Yang Tidak Biasa, Ternyata Masih Ada

Ence-2

Oleh ENCE SURAHMAN, S.Pd.

(Alumni Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan)

SELEPAS saya menyampaikan materi dihadapan ratusan peserta training motivasi yang bertema raih prestasi, gapai mimpi menjadi generasi Rabbani yang diselenggarakan oleh Panitia Kegiatan The 4th Great Moment Lembaga Dakwah Kampus Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Daerah Serang, Ahad, 21 April 2013. Saya  beberapa kali diminta oleh para peserta untuk foto bersama.

Di sela-sela foto bersama tiba-tiba ada seorang peserta akhwat (perempuan) mendekati dan memohon ijin untuk bertanya “Kang, maaf boleh nanya?” tanyanya. Saya jawab “Silakan, barangkali bisa akang jawab”. Beliau melanjutkan pertanyaannya “Saya sedang bingun sekaligus ragu, sejujurnya saya sudah mengajukan diri saya untuk mendaftar sebagai calon penerima beasiswa bidik misi, tapi saya pernah mendengar kisah bahwa ternyata dulu dijaman khalifah Ali R.A pernah ada seorang sohabiyah (sahabat dari kalangan muslimah) yang pernah diberi sejumlah hadiah semacam bantuan dari Ali R.A namun ia menolaknya hingga Ali memaksanya agar sohabiyah ini mau menerimanya, nah kasusnya dengan saya saat ini yang malah mengajukan diri untuk menerima bantuan dari pemerintah itu bagaimana kang?” katanya penuh rasa ingin tahu.

Sambil mencoba mengelola rasa keheranan saya dengan pertanyaan akhwat tadi, saya coba jawab dengan sepaham yang saat itu terbesit dalam pikiran saya “hmm, sepertinya kita harus tahu lebih dalam dari kisah tersebut, termasuk kita harus tahu kondisi umat pada saat itu baik dari sisi ekonomi, politik, pendidikan dan kita juga harus tahu asal perekonomian keluarga sohabiyah yang diceritakan barusan, maksudnya boleh jadi kenapa sohabiyah itu menolak, karena memang beliau merasa masih mampu dan tidak memerlukan bantuan yang diberikan oleh Ali kala itu dan beliau merasa ada orang yang mungkin lebih berhak mendapatkan bantuan tersebut, atau memang sohabiyah itu tidak mau menjadi beban bagi khalifah atau kalau dalam konteks hari ini tidak mau menjadi beban negara yang juga pada ujungnya adalah beban rakyat itu sendiri. Terkait kasus teteh, sekarang tinggal bagaimana teteh, seandainya teteh merasa tidak terlalu butuh beasiswa tersebut, teteh boleh untuk tidak menerimanya, dan kalaupun nanti nama teteh lolos sebagai penerima, maka teteh boleh untuk tidak menggunakannya tetapi diberikan kepada teman teteh yang dirasa lebih membutuhkan” jawab saya.

Lalu beliau menjawab “ooh, sebenarnya saya juga secara ekonomi masih membutuhkan bantuan tersebut, hanya dibuat bingung saja oleh kasus sohabiyah tadi” katanya. Saya jawab “kalau demikian, berarti nanti kalau teteh terdaftar sebagai penerima beasiswanya maka gunakanlah bantuan tersebut dengan penuh rasa syukur, dan berterimakasihlah kepada rakyat Indonesia dengan kreativitas dan prestasi serta kebaikan yang bisa teteh lakukan untuk rakyat Indonesia, karena sesungguhnya kita tahu bahwa dana yang dicairkan dalam bentuk beasiswa  pada dasarnya berasal dari rakyat Indonesia, termasuk saya sendiri kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN) saya juga dibiayai sekian persennya oleh negara dan itu asalnya dari rakyat Indonesia. Maka nanti kalau jadi mahasiswa perbanyaklah peran dan manfaat yang teteh berikan untuk memberdayakan masyarakat, jangan hanya berpacu pada target pribadi, tetapi jadilah mahasiswa yang peka dan peduli terhadap nasib rakyat Indonesia, dan teteh harus tahu bahwa bantuan beasiswa itu adalah hak orang-orang yang tidak mampu, jangan sampai hak tersebut disalurkan kepada pihak yang tidak tepat menerimanya” tegas saya.

Hal sederhana namun menjadi point penting dari ulasan peristiwa diatas adalah ternyata masih ada orang-orang yang sempat berpikiran seperti itu, dan saya amat kagum dengan orang yang berhati-hati termasuk pada saat mengajukan bantuan dari pemerintah. Beasiswa adalah salah satu bentuk bantuan pemerintah untuk orang yang kurang mampu secara ekonomi dan itu sah-sah saja untuk dimanfaatkan, bahkan orang-orang yang tidak mampu wajib mengupayakannya, agar jangan sampai hak yang tidak mampu malah diberikan kepada orang yang mampu secara ekonomi, bahkan na’udzubillah kalau hak tersebut malah dirampas oleh oleh koruptor.

Tapi para penerima beasiswa juga jangan cukup puas sampai disitu, melaikan harus sering-sering bersyukur dan jangan sampai lupa dengan siapa yang memberikan bantuan tersebut, serta harus terus memastikan agar dirinya tidak hanya semata bermanfaat untuk diri dan keluarganya semata malainkan harus berkontribusi untuk perbaikan bangsa dan negara dengan apapun cara yang bisa dilakukan. Misalnya hal sederhana dengan cara kuliah  yang rajin, menorehkan karya dan prestasi dan menjadi pemimpin ditengah-tengah masyarakat untuk memegang kendali kemajuan peradaban bangsa yang kita cintai ini. Wallahu’alam. 

This entry was posted on Tuesday, April 23rd, 2013 at 02:29 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

~ dilihat : 332 kali ~