimodal dalam Menyiapkan Keterampilan Abad 21. Dikatakan,”Kompetensi komunikasi merupakan salah satu kompetensi penting agar dapat memberikan kontribusi yang positif dalam kehidupan global saat ini.”Gubes1

“Komunikasi dapat berlangsung melalui penggunaan tanda. Sebuah tanda bermakna karena berbeda antara tanda yang satu dengan lainnya, serta memiliki hubungan yang baik secara sintagmatik maupun paradigmatik sehingga tanda yang kita gunakan memilki struktur yang membentuk makna dikenal sebagai aliran strukturalisme. Tanda kita gunakan untuk mengungkapkan pikiran atau perasaan, untuk berinteraksi dengan orang lain. Proses penggunaan tanda untuk mengungkapkan makna merupakan sebuah proses representasi,” ungkapnya.

Dijelaskan,”Aliran ini dapat diterapkan pada semua disiplin ilmu. Dasar pemikirannya karena tanda tidak hanya bersifat verbal maupun nonverbal. Dengan demikian, gerakan dan postur tubuh kita dan cara kita memilih warna untuk menyampaikan pesan merupakan sebuah tanda seperti halnya cara kita berpakaian, cara kita makan, bermasyarakat dan berpolitik.”

Rektor UPI Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., ditemui saat melakukan sesi wawancara dengan wartawan mengatakan,”Guru Besar harus mampu berfikir kreatif dan kritis sebagai bentuk kecerdasan yang mampu mengkolaborasi semua aspek. Pendidikan bermutu harus disokong oleh guru yang bermutu, menggeser potensi siswa menjadi lebih berkompetensi.”

Dikatakan Rektor, sekaitan dengan belum terpenuhinya kuota Guru Besar, saat ini UPI terus gencar mendorong para doktor atau calon Guru Besar untuk melakukan riset, karena peluang untuk melakukan riset terbuka sangat luas dengan digelontorkannya dana kurang lebih sekitar Rp 1 milyar. UPI hingga saat ini baru memiliki 84 orang Guru Besar plus 4 orang yang baru dikukuhkan, jumlah ini dinilai masih kurang dilihat dari jumlah ideal minimal 10 persen Guru Besar, sehingga kuota ini belum dapat terpenuhi. UPI.

Sulitnya mengakses jurnal ilmiah internasional terakreditasi ditengarai menjadi kendala. Para calon Guru Besar memang disyaratkan untuk menuliskan hasil risetnya dijurnal nasional maupun internasional yang sudah terakreditasi yang menjadi syarat pengajuan Guru Besar, oleh karena itu mereka harus bekerja keras untuk melakukan riset dan menuliskan atau mempublikasikannya melalui jurnal ilmiah tersebut. (Dodiangga)

~ dilihat : 405 kali ~