Pembelajaran Kolaboratif dan Kooperatif (3)

Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif

Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para ahli maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli Student Team Learning pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu:

  1. Learning Together. Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
  2. Teams-Games-Tournament (TGT). Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
  3. Group Investigation (GI). Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
  4. Academic-Constructive Controversy (AC). Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
  5. Jigsaw Proscedure (JP). Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
  6. Student Team Achievement Divisions (STAD). Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
  7. Complex Instruction (CI). Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
  8. Team Accelerated Instruction (TAI). Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/ kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.
  9. Cooperative Learning Stuctures (CLS). Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa (berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran.
  10. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Model pembelajaran ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, model pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.

Penyebutan dan penjelasan singkat tentang macam-macam pembelajaran tersebut diurutkan berdasarkan saat pelaksanaan penelitian awalnya oleh para ahli sebagaimana tampak pada Tabel Modern Methods of Cooperative Learning (Johnson et.al.:2000).

Seberapa banyak pun macam metode pembelajaran kooperatif/ kolaboratif yang pernah dikembangkan para ahli, Slavin (1995:12) merinci enam karakteristik dasar masing-masing, yaitu: (1) tujuan kelompok (group goals); (2) tanggung jawab individual (individual accountability); (3) kesempatan yang sama untuk menapai keberhasilan (equal opportunities for success); (4) kompetisi antarkelompok (team competition); (5) pengkhususan tugas (task specialization); dan (6) adaptasi terhadap kebutuhan-kebutuhan individu (adaptation to individual needs).

Modern Methods Of Cooperative Learning

Researcher-Developer Date Method
Johnson & Johnson Mid 1960s Learning Together & Alone
DeVries & Edwards

Early 1970s

Teams-Games-Tournaments (TGT)
Sharan & Sharan Mid 1970s Group Investigation
Johnson & Johnson Mid 1970s Constructive Controversy
Aronson & Associates Late 1970s Jigsaw Procedure
Slavin & Associates Late 1970s Student Teams Achievement Divisions (STAD)
Cohen Early 1980s Complex Instruction
Slavin & Associates Early 1980s Team Accelerated Instruction (TAI)
Kagan Mid 1980s Cooperative Learning Structures
Stevens, Slavin, & Associates Late 1980s Cooperative Integrated Reading & Composition (CIRC)

Pemanfaatan Komputer dalam Pembelajaran

Pembelajaran dengan bantuan komputer atau Computer Assisted Instruction (CAI) adalah pengajaran yang menggunakan komputer sebagai alat bantu. Kemajuan teknologi komputer (informatika) bahkan memungkinkan komputer berperan komplementer dengan dan sebagai instruktur dengan kemampuan, antara lain seperti yang dirinci Nasution (2000, 60-61) sebagai berikut:

  • menyimpan bahan pelajaran yang dapat dimanfaatkan kapan saja diperlukan;
  • memberikan informasi tentang berbagai referensi dan sumber-sumber serta alat audio-visual yang tersedia;
  • memberikan informasi tentang ruangan belajar, murid-murid dan tenaga pengajar;
  • memberikan informasi tentang hasil belajar murid; dan
  • menyarankan kegiatan-kegiatan belajar yang diperlukan oleh seorang murid serta menilai kembali pekerjaan murid pada waktunya serta memberi tugas-tugas baru untuk dikerjakan selanjutnya.

Dengan singkat dapat dipahami bahwa komputer telah membuka berbagai kemungkinan yang dapat dimanfaatkan guna pendidikan.

Pemanfaatan Internet dalam Metode Pembelajaran Kolaboratif

Pengalaman yang dilaporkan Annete de Jager dalam The Use of Internet: An Alternative Learning Experience oleh peneliti digunakan sebagai acuan untuk mendukung pembelajaran kolaboratif yang ditelitinya. Secara umum diakui bahwa internet telah menyediakan diri sebagai referensi yang murah-meriah bagi mereka yang hendak mengubah wajah dunia.

Percepatan perkembangan dunia ternyata juga telah menuntut pengembangan berbagai alternatif perspektif pembelajaran. Pemikiran tentang strategi baru dalam pembelajaran dikemukakan oleh Azimov (1996): “I do not fear computers. I fear the lack of them.” dan Papert (1992): “… the competitive ability is the ability to learn … new ways of thinking.”

Dipandang dari segi bisnis, sekolah adalah lembaga yang menawarkan pendidikan. Salah satu produk pendidikan adalah pengetahuan: pengetahuan tentang diri sendiri, dunia, lingkungan, dan sebagainya. Robinson (1994:106) melaporkan bahwa perkembangan pengetahuan terjadi secara eksponensial setiap dua setengah tahun. Tetapi hingga kini kiranya belum pernah ada upaya membandingkan waktu antara suatu informasi dapat dipublikasikan pada internet dengan waktu yang dibutuhkan untuk menerbitkan buku-buku dan menjajakannya di toko-toko.

Pada kenyataannya perkembangan teknologi informatika yang sedemikian pesat telah membuktikan bahwa internet telah bersicepat dengan sumber-sumber informasi lain dalam penyampaian informasi terbaru. Masa depan adalah milik mereka yang memiliki akses hampir ke seluruh informasi tanpa batas itu dan mereka yang mampu menjadikan informasi diterima secepat mungkin.

Isu-isu utama yang dimuat dalam White Paper (1995) mencakup: pendidikan berkualitas tinggi, integrasi teknologi, pembelajaran seumur hidup, komunikasi, keterampilan berpikir kritis dan mandiri, calon-calon yang dipersiapkan dengan baik untuk memasuki pendidikan tinggi dan pembinaan karir.

