Cegah Anak Putus Sekolah karena Bekerja

2

Bandung, UPI

Unit Pelaksana Teknis Lembaga Bimbingan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia bekerja sama dengan International Labour Organization (ILO) Jakarta menyelenggarakan acara Seminar dan Workshop Penguatan Keterampilan Personal dan Sosial, Senin 28 April 2014 di Hotel Isola Resort, Kampus UPI Jl. Dr. Seteiabudhi No. 229 Bandung.

Seminar yang membahas mengenai pencegahan pekerja anak sekolah ini dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kemahasiswaan, Kemitraan dan Usaha UPI Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum ini menghadirkan pembicara dari Direktur PSMP Kemendikbud; Dinas Pendidikan Pemprov Jawa Barat; Dinas Tenaga kerja dan Transportasi Pemprov Jawa Barat; dan Tim Peneliti UPI.

Menurut Prof. Dadang Sunendar, M.Hum dalam sambutannnya mengatakan bahwa angka anak putus sekolah antara SMP hingga perguruan tinggi di Jawa Barat bahkan nasional masing tinggi. Oleh karena itu, diperlukan sebuah penelitian yang mendalam untuk mengetahui penyebab dari putus sekolah, tetapi hal itu tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja melainkan perlu kerjasama antara lembaga yang terkait dengan pihak perguruan tinggi, sehingga hasilnya akan maksimal.

“UPI yang mempunyai program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat siap membantu pemerintah atau lembaga untuk bersama-sama melakukan penelitian tersebut. Dan UPI sebagai universitas yang mencetak guru profesional tentu akan mampu untuk menanggulangi anak yang putus sekolah”, kata Prof. Dadang.

UPI yang lebih fokus kepada guru , saat ini sedang melaksanakan program PPG, diharapkan dengan adanya PPG ini dapat membantu penyelesaian masalah anak putus sekolah di daerah yang rawan hal tersebut, tambahnya.

1Senada dengan Prof. Dadang Sunendar, menurut ketua pelaksana seminar yang juga sekaligus tim peneliti UPI, Dr. Anne Harfina, M.Pd., mengatakan masih banyaknya ditemukan pekerja anak-anak usia sekolah, sehingga mereka lebih memilih bekerja daripada sekolah.

“Upaya pencegahan yang dilakukan oleh ILO IPEC di Kabupaten Sukabumi contohnya, sudah dilakukan sejak tahun 2009 melalui program Pravokasional, Program Bridging Course dan Pendidikan Inklunsif”, ungkap Anne.

Di tahun 2012 juga telah dilakukan program pengembangan kecakapan personal dan sosial, dan pemantauan berbasis sekolah, hasilnya terbukti efektif secara empirik, tandas Anne.

Namun menurutnya masih diperlukan adanya revitalisasi dan pengembangan kapasitas pada beberapa komponen program pada program tersebut. (Deny)

~ dilihat : 404 kali ~