Silakan Pilih, Pacaran atau Taaruf?

1

Oleh MUHAMAD NUR AKBAR

(Mahasiswa Jurusan IPSE/FPMIPA UPI/2012)

“Ga pacaran gak gaul” semua orang pasti tahu dengan istilah ini. Pacaran adalah sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat saat ini. Kebanyakan orang sebelum melangsungkan pernikahan biasanya “Berpacaran” terlebih dahulu, hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu atau masa yang dianggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya. Adanya anggapan seperti ini, kemudian melahirkan konsesus bersama antar berbagai pihak untuk menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar-wajar saja. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari dua insan yang berlainan jenis berdua-duaan, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh, yang sudah jelas semuanya haram hukumnya menurut syariat Islam. Orang bilang pacaran membuat kita bahagia, ada juga yang bilang pacaran itu membuat kita sengsara. Tapi memang pada kenyataannya pacaran itu lebih banyak membawa kita kepada kesengsaraan.

Di kalangan tertentu pacaran tidak dikenal, pun mereka tahu tetapi cenderung menghindari karena menganggap gaya itu tidak MUTLAK dilakukan sebelum pernikahan. selain dinilai tidak sesuai dengan norma agama, ini terbukti dari pengalaman sepanjang sejarah keberadaan manusia bahwa pacaran cenderung kelewat batas bahkan tidak sedikit yang amoral juga berkembangnya pemikiran bahwa suatu kesia-siaan saja berjalan bersama orang yang belum tentu 100% menjadi pasangannya. Ya, bagaimana mungkin bisa meyakinkan bahwa orang yang saat ini berjalan bersamanya memiliki komitmen untuk tetap setia sampai ke jenjang pernikahan. Orang sudah sekian tahun berpacaran ternyata wacananya hanya sebatas curhat-curhatan dan take and give yang tak berdasar, tidak meningkat pada satu tindakan gentle, yaitu MENIKAH! Atau setidaknya mengajukan surat lamaran ke orang tua si gadis. Berbagai alasan dan argumentasi pun meluncur untuk menutupi ketidakgentle-lannya itu, yang kemudian semua orang pun tahu itu cuma alasan-alasan yang dilontarkan dari orang yang tidak benar-benar dewasa alias kekanak-kanakan.

Kedewasaan, ukurannya tidak terwakili hanya oleh umurnya yang diatas 17 tahunan atau lebih, tetapi juga pada sikap diri, attitude yang tertampilkan dalam kesehariannya. Orang terlihat dewasa mungkin hanya dari fisiknya saja, namun sisi lainnya  seringkali luput dari perhatian. Padahal kedewasaan jelas meliputi beberapa aspek yang sekiranya patut diperhatikan dalam memilih pasangan yang kelak dinominasikan untuk menjadi pasangan hidup.

a.   Dewasa Secara Fisik, dimana organ-organ reproduksi telah berfungsi.

b.   Dewasa Secara Psikologi, ditandai dengan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan.

c.   Dewasa secara Finansial, kemampuan seseorang untuk membiayai kebutuhan hidup yang layak.

Berdasarkan aspek kedewasaan diatas maka wajarlah jika di satu sisi justru ada yang enggan berpacaran. seperti diuraikan sebelumnya bahwa berpacaran selain tidak diajarkan dalam agama karena melanggar norma yang digariskan, juga dianggap buang-buang waktu, wujud ketidakgentlelan, aktifitas sia-sia, dll. Namun, tenyata diluaran sana ada sebagian orang yang benar-benar takut untuk mencintai, dicintai dan bahkan takut jatuh cinta. Karena trauma dengan kejadian masa lalu akibat cinta yang salah. Maka kemudian islam mengenal pacaran dalam bentuk dan kemasan yang berbeda. Islam hanya mengajarkan bentuk-bentuk curahan kasih sayang dan cinta itu setelah melalui satu proses yang sakral yakni pernikahan. Sementara proses yang dilakukan untuk saling mengenal antara calon pria dan wanita sebelum disebut proses taaruf (perkenalan) inti dari taaruf sendiri adalah saling mengnal antar kedua belah pihak saling memberi tahu keadaan keluarga masing-masing, saling memberi tahu harapan dan prinsip hidup, saling mengungkapkan apa yang disukai dan tidak disukai.

Biasanya orang yang pacaran hatinya sudah bertaut sehingga kalau tidak cocok sulit putus dan terasa menyakitkan. Tapi taaruf, yang Insya Allah niatnya untuk menikah Lillahi Taala, kalau tidak cocok bertawakal saja, mungkin memang bukan jodoh. Tidak ada pihak yang dirugikan maupun merugikan. Dengan ta’aruf kita bisa berusaha mengenal calon dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Hal ini bisa terjadi karena kedua belah pihak telah siap menikah dan siap membuka diri baik kelebihan maupun kekurangan. Ini kan penghematan waktu yang besar. Coba bandingkan dengan orang pacaran yang sudah lama pacarannya sering tetap merasa belum bisa mengenal pasangannya. Ujung-ujungnya putus dan bisa menimbulkan permusuhan. Bukankah sia-sia belaka? Ini yang terpenting dalam taaruf tetap dijaga adab berhubungan antara laki-laki dan perempuan. Biasanya ada pihak ketiga yang memperkenalkan. Sehingga, kemungkinan berdua-duaan sangat kecil yang artinya kita terhindar dari zina.

Jadi, taaruf bukanlah bermesraan berdua seperti hal nya pacaran, tapi lebih kepada pembicaraan yang bertujuan untuk mempersiapkan sebuah pernikahan. Sangat jauh berbeda dengan pacaran yang bertujuan lebih condong kepada kenikmatan sesaat, zina, dan maksiat. Taaruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon. Taaruf adalah proses saling kenal mengenal sebelum menikah dengan dilandasi ketentuan yang sesuai dengan aturan agama.

Nah ternyata taaruf banyak kelebihannya dibanding pacaran dan Insya Allah diridhoi Allah. Jadi, sahabat.. kita mau pilih yang mana? Pacaran atau taaruf?

This entry was posted on Thursday, February 28th, 2013 at 05:14 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.