Tantangan bagi Pemuda dalam Menghadapi Perang Proxy

Indeks Berita


Tantangan bagi Pemuda dalam Menghadapi Perang Proxy

Posted by humas-ui on 2014-03-12 14:31:16

Berbagai latar belakang dan kepentingan menjadi alasan bagi sejumlah negara untuk berperang. Kini, dengan adanya perkembangan teknologi, karakteristik perang mengalami pergeseran. Perang tidak lagi banyak dilakukan secara fisik. Salah satu bentuk perang yang sedang dan masih akan terus berlangsung adalah perang proxy.

Hal tersebut disampaikan Pangkostrad Letjen TNI Gatot Nurmantyo saat menyampaikan kuliah umum berjudul “Peran Pemuda dalam Menghadapi Proxy War”. Ratusan mahasiswa UI antusias menyimak kuliah umum yang berlangsung pada Senin (10/3/2014) di Balai Sidang UI tersebut.

Perang proxy adalah perang yang terjadi antara dua pihak tanpa berhadapan secara langsung, melainkan memanfaatkan pihak ketiga untuk mengalahkan musuh. Kawan dan lawan dalam perang proxy sulit dikenali karena dikendalikan oleh actor non state. Menurut Gatot, indikasi adanya perang proxy di antaranya lewat gerakan separatis, demonstrasi massa, dan bentrok antarkelompok.

Lebih lanjut Gatot mengatakan, pembiayaan perang proxy dilakukan oleh negara dengan memberikan imbalan pada actor non state. Jika diperhatikan, kata Gatot, konflik-konflik yang terjadi di dunia diakibatkan oleh persaingan kepentingan untuk menguasai sumber energi. Seperti halnya yang terjadi dalam invasi Irak ke Kuwait pada 2 Agustus 1990 dan konflik di Nigeria yang dilatarbelakangi oleh kepentingan untuk menguasai sumber minyak.

Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar. Letaknya pada garis ekuator menjadikan Indonesia memiliki vegetasi dan musim bercocok tanam sepanjang tahun. Di sisi lain, Indonesia kaya akan sumur-sumur minyak, gas, dan simpanan batubara. Sayangnya, hampir di seluruh wilayah di Indonesia, sumber-sumber tersebut dikuasai oleh para pemodal asing “Semua negara yang memiliki pengaruh di dunia berupaya ikut berinvestasi di dalam negeri. Indonesia merupakan sumber energi, sumber pangan, dan sumber air bersih yang akan menjadi incaran kepentingan nasional negara-negara asing di masa depan,” ucap Gatot.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, contoh perang proxy yang terjadi adalah gerakan separatis. Salah satunya adalah pemberontakan bersenjata yang mengawali lepasnya Timor Timur dari Indonesia. Contoh lainnya adalah demonstrasi massa. Gatot menyebutkan bahwa tidak sedikit demonstran yang tidak mengetahui apa yang diperjuangkan dalam demonstrasi tersebut. Demonstrasi semacam itu menurutnya perlu dicurigai sebagai indikasi adanya perang proxy di Indonesia.

Perang proxy, lanjut Gatot, selalu mengeksploitasi hal-hal sensitif yang berkaitan dengan kepentingan publik seperti halnya buruh. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk melumpuhkan perusahaan-perusahaan domestik agar tidak mampu bersaing dengan perusahaan luar negeri dalam pasar global. Gatot menambahkan, pemuda atau mahasiswa dalam hal ini punya peran yang penting dalam menghadapi perang proxy.

Gatot kemudian menyarankan sejumlah hal kepada para pemuda. Di antaranya ialah agar pemuda turut berperan dengan cara menjadi ahli dalam bidang masing-masing. Selain itu, pemuda juga dapat melakukan gerakan berbasis wirausaha. Hal tersebut menurutnya mampu mempercepat pengentasan kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Hal lain yang dapat dilakukan pemuda adalah ikut aktif dalam berbagai kegiatan seperti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke daerah pelosok, program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD), dan Corporate Social Responsibility (CSR) yang diprakarsai oleh TNI. “Semuanya ini untuk pembentukan karakter, disiplin, dan yang terpenting kepedulian untuk ikut membantu rakyat,” pungkasnya. (KHN)

 

~ dilihat : 349 kali ~