Si Cepot VS Boy Band

2

Oleh CHIKA L PUTRI

(Mahasiswa International Program on Science Education, FP MIPA UPI)

DEWASA ini, hal mengejutkan sekaligus memperihatinkan muncul dari kalangan anak dan remaja di Jawa Barat. Ketika mereka ditanya mengenai si cepot, banyak dari mereka yang tidak mengetahui apa dan bagaimana wayang golek itu. Padahal pada masa keemasaannya (1960-an) cepot dan teman-temannya ini sangatlah populer. Hal ini dapat disebabkan oleh minat anak dan remaja terhadap kebudayaan lokal menurun drastis.

Ketika ditanya mengenai dari mana asalnya wayang golek, banyak anak-anak dan remaja di Jawa Barat yang tidak mengetahui asal muasal wayang golek itu sendiri. Dan yang lebih memperihatinkan ketika di tanya mengenai kartun asal Malaysia Upin dan Ipin mereka dengan lantang menyebutkan nama-nama pemain dalam kartun tersebut. Dan ketika para remaja ditanya mengenai Boy Band asal Korea bahkan mereka dengan fasih menyanyikan dan menari seperti halnya yang mereka lihat di dalam video Boy Band  tersebut.

Kancah wayang golek di dunia international memang tidak perlu di ragukan lagi, Asep Sunandar Sunarya (57) seorang Dalang wayang golek yang bermukim di Giri Harja, Jelekong Kab. Bandung memang sering berkunjung ke luar Negri hanya untuk mementaskan si cepot dan teman-temannya itu. Dalam setahun Wayang goLek dapat berlenggang lengok di beberapa negara seperti di Eropa, Amerika dan Australia Namun, populeritas wayang golek di Indonesia khususnya di Jawa Barat itu sendiri tidak sebegitu terkanalnya, bahkan dapat di katakan kalah oleh populeritas Super Junior dan Boy Band- Boy Band lainnya.

Hal ini tentu sangat mengugah hati saya selaku warga Jawa Barat untuk lebih memperkenalkan wayang golek khususnya kepada anak-anak dan remaja di Jawa Barat itu sendiri. Agar wayang golek tidak dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai kebudayaan yang kolot dan membosankan. Sebenarnya di balik pembawaannya yang klasik, cerita yang di mainkan oleh para wayang tersebut mempunyai makna dan pesan yang sangat mendalam mengenai kehidupan manusia.

Dalam cerita wayang golek kita akan menemukan tokoh-tokoh seperti si cepot, pandawa lima ( Arjuna, Bima, Nakula, Sadewa dan Yudhistira) dan cerita-cerita mengenai Ramayana, Mahabrata dll. Wayang golek umumnya menggunakan bahasa Sunda dengan iringan gamelan Sunda (salendro), yang terdiri atas dua buah saron, sebuah peking, sebuah selentem, satu perangkat boning, satu perangkat boning rincik, satu perangkat kenong, sepasang gong (kempul dan goong), ditambah dengan seperangkat kendang (sebuah kendang Indung dan tiga buah kulanter), gambang dan rebab.

Kita harus menjaga dan meelstarikan kebudayaan-kebudayaan Indonesia seperti halnya si Cepot dan teman-temannya ini sebelum kebudayaan ini di-klaim oleh negara lain dan akhirnya menimbulkan konflik bagi Indonesia dan negara yang bersangkutan tersebut. Minimal dengan menegtahui dan menonton pertunjukan wayang golek kita telah ikut berperan dalam keberlangsungan Eksistensi Si Cepot dan temanya-temannya ini.

1

This entry was posted on Friday, March 15th, 2013 at 04:04 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

~ dilihat : 760 kali ~