Linearitas Bidang Menghambat Pengangkatan Guru Besar

1

Bandung, UPI

Pemerintah Indonesia telah menentukan bahwa seorang akademisi atau peneliti yang ingin diangkat menjadi guru besar harus memiliki gelar sarjana dan pascasarjana dalam satu bidang yang linear. Asumsinya adalah bahwa linearitas mencerminkan kedalaman pengetahuan seseorang sehingga yang bersangkutan dengan guru besarnya dapat berkontribusi secara bertanggung jawab.

“Sekilas asumsi dari pemerintah tentang kebijakan tersebut tampak tidak sepenuhnya keliru, tetapi problematis,” ungkap Freddy K. Kalidjernih dalam Seminar Lintas Disiplin Program Studi Pendidikan Umum Sekolah Pascasarjana UPI, Sabtu (19/4/2014) di Auditorium SPs UPI, JLn. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung.

Dikatakan Freddy, bila pemerintah tidak secara serius mempertimbangkan perubahan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan pasar permintaan akan guru besar masa depan dalam menjawab kebutuhan masyarakat luas di era demokrasi, ketentuannya akan terlalu simplistik dan konterproduktif.

2“Walaupun UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2013 tidak memuat ikhwal linearitas, ktriteria atau ciri linear ini diasumsikan seakan-akan sudah jelas dan final”, tegas Freddy.

Menurut Freddy, dalam beberapa dasawarsa terakhir, produksi ilmu pengetahuan dicirikan oleh signifikansi lintas-disiplin dan munculnya hibridasi berbagai bidang studi baru. Dalam perkembangan ilmu terutama bidang sosial humaniora, gelar tidak selalu mencerminkan bidang pendidikan, penelitian dan kepakaran seseorang karena realitas lintas disiplin yang semakin mempengaruhi produksi ilmu pengetahuan baru. Hal ini sejalan dengan munculnya kebutuhan akan seorang sarjana yang memiliki kompetensi ilmiah yang lintas disiplin ilmu pengetahuan, sehingga seorang sarjana yang mumpuni semakin dipengaruhi oleh pengetahuannya yang lintas disiplin pula.

“Seorang sarjana ilmu sosial dan humaniora yang pantas diangkat menjadi guru besar tidak seharusnya dilihat dari satu aspek saja, yakni gelar yang linear yang dimilikinya atau progran studi linear yang ditempuhnya. Akan tetapi, gelar tertinggi dan kepakarannya”, kata Freddy.

Senada dengan Freddy kalijernih, Prof. Dasim Budimansyah, M.Si mengatakan bahawa beberapa tahun ini telah terjadi adanya semacam antagonisme kebijakan. Pemerintah mewacanakan program pendidikan karakter bangsa, akan tetapi dilain pihak semakin gencar pula kebijakan yang menegasinya. Menyiapkan kondisi yang kondusif bagi upaya pembangunan karakter bangsa yang ada malah membuatnya surut dan bahkan menyiptakan ketidaknyamanan bagi pihak yang bergerak di dalamnya.

“Para lulusan magister dan doktor Pendidikan Umum yang telah dibina dan ditempa untuk menjadi pionir dalam pembangunan karakter bangsa yang nota bene hingga saat ini hanya dihasilkan saat ini hanya dihasilkan di UPI memperoleh upper cut dari kebijakan Ditjen Dikti dan bahkan badan kepegawaian daerah”, terang Prof. Dasim.

Penolakan untuk menduduki jabatan guru besar bagi dosen pemegang gelar doktor pendidikan umum dan penolakan kenaikan pangkat bagi guru yang memegang gelar magister pendidikan umum merupakan hal yang sering terjadi saat ini.

3“Hal demikian itu bukti adanya antagionisme kebijakan pemerintah jika bukan dikatakan kebijakan linglung, karena orang yang sudah jelas memiliki kepakaran pada bidangnya divonis tidak berkelayakan atas nama linearitas. namun pemerintah tidak menyadari adanya ilmu yang lintas disiplin yang bermanfaat.”, tambah Prof. Dasim

Menurutnya sudah cukup jelaslah kiranya bagi kita semua bahwa kebijakan linearitas yang wujudnya seperti sekarang ini adalah kontra produktif dan oleh karenanya perlu segera diakhiri. Melalui seminar ini kami akan membahasi masalah yang kontradiktif, bahwa sekarang ini seolah-olah keilmuan yang linear saja yang harus eksis, tetapi ada bidang lain yang linear tetapi lintas disiplin.

Ia mengatakan, kehidupan yang terjadi di masyarakat modern ini menuntut adanya ilmu yang lintas disiplin atau disebut mode 2, seperti jika ada kasus kebakaran yang belum lama ini telah terjadi di daerah Riau, dalam memecahkan masalah tersebut dibutuhkan kerjasama lintas disiplin ilmu. (Deny)

~ dilihat : 469 kali ~