Petinggi TNI Bertemu Prof. Dr. Idrus Affandi, S.H. — Kacang tak Lupa Kulitnya

Bersama Para Jenderal

PERIBAHASA “Seperti kacang yang lupa akan kulitnya” tidak berlaku bagi empat pimpinan puncak Tentara Nasional Indonesia (TNI). Mereka, bahkan hafal terhadap “kulitnya”. Keempat “kacang” tersebut adalah Panglima TNI Jenderal Moledoko; Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana TNI Marsetio; Wakil Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal Madya TNU Sunaryo; dan Komandan Sekolah Komando TNI, Marsekal Madya TNI Ismono Wijayanto. Sedangkan “kulit” yang dimaksudkan adalah Prof. Dr. Idrus Affandi, S.H. yang menjadi dosennya ketika mereka belajar di Sesko TNI.

Keempat “kacang” yang begitu bernas, karena sangat menonjol prestasinya sehingga menjadi pemimpin puncak di TNI ini, mengaku masih ingat saat belajar Survei Sosial dan Kebijakan Publik bersama Prof. Idrus saat mereka kembali bertemu dalam penutupan Kursus Reguler (Susreg) Sesko TNI, Senin (18/11/2013). Keempat jenderal tersebut mengaku bahagia kembali bertemu dengan Pembantu Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini, sebaliknya Prof. Idrus mengaku sangat bangga karena mahasiswanya berhasil menjadi pemimpin puncak pada lembaga sangat bergengsi, Tentara Nasional Indonesia.

Prof. Idrus masih ingat hari-hari saat mengajar mahasiswanya di Sesko TNI. Mahasiswa di Sesko TNI dinilai sebagai yang terbaik. Mereka sangat disiplin, bekerja keras, tapi selalu kritis. Mereka terbiasa membahas persoalan bangsa dan negara secara terbuka, tapi penuh tanggung jawab. Prof. Idrus mengaku selalu menanamkan sikap agar mereka berpribadi sebagai negarawan. Mereka harus meletakkan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan. Sebab, TNI merupakan pilar utama negara yang kokoh.

Prof. Idrus berharap, TNI kokoh dan kuat. Kokoh dan kuatnya TNI berarti kokoh dan kuatnya bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara dengan dukungan militer yang kuat semakin berwibawa dan disegani di mata negara tetangga maupun negara di seluruh dunia. Kuat dan kokohnya TNI harus dibangun di atas landasan jati diri bangsa, bukan dibangun di atas landasan serba asing dan luar negeri. Bersama rakyat, Tentara Nasional Indonesia harus membangun jati diri yang kokoh dan kuat.

Militer yang tangguh dan kokoh, kata Prof. Idrus, bukan dibangun oleh negara dan bangsa asing, melainkan dibangun oleh kekuatan nasional. Maka, Indonesia harus memiliki alat utama sistem persenjataan (alutsista) buatan sendiri yang canggih, bukan buatan luar negeri. Membangun TNI yang tangguh dengan mengandalkan alutsista dari luar negeri adalah mustahil.

“Sebab, mana mungkin nagara lain mau menjual senjata terbaik yang dapat mengalahkan mereka? Senjata yang dijual kepada Indonesia adalah senjata yang dengan mudah dikalahkan oleh senjata yang mereka siapkan kualitasnya lebih bagus. Dengan membangun sindiri alutsista, TNI dapat menjadi kuat. Industria strategis kita dapat terus menggeliat dan semakin produktif, dengan memanfaatkan teknolog dalam negeri. Dengan demikian, TNI semakin kuat tanpa harus didiktai negara asing,” ujar Prof. Idrus.

Yang juga harus ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa adalah, rakyat dan TNI bukanlah dua kekuatan yang saling berhadapan, melainkan saling mendukung dan saling mengayomi. Rakyat butuh perlindungan TNI untuk berekspresi dan berkreasi, sedangkan TNI butuh dukungan rakyat agar mampu menjaga stabilitas nasional dari rongrongan mana pun.

“Sikap ini harus terus dipegang agar tidak ada lagi anggapan bahwa TNI kuat berarti sipil lemah. Bangsa Indonesia yang  jaya ke depan harus terdiri atas sipil yang kuat dengan tentara yang kuat pula. Keduanya bukan saling berhadapan, melainkan bersinergi membangun bangsa dan negara menuju puncak kejayaan Indonesia jaya. Rakyat sejahtera tapi tenteram karena perlindungan TNI,” kata Prof. Idrus menandaskan. (Wakhudin)

~ dilihat : 402 kali ~