Menjelajahi Kehidupan Dengan Berpikir Matematis

endang

Oleh ENDANG CAHYA KUSUMAH

(Mahasiswi Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI)

ERA globalisasi ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat, setiap orang didorong untuk mampu bersaing secara global. Namun tak dapat dipungkiri Sumber Daya Manusia (SDM) lah yang menentukan eksistensi seseorang di dunia ini. Demi tercapainya tujuan meningkatkan SDM, maka pemerintah terus berusaha untuk meningkatkan pendidikan di masyarakat. Sebenarnya hal ini bisa diselesaikan berdasarkan cara pemikiran yang logis dan matematik. Yah, tidak semua orang sukses adalah matematikawan, tapi setiap orang bisa sukses apabila mampu berpikir secara matematik.

Matematika berupaya memahami pola yang terjalin, baik dalam dunia nyata di sekeliling kita, maupun dalam alam pikiran kita. Meskipun bahasa matematika berlandaskan pada kaidah-kaidah tertentu yang juga perlu dipelajari, kita seharusnya mampu melintasi batas kaidah bahasa ini agar mampu mengekspresikan sesuatu dengan bahasa matematika (Schoenfeld, 1992). Kata “matematika” berasal dari bahasa Yunani Kuno μάθημα (máthēma), yang berarti pengkajian, pembelajaran, ilmu, yang ruang lingkupnya menyempit, dan arti teknisnya menjadi “pengkajian matematika”. Oleh karena itu matematika merupakan ilmu hubungan sosial bukan hanya mempelajari cara berhitung, namun juga mempelajari pola-pola penyelesaian masalah (problem solving), penalaran, dan mempresentasikan masalah secara sistematik. Ternyata matematika bukanlah pelajaran yang sepatutnya ditakuti, banyak orang yang berpikir bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dimengerti dan menakutkan karena nilai evaluasi yang terkadang sangat buruk. Akan tetapi taukah anda ada hikmah dan manfaat mempelajari matematika. Objek matematika yang berupa angka atau yang dipresentasikan dengan koefisien memang begitu abstrak dan sulit untuk dipahami. Presentasi koefisien dalam menyelesaikan suatu permasalahan matematika ini lah yang akan mendorong pola pikir dan imajinasi seseorang berkembang.

Problematika kehidupan sangat mudah untuk diselasaikan oleh seseorang yang berpikir matematik, karena dalam matematika dikenal sebagai ilmu logika. Cabang ilmu ini mempelajari bagaimana untuk mencari suatu kebenaran dan kesetaraan masalah yang sedang dihadapi. Terkadang permasalahan seperti ini yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, tentu sangat sulit untuk menentukan kebenaran atau pun alternative yang setara untuk menyelesaikan masalah. Namun bagi seseorang yang berpikir matematik, setiap permasalahan yang sedang dihadapi hanya dipresentasikan dengan 2 (dua) huruf yaitu p dan q. Mulai dari permasalahan yang sederhana sampai permasalahan yang rumit, seorang matematik dengan sangat mudah mempresentasikannya dengan huruf p sebagai sebab-sebab atau keterangan yang ada dan q sebagai konklusi atau kesimpulan yang ingin dituju. Bisa ditulis :

p → q

dibaca “jika p sedemikian sehingga maka q”. dengan rumusan kebenaran atau yang sering dipresentasikan dengan tabel kebenaran, kita dapat dengan mudah menentukan kebenaran suatu permasalahan.

Adapun rumusan untuk p → q yaitu jika p benar dan q benar maka p → q benar.

Banyak orang beranggapan bahwa berpikir hanya sebatas imajinasi dan persepsi atas kondisi-kondisi yang dialami. Menurut M Alisuf Sabri orang yang berpikir memiliki tujuan :

  1. Melakukan kegiatan ke arah penyelesaian suatu problem atau persoalan
  2. Melakukan pemecahan persoalan dengan menggunaan pengalaman- pengalaman yang pernah ada pada diri kita
  3. Berpikir merupakan suatu akta psikis yang dinamis, dimana individu yang merupakan penggerak prosesnya
  4. Berpikir merupakan suatu kegiatan psikis yang bersifat perlambangan.

Sehingga setiap orang berpikir untuk memperoleh tujuan yang ingin dicapai. Adapun maksud dari berpikir matematis menurut Mason, Burton, dan Stacey (1982), adalah proses dinamis yang memperluas cakupan dan kedalaman pemahaman matematika. Berpikir matematis dapat mengendalikan emosi seseorang dalam mempelajari matematika dan menyelesaikan masalah karena berpikir matematis adalah cara berpikir terbaik untuk menyelasaikan sengketa masalah yang ada dalam kehidupan ini. Dengan berpikir matematis seseorang akan membangung kepercayaan tanpa kecemasan untuk menyelesaikan masalah, dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan tentang masalah yang sedang dikaji.

Adapun mekanisme proses berpikir matematis sama dengan proses kognisi pada umumnya, yaitu meliputi penterjemahan, mengintegrasikan, perencanaan, dan pelaksanaan. Dalam mekanisme proses berpikir matematis juga terdapat strategi untuk menyusun kerangka berpikir hingga sampai pada tujuan yang ingin dicapai. Kerangka berpikir ini yang akan menjadi gerbang untuk munculnya ide dan gagasan yang baru, karena komponen penting dalam berpikir matematis adalah bagaimana seseorang bisa merefleksikan dirinya yaitu kemampuan untuk kembali dan merenungkan jalan yang sedang ditempuh. Hal ini sesuai dengan komposisi berpikir matematis menurut Mason dan kawan-kawan sebagai kegiatan procedural yang terdiri dari tiga fase yaitu  masuk (entry), menyerang (attack), dan meninjau ulang (review).Secara umum, berpikir matematis adalah kemampuan untuk berpikir secara rasional, mengkaji fenomena yang ada dan menyusunnya secara procedural matematika dan membangun kerangka berpikir sebagai kepercayaan diri menyelesaikan setiap masalah. Oleh karena itu, kita bisa menghadapi setiap permasalahan dan menjelajahi kehidupan ini dengan berpikir matematis.

This entry was posted on Tuesday, March 26th, 2013 at 06:03 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

~ dilihat : 508 kali ~