Pelajar Perlu Proteksi Diri Dari Bahasa Gaul

isa

Oleh ISA MUHAMMAD IBRAHIM

(Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI)

BELAKANGAN ini, bahasa Indonesia banyak mengalami penambahan kosakata. Apakah datang dari bahasa daerah, bahasa gaul anak baru gede (ABG), atau bahkan luar Indonesia. Banyak yang merasa kondisi ini sudah memprihatinkan dan menganggap kosakata baru tersebut merusak bahasa bakunya. Hal tersebut tentu saja sulit dielakkan mengingat teknologi informasi yang sudah sangat terbuka sekarang ini dan tentu saja aliran informasi tersebut akan saling memengaruhi.

Terlepas merusak bahasa baku atau tidak, istilah dan kosakata baru (gaul) semakin memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Para pengguna bahasa Indonesia harus mampu membedakan antara yang baku dan yang berkembang. Kita semua mengetahui bahasa Indonesia telah memiliki format yang baik dan benar. Namun, tidak bisa dipungkiri akibat perubahan jaman yang begitu cepat melesat, muncul istilah-istilah baru. Entah siapa yang menciptakan dan memopulerkan, tiba-tiba saja kita sering mendengarkan kosakata tersebut yang sebelumnya tidak pernah kita dengarkan.

Bahasa gaul adalah ragam bahasa Indonesia non-standar yang lazim digunakan di Jakarta pada tahun 1980-an hingga saat ini menggantikan bahasa prokem yang lebih lazim digunakan pada tahun-tahun sebelumnya. Ragam ini semula dikenalkan oleh generasi muda yang diambil dari kelompok waria (wanita pria) dan masyarakat terpinggir lainnya. Sintaksis dan morfologi ragam ini memanfaatkan sintaksis dan morfologi bahasa Indonesia dan dialek Suku Betawi. Ragam bahasa ini terkadang hanya dapat dimengerti oleh para remaja atau mereka yang kerap menggunakannya.

Bahasa prokem awalnya digunakan oleh para preman yang kehidupannya dekat dengan kekerasan, kejahatan, narkoba, dan minuman keras. Istilah-istilah baru mereka ciptakan agar orang di luar komunitas mereka tidak mengerti. Dengan begitu, mereka tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi untuk membicarakan hal-hal negatif yang akan maupun yang telah mereka lakukan (Laman Wikipedia Indonesia, 2005).

Para preman tersebut menggunakan bahasa prokem di berbagai tempat. Penggunaannya tidak lagi pada tempat-tempat khusus, melainkan di tempat umum. Lambat laun, bahasa tersebut menjadi bahasa yang akrab di lingkungan sehari-hari, termasuk orang awam sekalipun dapat menggunakan bahasa sandi tersebut.

Sebuah artikel di Kompas berjudul So What Gitu Loch… (2006: 15) menyatakan bahwa bahasa prokem atau okem sebenarnya sudah ada sejak 1970-an. Awalnya istilah-istilah dalam bahasa gaul itu untuk merahasiakan isi obrolan dalam komunitas tertentu. Oleh karena sering digunakan di luar komunitasnya, lama-lama istilah tersebut menjadi bahasa sehari-hari.

Lebih lanjut, dalam artikel tersebut juga disebutkan bahwa pada tahun 1970-an, kaum waria juga menciptakan bahasa rahasia mereka. Pada perkembangannya, para waria atau banci lebih rajin berkreasi menciptakan istilah-istilah baru yang kemudian ikut memperkaya khasanah perbendaharaan bahasa gaul.

Pada mulanya, pembentukkan bahasa slang, prokem, cant, argot, jargon, dan colloquial di dunia ini adalah berawal dari sebuah komunitas atau kelompok sosial tertentu yang berada di kelas atau golongan bawah (Alwasilah, 2006: 29). Lambat laun oleh masyarakat akhirnya bahasa tersebut digunakan untuk komunikasi sehari-hari.

Terdapat berbagai alasan mengapa masyarakat tersebut menggunakan bahasa-bahasa yang sulit dimengerti oleh kelompok atau golongan sosial lainnya. Alasan esensialnya adalah sebagai identitas sosial dan untuk merahasiakan sesuatu dengan maksud orang lain atau kelompok luar tidak memahaminya.

