Gastronomi Tradisional Jawa Barat Patut Diinovasi agar Unggul di Dunia

Dewi Turgarini Receiving Speaker Sertificate at Global Tourism and Hospitality Conference 2014 in Hongkong

Hongkong, UPI

Hotel ICON di Hongkong pada 18-20 Mei 2014 dipadati oleh hadirnya para akademisi, pemerintah dan juga industri dari 28 negara yaitu negara Indonesia, Amerika Serikat, Australia, Cina, Hongkong, Selandia Baru, Belanda, Macau, Inggris, Kazakhstan, Malta, Kenya, Austria, Turki, Taiwan, Korea, Saudi Arabia, Portugal, Philipina, Malaysia, Thailand, Zambia, Oman, Mauritius, Israel, Swiss, Jepang, Singapura, Perancis. Mereka antusias menghadiri Konferensi Pariwisata dan Perhotelan,” serta “Forum Pariwisata Asia” dengan tema “Memetakan Jalur Baru Melalui Inovasi di Bidang Pariwisata dan Perhotelan.”

Semua peserta mancanegara yang hadir memiliki motivasi yang sama untuk mengeksplorasi banyak peluang yang muncul dan tantangan potensial muncul dari pesatnya pertumbuhan pariwisata di dunia terutama di negara masing-masing di benua Asia dengan wawasan yang inovatif ke dalam perhotelan global dan industri pariwisata.

Kegiatan ini pun dihadiri para akademisi dari negara Indonesia yang mengirimkan tujuh orang akademisi dari Universitas Pendidikan Indonesia (Program Studi Manajemen Industri Katering dan Program Studi Manajemen Resort dan Leisure).  Para akademisi tersebut  mempresentasikan penelitiannya yang diharapkan memberikan kontribusi yang inovatif dari penelitian dan pendidikan yang dilakukan di bidang ini dihadapan para peserta dari mancanegara tersebut.

Dewi Turgarini  salah seorang dosen Program Studi Manajemen Industri Katering UPI, mempresentasikan hasil penelitian yang dilakukan bersama Dr. Suwatno dan Caria Ningsih dengan tema  “Inventori Gastronomi Unggulan di Jawa Barat sebagai Data Pariwisata.” Ia menyampaikan pertama kali publik harus paham definisi gastronomi sebagai suatu ilmu dan seni Gastronomi yang meliputi persiapan, presentasi dan kecanggihan artistik untuk menghargai keseimbangan keunggulan estetika dengan kualitas makanan serta kekayaan pengetahuan yang berkaitan dengan budaya yang berfokus pada kualitas prima masakan (gourmet).  Sedangkan definisi kuliner hanya terkait dengan hal yang terkait dengan atau digunakan dalam memasak (The Free Dictionary).  Jelas bahwa definisi wisata kuliner saat ini belum tepat, karena definisi yang tepat adalah pariwisata gastronomi.

Definisi pariwisata gastronomi  menurut  Hall & Sharples pada tahun 2003 adalah suatu tujuan untuk rekreasi atau hiburan, dimana diperoleh pengalaman selama kunjungan ke produsen makanan (primer dan sekunder), festival gastronomi, pameran makanan, peristiwa, pasar petani, acara memasak dan demonstrasi, produk makanan mencicipi kualitas, atau kegiatan wisata yang berhubungan dengan makanan. Hal ini pun di amini dalam literatur yang dipaparkan oleh Quan dan Wang pada tahun 2004, dimana terdapat lebih dari sepertiga dari pengeluaran wisatawan dikhususkan untuk makanan. Oleh karena itu, masakan menjadi  tujuan berwisata merupakan aspek yang sangat penting dalam kualitas pengalaman liburan.

Inilah Gastronomi Unggulan di Propinsi Jawa Barat

Apa yang dilakukan penulis dan rekan-rekannya adalah melakukan penelitian yang paling mendasar dengan menyediakan database untuk pariwisata gastronomi di Jawa Barat. Penelitian yang melibatkan masyarakat, ICA BPD Jabar, PHRI, AKAR, guru-guru SMK, perguruan tinggi, IPC, Dinas Pariwisata Propinsi Jawa Barat dan stakeholder lainnya.  Penelitian ini menggunakan model desain inventori berdasarkan konsep Prof. Koentjaraningraat yang terdiri dari tujuh unsur kebudayaan universal, kemudian dijabarkan ke dalam sub-sub-elemen yang meliputi 1) Sifat khas, kualitas tinggi dan identitas; 2) Kuat dalam basis sumber daya manusia, masyarakat dan lembaga; 3) Etos kreatif dan difusi kreativitas; 4) Nilai tambah dalam perekonomian, teknologi dan budaya; (5) Terbuka pada adaptasi lokal, masyarakat nasional dan internasional, dan mendapatkan apresiasi.  Serta memastikan bahwa gastronomi Jawa Barat memenuhi 18 indikator diantaranya adalah menu, identitas, bentuk, unik, keunggulan, waktu dan era, jenis keunggulan, kondisi sekarang, komunitas pendukung, upaya konservasi, potensi/tantangan/peluang menuju industri kreatif, terbuka untuk nilai tambah, mengandung kearifan lokal, foto, serta memiliki      narasi tentang bentuk, fungsi dan maknanya.

Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh gastronomi unggulan propinsi Jawa Barat yaitu 16 menu utama (Menu Utama terdapat 16 menu, meliputi: Ayam Goreng Laja, Ayam Bakakak, Ikan Mas Cobek, Docang, Gepuk, Gurame Goreng, Kupat Tahu Singaparna, Nasi Lengko, Nasi Liwet Sunda, Nasi Jamblang, Pepes Ikan Peda Merah, Pepes Daging Ayam, Pepes Ikan Mas Majalaya, Pesmol Ikan Nila, Sate Maranggi Purwakarta, Ungkep Kambing). Menu Masakan Sayur Mayur terdapat 8 menu (Asinan Bogor, Karedok, Lotek, Pencok Kacang Panjang, Rujak Bebek, Rujak Ciherang, Tumis Genjer, dan Ulukutek). Menu Berkuah atau Sup terdapat 9 menu (Sayur Kacang Merah, Sayur Asam, Soto Bandung, Sayur Lodeh Priangan, Soto Sukaraja Tasikmalaya, Soto Mie Bogor, Soto Sadang, Empal Gentong, dan Mie Kocok Bandung). Makanan Ringan terdapat 24 macam (Ali Agrem, Banros, Borondong, Burayot, Colenak, Combro, Dodol Kacang Merah, Dorokdok, Jalabria, Kasreng Kacang Hejo, Kicimpring, Kolak Ubi Pisang, Kue Balok, Ladu, Manisan Cianjur, Misro, Opak, Peuyeum Ketan Hitam dan Ketan Putih, Rangginang, Simping Purwakarta, Surabi, Tahu Sumedang, danWajit Cililin. Sambal terdapat 4 jenis (Sambel Goang, Sambel Terasi, Sambel Oncom, dan Sambel Hejo). Minuman terdapat 5 macam (Bandrek, Bajigur, Es Cingcau Hejo, Goyobod, Lahang).Dewi Turgarini presenting her paper at Global Tourism and Hospitality Conference Hongkong 2014

Tentu saja informasi mendasar yang diperoleh selama 6 bulan penelitian secara mendalam ini patut mendapat perhatian yang serius dari seluruh masyarakat Jawa Barat untuk dilakukan strategi kebijakan di bidang pariwisata gastronomi Jawa Barat.  Melalui pariwisata gastronomi maka aktifitas pariwisata dapat dilakukan secara berkelanjutan dan berdaya saing, serta dapat mengurangi dampak negatif karena semua berdasarkan bahan baku dan memiliki kearifan lokal namun tentunya patut memperhatikan inovasi di industri ini.

Begini Cara Agar Pariwisata Gastronomi di Jawa Barat Berdaya Saing dan Berkelanjutan

Sebagai urun pemikiran secara akademik penulis menawarkan masyarakat Jawa Barat perlu menaruh perhatian khusus bila ingin pariwisata di propinsi ini berkembang secara optimal maka perlu memahami kunci sukses pengembangan pariwisata gastronomi. Pertama seluruh stakeholder menyadari bahwa gastronomi adalah pasar yang berkembang. Apalagi pertumbuhan pariwisata pangan di seluruh dunia telah menjadi fakta yang jelas, dan merupakan salah satu segmen yang paling dinamis dalam pasar pariwisata.

Kedua seluruh stakeholder di Jawa Barat perlu memahami jenis makanan yang disukai wisatawan. Para wisatawan saat ini menampilkan tren baru dalam mengkonsumsi budaya, mencari keaslian tempat yang dikunjungi melalui makanan. Saat ini mereka memperhatikan asal-usul produk makanan, dan mengakui nilai keahlian memasak sebagai sarana bersosialisasi, sebagai ruang untuk berbagi hidup dengan orang lain, serta untuk bertukar pengalaman. Wisatawan tersebut memiliki pengeluaran yang lebih tinggi daripada rata-rata,  menuntut dan menghargai, dan menjauhkan diri dari keseragaman. Oleh karena itu, keahlian memasak harus memiliki kepribadian, karena jika tidak maka akan menjadi rentan terhadap nilai kelokalan.

