Pendidikan Membentuk Karakter

mhs-Kampus-Serang

Oleh : Siti Irawati, Merisa, Citra, Anggita, Tatu, Yana, Mahasiswa Semester 2, UPI Kampus Serang

Saya melakukan ini karena saya diajari oleh kakek saya. Ia selalu mengajarkan saya akan pentingnya kejujuran”. Demikian kata Seorang pengemis yang bermukim di Kansas City, Missouri, Amerika bernama Billy Ray Harris. Ia  tidak menyangka menemukan cincin pernikahan di tumpukan koin yang ada di gelasnya. Pemilik cincin itu  bernama Sarah Darling. Ia  menaruh cincin di dompet dan ketika ingin memberikan uang sumbangan cincin tersebut ikut jatuh ke gelas sang pengemis. Keesokan harinya ketika ia kembali ketempat sang pengemis, Billy telah menunggu untuk mengembalikan cincin tersebut ke Sarah. Sebagai apresiasi telah mengembalikan cincinnya, Sarah dan suaminya membuat penggalangan dana secara online selama 90 hari. Target awalnya adalah untuk mengumpulkan uang sebesar $1.000. Tapi dalam waktu seminggu, ada lebih dari 4.000 orang yang menyumbangkan hartanya untuk penggalangan dana ini. Ada yang berkomentar tentang bagaimana mulianya perbuatan Billy. Hingga saat ini  telah terkumpul uang sebesar $112.330 atau setara dengan Rp 1,1 milyar. Billy Ray Haris seorang yang jujur. Ia terangangkat nasibnya karena kejujurannya. Ia memperolehnya dari proses pendidikan.

Pentingnya kejujuran sangat ditekankan sekali oleh Rasulullah. Ia sangat intens menganjurkan kejujuran dalam aktivitas bisnis. Dalam tataran ini, beliau bersabda, “Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu barang yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya” (HR Al-Quzwani). Dalam hadist lain pun bersabda, “Siapa yang menipu kami, dia bukan kelompok kami” (HR Muslim). Rasulullah selalu bersikap jujur dalam berbisnis. Beliau melarang para pedagang meletakkan barang  busuk di bagian bawah dan barang baru di atas. Selanjutnya, Ibnu Umar menurut riwayat Bukhori, memberitakan bahwa seorang lelaki menceritakan kepada Nabi SAW bahwa ia tertipu dalam jual beli. Kemudian Nabi SAW bersabda,“Apabila engkau berjual beli, katakanlah, ‘tidak ada tipuan’.” Jelaslah bahwa Rasululloh menginginkan umatnya jujur dalam segala hal salah satunya dalam berjual beli.

 

Lantas apakah sistem pendidikan yang sekarang mengajarkan kejujuran?  Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Suyanto (2013) menegaskan bahwa karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggung jawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

Kami kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Serang. Kami sering merenungkan apakah kami nanti kami akan menjadi lulusan yang memiliki karakter seperti Billy Ray Harris dan jujur dalam segala hal seperti yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW? Saat ini kami sedang menjalani proses pendidikan. Hongeveld mengatakan bahwa proses pendidikan adalah proses membantu anak supaya anak itu kelak cakap menyelesaikan tugas hidup nya atas tanggung jawab sendiri.

Kami berharap bahwa ilmu pendidikan yang kami pelajari dalam bentuk mata kuliah seperti pedagogik, psikologi perkembangan, filsafat, perkembangan peserta didik, dll dapat menggiring kami menjadi pribadi yang berkarakter. Meski kami juga menjadari bahwa karakter tidak bisa diwarsikan, karakter tidak bisa dibeli dan karaker tidak bisa ditukar, namun karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar, hari demi hari, melalaui suatu proses yang tidak instan. Semoga …

 

This entry was posted on Wednesday, March 6th, 2013 at 00:38 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

~ dilihat : 308 kali ~