Kompas (2006: 50) menyebutkan bahwa bahasa gaul sebenarnya sudah ada sejak 1970-an. Awalnya istilah-istilah dalam bahasa gaul itu digunakan untuk merahasiakan isi obrolan dalam komunitas tertentu. Tetapi, karena intensitas pemakaian yang tinggi, maka istilah-istilah tersebut menjadi bahasa sehari-hari.

Hal ini sejalan dengan laman Wilimedia Ensiklopedi Indonesia (2006) yang menyatakan bahwa bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasa para bajingan atau anak jalanan disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman. Lebih lanjut dalam harian Pikiran Rakyat tercatat bahwa bahasa gaul pada awalnya merupakan bahasa yang banyak digunakan oleh kalangan sosial tertentu di Jakarta, kemudian secara perlahan merambah kalangan remaja, terutama di kota-kota besar.

Dalam sebuah milis (2006) disebutkan bahwa bahasa gaul memiliki sejarah sebelum penggunaannya populer seperti sekarang ini. Sebagai bahan teori, berikut adalah sejarah kata bahasa gaul tersebut.

1. Nih yee…

Ucapan ini terkenal di tahun 1980-an, tepatnya November 1985. Pertama kali yang mengucapkan kata tersebut adalah seorang pelawak bernama Diran. Selanjutnya, dijadikan bahan lelucon oleh Euis Darliah dan populer hingga saat ini.

2. Memble dan Kece

Dalam milis tersebut dinyatakan bahwa kata memble dan kece merupakan kata-kata ciptaan khas Jaja Miharja. Pada tahun 1986, muncul sebuah film berjudul Memble tapi Kece yang diperankan oleh Jaja Miharja ditemani oleh Dorce Gamalama.

3. Booo…

Kata ini populer pada pertengahan awal 1990-an. Penutur pertama kata ini adalah grup GSP yang beranggotakan Hennyta Tarigan dan Rina Gunawan. Kemudian kata ini dilanjutkan oleh Lenong Rumpi dan menjadi populer di lingkungan pergaulan kalangan artis. Salah seorang artis bernama Titi DJ kemudian disebut sebagai artis yang benar-benar memopulerkan kata ini.

4. Nek…

Setelah kata Booo… populer, tidak lama kemudian muncul kata ini yang dipopulerkan anak-anak SMA di pertengahan 1990-an. Kata ini pertama kali diucapkan oleh Budi Hartadi, seorang remaja di kawasan Kebayoran yang tinggal bersama neneknya. Oleh karena itu, lelaki yang latah tersebut sering mengucapkan kata Nek….

5. Jayus

Di akhir dekade 1990-an dan di awal abad 21, ucapan jayus sangat populer. Kata ini dapat berarti sebagai lawak yang tidak lucu atau tingkah laku yang disengaja untuk menarik perhatian, tetapi justru terlihat membosankan. Kelompok yang pertama kali mengucapkan kata ini adalah kelompok anak SMA yang bergaul di sekitaran Kemang.

Asal mula kata ini dari Herman Setiabudhi. Dirinya dipanggil oleh teman-temannya Jayus. Hal ini karena ayahnya bernama Jayus Kelana, seorang pelukis di kawasan Blok M. Herman atau Jayus selalu melakukan hal-hal yang aneh dengan maksud mencari perhatian, tetapi justru menjadikan bosan teman-temannya. Salah satu temannya bernama Sonny Hassan atau Oni Acan sering memberi komentar jayus kepada Herman. Ucapan inilah yang kemudian diikuti teman-temannya di daerah Sajam, Kemang, lalu kemudian merambat populer di lingkungan anak-anak SMA sekitar.

6. Jaim

Ucapan jaim ini dipopulerkan oleh Drs. Sutoko Purwosasminto, seorang pejabat di sebuah departemen, yang selalu mengucapkan kepada anak buahnya untuk menjaga tingkah lakunya atau menjaga image yang disingkat menjadi jaim.

7. Gitu loh…

Kata ini pertama kali diucapkan oleh Gina Natasha seorang remaja SMP di kawasan Kebayoran. Gina mempunyai seorang kakak yang bernama Ronny Baskara, seorang pekerja event organnizer. Sedangkan Ronny mempunyai teman kantor bernama Siska Utami. Suatu hari Siska bertandang ke rumah Ronny. Ketika dia bertemu Gina, Siska bertanya dimana kakaknya, lantas Gina menjawab, “Di kamar, gitu loh.” Esoknya Siska di kantor menjadi latah mengucapkan kata tersebut di tiap akhir pembicaraan.

