Alia Nessa Utami Raih Prestasi Di Belgia

10506939_808210792535310_1272148624658326095_oSatu prestasi lagi datang dari Alia Nessa Utami, mahasiswi regular FKUI angkatan 2009. Ia berhasil menjadi Top Three Best Posterwalk Presentation pada ajang Antwerp Medical Students’ Congress (AMSC) 2014 yang diselenggarakan pada 11-13 September 2014 lalu di University of Antwerp, Belgia.

Dalam perbincangannya dengan Humas FKUI pada Selasa (7/10) lalu, Nessa bercerita tentang pengalamannya mengikuti konferensi ilmiah internasional ini. Bagi Nessa, kesempatan tersebut adalah pengalaman akademis yang sungguh membanggakan. Terlebih, ia dan rekan-rekannya berkesempatan untuk mewakili Indonesia sebagai satu-satunya Negara ASEAN yang mengikuti konferensi ilmiah ini.

Sama seperti konferensi ilmiah lainnya, AMSC menyeleksi abstrak para peserta yang datang dari 20 negara di dunia. Pada tahap seleksi ini, berhasil terpilih tiga abstrak dari FKUI. Ketiga abstrak tersebut adalah milik Alia Nessa Utami dan Oviliani Wijayanti ; Nur Atikah beserta Sheli Azalea dan Afifah Putri Handayani ;  dan Erwin Ardian Noor bersama Imam Tongku Padesma, Ali Haidar Syaifullahdan Karina Kalani Firdaus. Pada ajang ini FKUI merupakan satu-satunya wakil dari Indonesia yang mengikuti AMSC.

Proses seleksi berikutnya tidaklah terlalu panjang. Dari ratusan abstrak yang terpilih, AMSC memilih 3 abstrak terbaik untuk masuk ke seleksi oral presentation session, dan sekitar 40 abstrak untuk dilombakan di posterwalk presentation session. Sesi posterwalk presentation terbagi dalam dua kategori yaitu case report dan clinical/fundamental study. Pada sesi tersebut Nessa tergabung dalam kategori clinical/fundamental study dan memaparkan presentasi poster penelitiannya yang berjudul“The Effect of Health Education on Students’ Knowledge about Ascariasis in X Elementary School, Bantar Gebang, Indonesia”.

Riset Nessa ini bercerita mengenai cacing parasit dari jenis Ascaris Lumbricoides. Cacing ini merupakan penyebab dari berbagai masalah kesehatan terutama bagi anak-anak. Salah satunya yaitu dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan yang dapat menyebabkan malabsorpsi nutrisi yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Pengobatan yang dapat dilakukan yaitu dengan memberi obat cacing kepada penderita.

Daerah Bantar Gebang merupakan sebuah daerah di Jawa Barat yang memiliki tingkat kebersihan jauh dibawah rata-rata. Iklim yang basah dikombinasikan dengan lingkungan tidak sehat menyebabkan risiko persebaran ascaris menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu, sangat penting bagi anak-anak di sana untuk mengetahui morfologi, siklus hidup, dan gejala infeksi dari Ascaris lumbricoides ini untuk membatasi infeksi. Kegiatan edukasi melalui penyuluhan dirasa menjadi penting untuk meningkatkan pengetahuan anak-anak tersebut.

Sebelum dilakukan penyuluhan, Nessa dan kawan-kawan melakukan pemeriksaan infeksi cacing dan pengisian kuesioner awal terlebih dahulu. Dari sekitar 60 sampel, tercatat hampir seluruhnya terinfeksi ascaris dan tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang ascaris. Kegiatan penyuluhan pun dilakukan untuk membuka wawasan anak-anak di sana mengenai ascariasis dan gejala yang ditimbulkan.

Hasilnya sungguh baik, terdapat perbedaan yang signifikan dari sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan. Pengetahuan mereka meningkat hingga mencapai angka lebih dari 60%. Tentunya, hasil ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi anak-anak di daerah tersebut untuk mulai peduli dengan kesehatannya terutama yang berhubungan dengan infeksi ascaris.

Antwerp Medical Students’ Congress

AMSC diselenggarakan oleh European Medical Students’ Association (EMSA) dan Annual Antwerp Medical Days. Pada tahun ini AMSC sudah mencapai penyelenggaraan yang ke 8. Tema yang dipilih untuk tahun ini yaitu mengenai Gastroenterology. Namun pada penyelenggaraannya, abstrak yang dikirimkan memungkinkan datang dari berbagai tema multidisiplin.

Bersaing dengan berbagai Negara Eropa lainnya, tak membuat nyali Nessa ciut. Dengan percaya diri tinggi, Nessa mempresentasikan abstraknya di hadapan para juri. Tidak heran jika akhirnya Nessa mendapat predikat sebagai Top Three Best Posterwalk Presentation dalam kategori clinical/fundamental study ini.

Hasil riset yang baik ini tak luput dari kesabaran Prof. dr. Saleha Sungkar, DAP&E, MS dalam membimbing Nessa melakukan penelitian, berbagai masukan mengenai validitas hasil dan etika penelitian dijunjung tinggi oleh Nessa. Prof. Saleha juga yang kemudian terus menyemangati Nessa untuk mempublikasikan karya ini di level internasional.

Di akhir perbincangan, Nessa berbagi tips bagi teman-teman yang berminat untuk  mengikuti kompetisi ilmiah internasional. Kunci utama adalah rasa percaya diri, terutama saat melakukan presentasi di hadapan juri. Kemudian jangan lupa untuk selalu meningkatan kemampuan bahasa Inggris. Sebelum bertolak ke ajang perlombaan, carilah info sebanyak mungkin mengenai lomba tersebut. Pelajari model kompetisi dan peraturannya secara umum.

Terakhir, yang tak kalah penting yaitu berlatih. Berlatih presentasi di hadapan orang banyak secara tidak langsung akan memupuk rasa kepercayaan diri. Selebihnya tetap semangat dan tak putus berdoa.  Nessa juga berharap adanya dukungan moril dan materil bagi setiap civitas akademika yang akan berjuang pada ajang konferensi internasional berikutnya.

Alia Nessa Utami adalah salah satu contoh anak muda yang dapat menjadi panutan saat ini. Ia membuktikan sekali lagi bahwa mahasiswa FKUI mampu bersaing di kompetisi ilmiah internasional. Kerja keras, keyakinan dan ketekunannya yang tinggi dapat menjadi motivasi bagi para mahasiswa lainnya di Indonesia(Mel/Die/Humas FKUI)

~ dilihat : 289 kali ~