IBU: MENDIDIK DENGAN DIDIKAN YANG BAIK

Data BKKBN menunjukan pada tahun 2010 di jabodetabek, remaja yang hilang keperawanannya mencapai 51 %. Remaja yang kegadisannya sudah hilang di Surabaya 54 %, Medan 52 %, Bandung 47 %, Yogyakarta 37%. Tidak hanya itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia mendapatkan hasil yang mencengangkan setelah melakukan penelitian di 12 kota besar di Indonesia pada tahun 2007. 92 % pelajar pernag melakukan kissing, petting dan oral sex. 62 % pernah melakukan hubungan intim, 22,7 % siswi SMA melakukan abosrsi. Bayangkan itu terjadi baru tahun 2007? Bagaimana dengan hari ini? 2014? Begitu banyak pemberitaan-pemberitaan negatif tentang kehidupan terutama kehidupan remaja. Siapa yang salah? Pendidikannya? Keluarganya? Lingkungannya atau zaman kah yang patut disalahkan?

Dari data di atas begitu jelas terlihat begitu bobroknya moral bangsa. Lalu yang patut dipertanyakan, kemanakah para orang tua? Terutama peran-peran seorang perempuan yang katanya adalah seorang tonggak peradaban? Guru kehidupan? dan tulang punggung negara itu? Dimana mereka?

Anak adalah permata hati, buah hati, aset orang tua, dan tumpuan harapan masa depan keluarga bahkan masyarakat. Sering orang tua merasa bangga jika memiliki seorang anak berkualitas, karena hal itu mencerminkan keberhasilannya dalam mendidik. Tak jarang pula orang tua murung karena anak yang menjadi tumpaun harapannya ternyata mengecewakannya, tidak berprestasi bahkan gagal dalam hidupnya. Bahkan gagal dalam mengangkat derajat orang tuanya.

Maraknya arus sekularisme dalam berbagai bidang kehidupan saat ini memerlukan antisipasi dari semua pihak terutama keluarga. Lihat saja, atas nama kebebasan berekspresi dan berpendapat muncullah aneka rupa pemikiran bebas sebagaimana muncul pula pornoaksi dan pornografi atas nama seni. Muncul pula beraneka bentuk kebebasan dalam hal mode dengan pakaian yang serono, memakai baju tapi seperti telanjang, maraknya pergaulan bebas, pacaran yang bablas atas nama cinta.

Atas dasar inilah pentingnya pendidikan yang diterapkan dalam lingkungan keluarga. Peran keluarga ini tidak hanya sebagai monitor tetapi juga fasilitator bahkan konselor untuk anak. Lalu keluarga seperti apa yang mampu memberikan pendidikan secara optimal? Seperti kata pepatah bahwa proses pemberian nilai-nilai kepada generasi baru senantiasa memerlukan kesalehan pada pelakunya. Artinya, untuk melahirkan sebuah generasi yang unggul dan berkualitas memerlukan sosok ibu yang berkualitas pula. Para ibu inilah yang akan sanggup melakukan pewarisan-pewarisan nilai-nilai kebaikan secara generatif kepada anak-anaknya.

Hal ini tidak dinaksudkan untuk menapikan peran bapak bagi anak-anaknya. Perempuan yang baik adalah pasangan bagi laki-laki yang baik. Artinya perempuan yang baik adalah suatu tuntutan bagi lelaki agar menjadi seorang yang baik. Jadi sorang ibu yang baik akan kesulitan melakukan peran pembinaan generasi apabila tidak didukung oleh suami yang baik pula.

Penulis sendiri melihat, bahwa keberhasilan suatu keluarga serta terbentuknya seorang anak yang berkualitas ditentukan oleh siapa kedua orang tuanya. Tentu saja dibarengi dengan pendidikan dan didikan serta pewarisan nilai-nilai yang baik.

Lantas, bagaimana pendidikan itu dilangsungkan agar menghasilkan hasil yang optimal? Banyak hal yang yang dapat dilakukan oleh orang tua terutama ibu sebagai pembentukan peradaban di rumah.  Kenapa ibu? Karena ibu lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, lebih banyak berinteraksi dengan anak, bahkan sejak dalam kandungan. Bagaimana jika seorang ibu adalah seorang wanita karier? Sama saja, hendaknya lebih bisa menempatkan diri dan menjadikan keluarga sebagai prioritas utama.

Beberapa cara yang dapat dilakukan agar pendidikan yang dilangsungkan didalam keluarga optimal yaitu :

1. Pendidikan dengan keteladanan

Sebelum dengan pengarahan maka seorang anak akan belajar dari orang tuanya dengan cara melihat perbuatan yang dilakukan dan mendengar kata-kata yang diucapkan. Jika semenjak anak masih usia sangat dini dan hidupnya dikondisikan dalam asuhan orang tua yang baik dan perkataan yang benar, maka berarti dasar pendidikan telah diperancangkan secara baik oleh orang tuanya.

Dengan keteladaan itu anak akan terpacu dan terdorong semangatnya untuk meraih cita-cita, karena jelasnya target yang diimpikan sederhananya apa yang dicita-citakan oleh anak minimal adalah menjadi sosok seperti orang tuanya.

2. Pendidikan dengan pembiasaan

Karakter adalah suatu produk dari suatu proses. Salah satu proses tersebut adalah dengan pembiasaan. Misalnya seorang ibu melatih anaknya dermawan maka karakter tersebut akan terbentuk, seorang ibu melatih anaknya beribadah maka ia akan menjadi ahli ibadah di kemudian hari. Pun ketika sorang ibu melatih anaknya bersikap berani untuk hal yang positif maka ia akan menjadi pemberani memperjuangkan kebenaran di kemudian hari.

 3. Pendidikan dengan perhatian

Perhatian adalah kebutuhan setiap orang. Baik itu orang dewasa terlebih adalah seorang anak. Seorang ibu yang kurang perhatian kepada anak-anaknya maka semua proses komunikasi tidak berjalan dengan lancar dan pendidikan akan terhambat. Bentuk perhatian tesebut dengan keterlibatan perasaan atas apa yang dirasakan anak, kemudian bersama-sama mencari jalan keluar terbaik bagi persoalannya.

4. Pendidikan dengan hadiah dan hukuman

Dalam mencapai pendidikan yang optimal maka diperlukanlah suatu motivasi untuk mendorong anak melakukan pekerjaan tertentu salah satunya dengan memberikan hadiah. Pun jika anak bersalah sebagai efek jera agar anak belajar menjadi lebih baik yaitu dengan adanya hukuman.

 5. Pendidikan dengan doa

Tahap terakhir yaitu dengan diterapkannya pendidikan doa. Manusia punya banyak keterbatasan oleh karena itu maka doa ini adalah penting, selain sebagai motivasi juga sebagai  penentram hati.

Dari 5 langkah di atas, dapat terlihat bahwa begitu pentingnya peranan keluarga dalam penerapan pendidikan dan pewarisan nilai-nilai. Jika kelima hal tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, maka tidak akan adalagi data-data mengenai kenalan yang ada bahkan yang ada hanyalah data-data prestasi anak dan remaja-remaja Indonesia. Remaja-remaja yang berkualitas dan unggul (Siti Maya Rahmawati, penulis adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS UPI).