Umar, Harus Menarik Becak Meski Berusia 70

Bandung, UPI1

Siang tampak bersahabat dengan hari-harinya. Hangatnya menambah semangat kerja di dalam diri seorang kakek tua di pinggir jalan Taman Sari, Kota Bandung.  Kerutan wajahnya tampak seakan berbicara jelas arti kehidupan. Tidak hanya matahari yang senang berteman dengannya, asap kendaraan bermotor pun setia menemani semangatnya dalam mengais rezeki. Dari balik becak tua, Umar (70 tahun) bercerita tentang sulitnya hidup di Kota Metropolitan Bandung.

Umar bercerita tentang sulitnya hidup dan mencari sesuap nasi di Kota Bandung yang notabennya sebagai kota destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Dijadikan alasan lelaki tua ini untuk mencari rezeki. Berawal dari niat mengubah nasib, ia berangkat dari kota asalnya Garut menuju kota Bandung, Jawa Barat.

Berbekal pengetahuan seadanya, lelaki tua ini memilih bekerja sebagai tukang becak. Pekerjaan yang menurut sebagian orang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di zaman sekarang. Berbeda halnya dengan Umar, pengetahuan yang terbatas dan berbekal ijazah SD, serta tuntutan hidup memaksanya terus bekerja dengan profesi apa pun.

“Ya mau gimana lagi atuh Teh, hidup sekarang makin banyak biaya. Saya juga tidak bisa diam saja menerima takdir dengan hidup pas-pasan. Jadi mau tidak mau saya bekerja sebagai tukang becak,” kata Umar.

Becak tua hasil sewaan itu menjadi saksi bisu perjuangan Umar untuk bertahan hidup demi menafkahkan istri, anak, dan cucunya. Kesederhanaan dan keramahan terlihat jelas di wajahnya. Keinginannya bekerja di kota kelahiran mungkin hanya sebatas impian. Oleh karena itu, ia memberanikan diri berjuang di kota orang.

“Sebenarnya saya ingin sekali mencari nafkah di Garut. Tapi karena saya tidak punya tanah dan sawah yang bisa digarap, saya lebih memilih mencari nafkah di Bandung,” ujarnya.

Kehidupan Umar diawali saat fajar malu-malu untuk menampakkan cahayanya dari timur. Ibadah tidak lupa ia lakukan untuk mengawali perjuangan di setiap paginya. Becak tua hasil menyewa dimandikannya setiap pagi. Kenyamanan menjadi alasan utama Umar agar banyak penumpang yang mau memakai jasa becaknya. Didorongnya becak tua tersebut hingga sampai di ujung jalan yang dijadikan tempat pangkalan beberapa orang seprofesinya. Usahanya diakhiri saat sore hari di mana senja telah menampakkan wajahnya.

“Saya narik becak biasanya dari pukul 06.00 WIB atau paling siang pukul 08.00 WIB. Di gang ini biasanya saya mangkal dekat Mall Balubur. Selesai menarik becak biasanya sampai sore. Ya sekitar pukul 16.00 WIB,” jelas Umar.

Fisiknya kini telah renta, tidak sekuat saat ia muda. Tuntutan hidup yang semakin banyak dan beberapa anaknya yang juga tidak dapat melanjutkan sekolah menambah beban hidupnya. Beberapa anaknya memang sudah menikah, namun tidak jauh dari kehidupannya. Semua serba sederhana dan berkecukupan. Pekerjaan anaknya sebagai kuli bangunan membuat Umar terus bekerja tanpa harus menuntut banyak pada anaknya. Penghasilan yang tidak menentu dirasa cukup untuk sekadar mengenyangkan perut.

“Anak saya banyak Teh. Ada yang sudah menikah dan tinggal dengan suaminya di Garut. Tapi masih ada juga adik-adiknya yang menjadi tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga. Terlebih lagi anak-anak saya hanya sebagai pekerja serabutan seperti kuli bangunan. Penghasilannya juga tidak menentu. Oleh karena itu, saya juga tidak bisa menuntut banyak dari anak. Sekarang saja saya belum dapat penumpang satu pun dari pagi,” ujar Umar.

Kehidupan yang sederhana dan serba tak berkecukupan membuat lelaki tua ini lebih memaknai arti hidup. Banyak dari kita terlalu sibuk dengan segala kemewahan dunia tanpa memandang orang sepertinya. Siapa yang harus bertanggung jawab pada hal ini? Siapa yang harus disalahkan? Pemerintahkah?

“Saya tidak bisa berharap banyak kepada pemerintah. Saya hanya ingin jalanan yang baik agar saya dapat menarik becak dengan jalan yang nyaman. Selain itu, saya mohon untuk para pejabat di pemerintahan segera membuat lapangan kerja yang cocok untuk kami,” ujarnya.

Dari balik becak tua, masyarakat bisa belajar, perjuangan bertahan hidup dan menafkahi keluarga yang dijalani Umar sebagai penarik becak. Di usianya yang renta, yang seharusnya tidak lagi membanting tulang, ia tak punya pilihan selain menjalani apa pun yang harus terjadi. Baginya, menghargai waktu dan kerja keras adalah hal yang tidak ternilai harganya. (Yenny Aryanti, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FPIPS UPI)

~ dilihat : 218 kali ~