Renungan Bagi yang Berakal

1

Oleh RINTO BOUTI

(Mahasiswa PPG Jurusan Pendidikan Matematika UPI 2013)

TAKWA adalah bekal seorang hamba ketika ia menghadap kepada Sang Pencipta, bekal yang kelak menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya, bahwa kehidupannya dialam dunia telah dipergunakan sebaik-baiknya. Untuk itulah wahai saudaraku, marilah kita perbaiki dan satukan niat serta tekad, untuk meraih predikat golongan mahluk Allah yang muttaqin (bertakwa) yang selalu berusaha dengan ikhlas menjalankan yang diperintahkan dan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, untuk dapat mengambil apa-apa yang telah dijanjikan, berupa kehidupan yang baik di dunia dan surga yang abadi di akhirat kelak.

Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepadaKu wahai orang-orang yang berakal.(Q.s. Al Baqarah: 197).

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Q.s. AlHijr: 45).

Allah ciptakan mahluk dan Allah sertakan bersama mereka nabi-nabi dan rasul-rasul sebagai utusan yang menerangkan dan menjelaskan konsep tatanan hidup selama berada di alam yang serba cepat dan fana ini, Allah turunkan pula kitab-kitabNya bersama para utusan-utusan itu, sebagai aturan main di dalam dunia, baik hubungan dia dengan Allah (yang terlihat pada perkara akidah dan ibadah), dia dengan dirinya sendiri (yang terlihat pada perkara pakaian, makanan, minuman, dan akhlak), dan dia dengan sesama mahluk (yang terlihat pada perkara lingkungan hidup, berekonomi, bergaul, mengenyam pendidikan, politik dalam dan luar negeri, uqubat dll). Di antara kitab-kitab yang Allah turunkan ialah AlQur’an, mu’jizat Nabi Mulia yang menjelaskan tuntunan Allah, aturan terakhir penutup para nabi dan rasul.

Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran (Al Qur’an); sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan (Q.s. AlBaqarah: 119).

Pernahkah kita renungkan, berapa tahun anugerah kehidupan yang Allah berikan pada kita? Tak seorangpun tahu, itu adalah kedaulatan Allah, tak seorangpun bisa memprediksi atau merencanakan hingga berapa tahun kita akan hidup di dunia ini. Bisa saja kita diberi usia yang panjang hingga menjadi kakek dan nenek, namun siapa tahu ajal menjemput kita tahun depan, bulan depan, esok hari, atau sesaat setelah kita menyelesaikan kata demi kata dalam tulisan ini.

Jika kita tak tahu sampai kapan kita diberi kesempatan untuk hidup, apa yang harus ktia lakukan pada saat ini ? Sudahkan kita menikmati hidup dengan sesuatu yang positif. Seberapa baik kualitas kehidupan yang kita alami kini? Dunia menuntut kita untuk hidup serba cepat, serba instan. Tanpa disadari kehidupan kita berlalu begitu saja dengan cepat. Dahulu sekolah, masuk perguruan tinggi untuk kuliah, ada yang sempat ikut program SM-3T dan melanjutkan Pendidikan Profesi Guru, dan mungkin setelahnya menikah, berketurunan, tua, meninggal. Begitulah setiap kita dalam hidup ini.Oleh karena itu sangat disayangkan jika orientasi hanya untuk menikmati hidup, tak sempat untuk mensyukuri anugerah Allah dan tiba-tiba saja kita telah menjadi tua dan lelah. Belum sempat kita menikmati hidup tiba-tiba hidup kita berakhir. Tentunya kita tak ingin melewati kehidupan kita seperti itu.

Allah turunkan Al-Qur’an untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan di antara kita dan juga untuk mengingatkan akan yaumul mii’aad yaitu hari pembalasan terhadap apa-apa yang telah dilakukan selama di alam dunia ini.

Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (Q.s. AnNalh: 44).

Sesungguhnya, tidak mungkin Allah swt menurunkan Al Qur’an kepada selain manusia, karena sesungguhnya manusialah yang layak untuk menerima semua tuntunan hidup itu yakni Al Qur’an, karena disebabkan manusia memiliki akal untuk memahami kebanaran dari Allah. Hal ini tentunya berbeda dengan hewan, meskipun mereka diajarkan dengan firman-firman Allah yang mulia pastilah mereka tidak dapat memahaminya dan cenderung mengikuti hawa nafsunya.

Sebagai bahan renungan bagi kita, marilah kita simak peringatan-peringatan Allah berikut:

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (Q.s. An Nazi’at: 37-41)

Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.s. Asy Syams: 7-10)

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Q.s.  Al A’raf: 179).

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.(QS. Ali ‘Imrân: 133)

Juga haditsRosulNya: Allah akan memberikan cahaya yang berkilauan pada seseorang yang telahmendengar ajaranku, lalu disampaikannya kepada yang lain sebagaimanayang didengarnya. Adakalanya orang yang disampaikan kepadanya lebih mengerti daripada pendengar itu sendiri.(H.R Ahmad)

Semua anak adam itu berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan itu ialah orang-orang yang mau bertaubat.(H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Andaikan kamu berbuat dosa sehingga dosamu mencapai langit,kemudian kalian bertaubat niscaya Allah memberi ampunan kepadamu.(H.R. Ibnu majah)

Sungguh seorang mukmin amat menakjubkan, segala urusannya amat baikbaginya dan hal itu tidak terdapat kecuali hanya pada orang mukmin saja.Jika mendapat kesenangan, maka ia bersyukur, tentunya hal itu amat baik bagi dirinya. Jika mendapat kemalangan,maka ia bersabar, tentunya hal itu amat baik baginya.(H.R. Muslim)

Orang yang berakal adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya,dan memperbanyak amalan untuk bekal matidan orang yang lemah adalah seorang yang mengikuti hawa nafsunya,tetapi berkahayal pahala kepada Allah Ta’ala.(H.R.Tirmidzi) Wallahu a’lam.

This entry was posted on Tuesday, July 2nd, 2013 at 11:09 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.