Peduli Kesehatan Jiwa, Perawat Ini Dapat IPK 4

Indeks Berita


Peduli Kesehatan Jiwa, Perawat Ini Dapat IPK 4

Posted by humas-ui on 2014-02-18 16:45:04

Tak sedikit orang yang berpendapat bahwa perawat jiwa adalah perawat yang bekerja hanya di rumah sakit jiwa. Padahal, tugas perawat jiwa mencakup bidang kerja yang luas karena ilmu keperawatan jiwa meliputi pula kondisi jiwa yang sehat. Tugas perawat jiwa terutama membantu meningkatkan derajat kesehatan jiwa secara optimal. Sementara pada individu yang mengalami gangguan jiwa, perawat jiwa bertugas mengembangkan perilaku adaptif lewat berbagai terapi agar nantinya penderita siap kembali ke masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Florensa, wisudawan Program Spesialis Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) dalam wawancara dengan UIUpdate, Senin (17/2). Ia lulus cum laude dengan IPK 4 pada wisuda semester gasal 2013/2014 lalu. Florensa mengaku, ketertarikannya pada keperawatan jiwa dan dukungan dari dosen-dosennya yang membuatnya berhasil mendapatkan IPK sempurna tersebut. “Bahwa manusia itu unik, sangat terlihat jelas setiap kali saya memberikan terapi pada pasien. Masing-masing memperlihatkan respon yang berbeda sehingga saya selalu merasa tertarik untuk mengetahui apa yang menyebabkan hal itu terjadi dan itu menuntut saya untuk lebih banyak membaca,” ungkap pengajar di STIKES YARSI Pontianak Kalimantan Barat tersebut.

Dalam tugas akhirnya, Florensa mengangkat topik pengaruh terapi Reminiscence terhadap harga diri rendah dan isolasi sosial pada lansia di ruang Gayatri Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Bogor. Menurutnya, hal yang perlu mendapat perhatian serta penanganan serius adalah masalah gangguan jiwa di kalangan lansia yang saat ini jumlahnya cenderung meningkat. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menyebutkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional meningkat sejalan dengan pertambahan usia dengan prevalensi tertinggi pada kelompok umur 75 tahun, yaitu sebesar 33,7%. Data tersebut memperlihatkan bahwa seiring bertambahnya usia, risiko seseorang mengalami gangguan mental emosional semakin besar. Apabila tidak ditangani dengan tepat, masalah tersebut dapat berkembang menjadi gangguan jiwa berat.

Salah satu jenis gangguan jiwa berat yang paling banyak ditemukan adalah skizofrenia. Perilaku maladaptif yang ditunjukkan oleh klien dengan skizofrenia antara lain berkurangnya kemampuan untuk bekerja dan adanya kecenderungan bersikap agresif. Lebih lanjut Florensa mengatakan, salah satu terapi yang dapat diberikan pada lansia yang mengalami masalah harga diri rendah dan isolasi sosial adalah dengan pemberian terapi Reminiscence. Terapi ini dilakukan secara berkelompok. Dalam terapi ini, lansia distimulasi untuk mengenang kembali pengalaman yang menyenangkan dan keberhasilan yang pernah diraih selama hidupnya. Lansia juga diajak untuk memaknai pengalaman hidupnya agar mampu meningkatkan harga diri. Dengan terapi secara berkelompok, lansia juga dapat menjalin komunikasi dengan lansia lainnya.

Setelah menyelesaikan tugas belajarnya, Florensa berupaya mengamalkan pengetahuan yang didapatnya untuk membantu masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan terutama kesehatan jiwa. Selain mengajar, ia juga akan melakukan pengabdian masyarakat bersama perawat kesehatan jiwa lainnya dalam tim CMHN (Community Mental Health Nursing).

Saat ini, ilmu keperawatan telah mengalami kemajuan cukup pesat. Florensa berpesan kepada calon perawat dan perawat agar ke depannya dapat lebih banyak melakukan penelitian. Hal tersebut menurutnya penting karena penelitian akan membantu perkembangan ilmu keperawatan, misalnya dapat mempertanggungjawabkan aplikasi dari sebuah terapi berdasarkan evidence based. Ia juga berpesan kepada para perawat untuk tak pernah berhenti menumbuhkan rasa ingin tahu. “Selalu kembangkan rasa ingin tahu karena itu akan membuat kita terdorong untuk selalu belajar,” pungkasnya. (KHN)

 

~ dilihat : 339 kali ~