Sementara itu Wheatly (1991:15) dan Merrill (1992:11) menyimpulkan bahwa mayoritas siswa menganggap matapelajaran berhubungan dengan problematika dari:

  • sesuatu yang oleh para guru disampaikan begitu saja tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyusunnya sendiri;
  • sesuatu yang harus dapat dijawab segera;
  • sesuatu yang tidak akan terpecahkan jika siswa tak menemukan jawabannya dalam waktu lima menit;
  • sesuatu yang jika sudah dikuasai akan memberikan nilai A.

Untuk mencapainya, para guru pada umumnya menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang berpola Stimulus-Response dan penilaian dilakukan dalam masa belajar tertentu dari tujuan-tujuan akhir pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya beserta dan di dalam kurikulum yang seragam.

Berdasarkan alasan penyebaran pengetahuan, isu-isu dalam White Paper dan kebutuhan-kebutuhan siswa, jelaslah bahwa:

  • Kualitas pendidikan menuntut adanya suatu alternatif strategi pembelajaran yang baru;
  • Peranan guru sebagai sumber informasi harus diubah menjadi fasilitator pembelajaran (Carey 1993:107);
  • Peranan siswa sebagai peserta pasif harus diubah menjadi peserta yang aktif terlibat dalam upaya kolektif mengatasi masalah (Jonassen:1996).

Teknologi komputer dan pendekatan kognitif-konstruktivistik dalam pembelajaran membuka peluang emas untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan itu (Bruder, 1992:18; Papert, 1992: 168). Hal senada diungkapkan oleh Purbo et.al. (2002) sebagai berikut: “Konsep Knowledge Management belajar mandiri yang berbasis pada kreativitas siswa dan mendorong siswa melakukan analisa hingga sintesa pengetahuan menghasilkan tulisan, informasi dan pengetahuan sendiri menjadi fokus yang lebih mengarah ke masa depan. Siswa tidak lagi dibombardir dengan doktrin ilmu pengetahuan, tetapi lebih dirangsang untuk mengeksplorasi pengetahuan dan menjadi bagian integral proses pemurnian pengetahuan itu sendiri.”

Tahap-tahap Rancangan Kognitif-Konstruktivistik dan Komunikasi Elektronik

Perangkat lunak komputer dapat dibedakan menjadi dua, yakni perangkat lunak single dan perangkat lunak multipurpose. Yang pertama mengarah pada drill, tutorial, simulasi, permainan dan referensi, sementara yang kedua memasukkan pula pengolahkata, lembar kerja, pangkalan data, presentasi dan komunikasi elektronik.

Komunikasi elektronik cocok dengan pembelajaran kognitif-konstruktivistik dan memberikan kesempatan kepada partisipan aktif untuk belajar melalui aneka sudut pandang dan untuk menjadi pengolah informasi ke dalam susunan jaringan semantik pengetahuan yang terhubung dengan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya. Hal ini diyakini akan dapat mengubah situasi pembelajaran konvensional yang masih diselenggarakan sekarang seperti dikatakan oleh Kort (1996): “…the biggest failure of our system of education is the manner in which learning has been transformed from a joyous experience into one of boredom and anxiety.” Kendati demikian perlu pula diwaspadai peringatan Maddux (1994:40) bahwa: “… the Internet will likely remain a huge, unwieldly collection of resources that is not completely understood by anyone.”

Lebih jauh, komunikasi elektronik memberikan akses ke informasi dan komunikasi yang nyaris tak terbatas. Menurut de Jager, prinsip ini mengarah pada metodologi rancangan empat tahap pembelajaran kognitif-konstruktivistik: persiapan, penyusunan gugus belajar, kesempatan belajar dan pelengkapannya.

Tahap persiapan

  • Analisis terhadap perangkat keras dan perangkat lunak
  • Analisis terhadap para siswa, apakah mereka cukup memahami cara menggunakan komputer dan perangkat lunaknya
  • Pokok bahasan dalam kurikulum yang sesuai
  • Pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya.

Tahap penyusunan gugus belajar

Guru menyusun gugus belajar ke dalam waktu yang sesuai dengan problem otentik. Pebelajar menyusun tujuan-tujuan mereka sendiri dan pertanyaan-pertanyaan untuk memecahkan permasalahan.

Kesempatan belajar

Siswa memiliki akses ke teknologi komputer dari tempat terpisah. Mereka memiliki kesempatan berkomunikasi lewat e-mail dengan pribadi-pribadi lain atau kelompok layanan terdaftar, menjelajahi World Wide Web (WWW) dan menggunakan referensi-referensi lain yang tersedia. Melalui e-mail, setiap kelompok melaporkan kepada guru perkembangan aktivitasnya, atau menanyakan hal-hal tertentu dan mendiskusikan berbagai problem keseharian.

Pelengkapan

Pada akhir kesempatan belajar, para siswa memiliki portofolio yang lengkap dari pemecahan masalah mereka sendiri sebaik yang terdapat pada referensi, misalnya surat-surat (e-mail), hasil yang terdapat pada WWW, dan sebagainya.

Penilaian

Penilaian berasal dari berbagai sudut pandang: guru-guru, teman-teman sekolah, orangtua, dan sebagainya.

sumber: ruhcitra .wordpress .com

~ dilihat : 5 kali ~