Ketiga wilayah di Jawa Barat adalah tulang punggung pariwisata gastronomi karena merupakan elemen yang membedakan, dan merupakan identitas lokal sumber. Ini mencakup nilai-nilai lingkungan dan lansekap, sejarah, budaya, tradisi, pedesaan, laut, masakan langsung di tempat. Dalam hal ini, maka konversi wilayah kota ini menjadi lanskap kuliner merupakan salah satu tantangannya untuk destinasi pariwisata.

Keempat produk makanan ini adalah dasar dari pariwisata gastronomi, oleh karena itu penting untuk menentukan apa sumber daya dan sumber daya alam warisan di Jawa Barat ini yang akan diubah menjadi produk-produk pariwisata gastronomi yang memungkinkan untuk diidentifikasi di wilayah ini.

Kelima perlunya pemahaman bahwa Warisan Budaya di Jawa Barat , sebagai himpunan dari perilaku, pengetahuan dan adat istiadat yang membentuk masyarakat sebagai karakteristik budaya gastronomi di wilayah ini. Gastronomi memungkinkan wisatawan memiliki motivasi untuk mengakses warisan budaya dan sejarah melalui mencicipi, mengalami dan membeli. Tradisi gastronomi di propinsi ini  berada dalam proses evolusi yang berkelanjutan, tentunya menantang bagi para gastronomis untuk menggabungkan inovasi untuk memperbaharui dan menyesuaikan penawaran mereka dengan kebutuhan konsumen pariwisata gastronomi dengan kebudaya baru.

Kelima adanya prinsip keberlanjutan dalam pariwisata gastronomi di Jawa Barat untuk mampu menangani masalah budaya, dan lingkungan dengan cara yang kompatibel dengan pengembangan ekonomi murni.  Tujuannya adalah berupaya menarik pengunjung untuk berpartisipasi dalam realitas budaya gastronomi sendiri sebagai tujuannya, yang dijelaskan dengan baik dan ditafsirkan, melalui masakan, produk lokal dan semua layanan dan kegiatan yang mengelilingi mereka.West Java Gastronomi

Keenam daerah tujuan wisata di Jawa Barat ini perlu memperhatikan kualitas saat promosi pariwisata gastronominya, seperti melakukanperlindungan dan pengakuan dari produk lokal, pengembangan penawaran yang kompetitif, profesionalisme sumber daya manusia di seluruh rantai nilai pariwisata gastronomi melalui pelatihan dan pelatihan ulang, dan melakukan perlindungan konsumen, dan saat melakukan penerimaan kunjungan dapat meningkatkan kepuasan pengunjung.

Ketujuh Jawa Barat sebagai daerah tujuan wisata harus mampu bekerjasama dalam mengartikulasikan narasi yang kredibel dan otentik dari penawaran pariwisata gastronominya. Karena pengalaman perjalanan dimulai sejak persiapan (proses turis terinspirasi, mengumpulkan informasi, membandingkn , hingga melakukan pembelian), dan pengalaman berakhir setelah  wisatawan tersebut melakukan kajian pengalaman melakukan pariwisata gastronomi melalui jaringan sosial. Elemen kunci dalam proses ini adalah adanya koki hebat yang memicu revolusi di segmen masakan high-end sebagai elemen revitalisasi untuk pariwisata, media (khususnya televisi ), pemandu wisata, blog makanan dan jaringan sosial dalam membangun citra dari tujuan wisata ini. Dan tujuan wisata gastronomi harus ada di semua saluran dan semua bagian dari proses ini, karena diperlukan bagi para pelaku yang beroperasi di obyek wisata gastronomi (produsen, petani , peternak, nelayan, koki, pemilik restoran, administrasi publik, pelaku bisnis perhotelan, dan lainnya) untuk terlibat dalam pengelolaan dalam menawarkan produk pariwisata gastronomi.

Lalu dimanakah peran kita dalam mengembangkan pariwisata gastronomi di Jawa Barat? “Sesuaikan dengan posisi dan kondisi kita dalam berkontribusi di bidang ini.  Jangan lupa pewarisan budaya gastronomi dimulai pula keluarga yang kemudian ditransfer ke komunitas, multikultur dan bahkan ke mancanegara. Jangan sia-siakan aset budaya kita sebagai wahana pelestarian antar generasi, dan karena makanan atau minuman tradisional yang anda rasa sederhana  ini pun dapat menjadi sumber profit bila diinovasi kemasannya.  Apalagi bidang ini dapat memberdayakan SDM dan SDA di Propinsi Jawa Barat sehingga meminimalisir dampak negatif pariwisata.” (Dewi Turgarini, Dosen Program Studi Manajemen Industri Katering dan aktif di berbagai organisasi Akademi Gastronomi Indonesia, ICA BPD Jawa Barat, dan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia.  Saat ini sedang mengambil Program Doktor Bidang Kajian Pariwisata di Universitas Gadjah Mada).

~ dilihat : 392 kali ~