Ragam bahasa ABG memiliki ciri khusus, singkat, lincah, dan kreatif. Kata-kata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek seperti permainan menjadi mainan.

Kalimat-kalimat yang digunakan kebanyakan berstruktur kalimat tunggal. Dengan menggunakan struktur yang pendek, pengungkapan makna menjadi lebih cepat yang sering membuat pendengar yang bukan penutur asli bahasa Indonesia mengalami kesulitan untuk memahaminya (Nyoman Riasa).

Tidak dipungkiri lagi bahasa gaul saat ini sudah merasuki jiwa para pelajar. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran untuk berbahasa yang baik dan benar. Begitu pula dengan keadaan lingkungan sekitar yang sudah mulai terkontaminasi oleh bahasa gaul. Uniknya, para  pelajar menganggap bahwa penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dirasakan terlalu kaku dan mereka juga berpikir akan merubah kepribadian mereka. Salah satu alasan yang paling menarik adalah bahwa bahasa Indonesia yang baik dan benar dianggap sudah ketinggalan jaman.

Keadaan ini sangat ironis mengingat kita hidup dan tinggal di Indonesia dengan rasa nasionalisme dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah salah satu unsur di dalamnya. Ini berarti secara tidak langsung masyarakat Indonesia sendiri tidak memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.

Lingkungan sekolah yang memiliki proteksi diri yang cukup tinggi tampaknya tidak mampu membendung kehidupan dari bahasa gaul. Sebagaimana diketahui, komunikasi antar pelajar di lingkungan sekolah sudah menjadi kewajiban untuk menggunakan bahasa gaul. Mereka merasa dengan menggunakan bahasa gaul dalam berkomunikasi bisa menjadi lebih akrab dan tidak merasa ketinggalan jaman.

Menurut Piaget (dalam Papalia, 2004), remaja memasuki tahap perkembangan kognitif yang disebut tahap formal operasional. Piaget mengatakan bahwa tahapan ini merupakan tahap tertinggi perkembangan kognitif manusia. Pada tahap ini, individu mulai mengembangkan kapasitas abstraksinya. Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, perkembangan bahasa remaja mengalami peningkatan secara pesat. Kosakata remaja terus mengalami perkembangan seiring dengan bertambahnya referensi bacaan dengan topik-topik yang lebih kompleks.

Sesuai dengan penelitian yang telah dilaksanakan, mayoritas pelajar mengaku bahwa mereka terkadang menggunakan bahasa gaul dalam berkomunikasi sehari-hari. Mereka juga mengetahui apa itu bahasa gaul. Di lingkungan mereka tinggal terkadang bahasa gaul juga digunakan. Padahal kebanyakan dari mereka menilai bahasa gaul itu tidak keren atau bahkan tidak mengetahuinya. Keadaan ini sangat tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Mereka pun sadar bahwa dengan menggunakan bahasa gaul yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari itu dapat merusak moral. Tanggapan mereka cenderung biasa saja jika dihadapan mereka ada lawan bicara yang menggunakan bahasa gaul. Di jaman seperti ini, para pelajar menganggap bahwa terdapat hubungan yang harmonis antara bahasa gaul dengan keadaan pergaulannya.

Proses penyaringan di lingkungan sekolah untuk eksistensi bahasa gaul sangat diharapkan. Untuk meminimalisir keberadaan bahasa gaul yang semakin meracuni dan juga memproteksi diri para pelajar dari dampak-dampak negatif bahasa gaul. Para guru juga diharapkan dapat menyampaikan materi pelajaran bahasa Indonesia dengan sejelas-jelasnya dan juga dapat dipahami oleh para peserta didik. Sehingga, dapat menimbulkan kesan bahwa bahasa Indonesia yang baik dan benar penting untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ini juga dapat menghilangkan stigma yang beredar di masyarakat tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar yang diangap sudah ketinggalan jaman.

Disadari atau tidak ini sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Merubah sebuah keadaan secara terus-menerus akan terasa sulit jika tidak diawali dengan tekad yang bulat untuk merubah kebiasaan tersebut. Rasa nasionalisme yang tinggi terhadap negara kita ini akan membuat generasi muda semakin menyadari bahwa mereka akan bangga menjadi warga negara Indonesia yang selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

This entry was posted on Tuesday, March 19th, 2013 at 08:08 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.