Meningkatkan Partisipasi PKM “Karyaku, Solusi untuk Bangsaku”

1

Oleh ROBI AWALUDDIN

(Direktur LEPPIM UPI Periode 2011-2012, Menteri Pendidikan BEM REMA UPI 2013-Mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi UPI)

DI tengah krisis multidimensi yang melanda bangsa indonesia, peran mahasiswa diharapkan dapat memberikan khas yang berbeda. Salah satunya dengan menulis karya tulis ilmiah.

Menurut pemaparan Ronny Rachman Noor, Ketua Dewan Juri PKM dan Pimnas tahun 2011, selama dua tahun terakhir, jumlah proposal PKM yang masuk ke DIKTI meningkat pesat hingga mencapai sekitar 23.000 buah proposal. Namun terbatasnya dana yang disediakan DIKTI tentunya membuat seleksi yang ketat harus dilakukan, sehingga, tiap tahunnya hanya ada sekitar 5000 proposal yang dibiayai oleh DIKTI.

Lalu, bagaimana meningkatkan partisipasi PKM bagi mahasiswa ?

1. Sosialisasi dan Fasilitasi Persiapan PKM

Sosialisasi dan fasilitasi, persiapan ini sangat penting. Di tahap inilah kampus bisa memaksimalkan upaya agar banyak mahasiswa mengirim proposal PKM. Dimulai dari sosialisasi yang menyeluruh dari DIKTI ke seluruh kampus di Indonesia, dilanjutkan dengan sosialisasi menyeluruh di internal kampus, dari rektorat memberikan edaran ke dekanat dan tiap jurusan atau prodi, hal ini bisa dibantu oleh Unit Kegiatan Mahasiswa yang concern terhadap dunia penelitian seperti halnya LEPPIM UPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Intelektual Mahasiswa) yang rutin membuat spanduk, baligho, selebaran, juga menyebarkan informasi melalui facebook. Namun, sosialisasi saja tidak cukup karena itu kampus perlu menyediakan fasilitas untuk mempersiapkan pembuatan proposal PKM, misalkan mengadakan pelatihan, workshop atau lokakarya tentang tips-trik sukses PKM. Kemudian, perlu ada dorongan secara top down (rektorat/dekanat) dan bottom up (mahasiswa/lembaga penalaran mahasiswa) untuk sosialisasi dan fasilitasi PKM. LEPPIM UPI pernah mengadakan UPI National Research Institute dan Pelatihan Penulisan PKM untuk menghasilkan banyak ide/tema PKM dan proposal PKM yang berkualitas.

Sosialisasi dan fasilitasi ini bisa dikemas dalam sebuah gerakan untuk menyemangati mahasiswa agar berpartisipasi mengirim proposal PKM. Sebagai contoh, misalkan “UPI Road To PIMNAS” yang menyebarkan informasi melalui media online seperti website dan akun twitter. Agar menghasilkan proposal yang berkualitas, fasilitasi tidak cukup sebatas pelatihan tapi juga perlu pendampingan selama proses pembuatan proposal. Beberapa kampus sudah ada yang memasukkan proses ini ke dalam rangkaian penyambutan dan orientasi mahasiswa baru. Membuat proposal PKM dimasukkan sebagai tugas kelompok dalam proses orientasi tersebut. Tentunya dengan didampingi mentor, agar prosesnya terarah.

2. Pendampingan Monitoring dan Evaluasi

Setelah proposal disetujui (lolos seleksi), sama halnya seperti persiapan, pihak rektorat/dekanat dan atau mahasiswa perlu memfasilitasi monitoring dan evaluasi. Menurut Robi Awaluddin, perlu diadakan karantina khusus bagi mahasiswa yang karyanya lolos ke Pimnas, agar bisa fokus dan mempersiapkan yang terbaik untuk hasilnya.

3. Insentif dan Follow Up

Kedua hal ini bisa menjadi faktor yang menarik mahasiswa untuk berpartisipasi dalam PKM. Insentif, dalam bentuk yang sederhana bisa berupa dana untuk mengganti biaya pembuatan proposal. Bahkan bisa jadi bentuknya adalah tambahan nilai atau kredit tersendiri dalam catatan akademik mahasiswa. Follow up juga tidak kalah pentingnya, karena akan menambah semangat mahasiswa bila karyanya dihargai. Selama ini sudah banyak sekali karya PKM terkumpul, sayangnya banyak masyarakat tidak mengetahuinya. Karya yang benar-benar inovatif mungkin bisa mendapat hak paten, tapi belum banyak yang bisa mencapai hal ini. Cara lainnya adalah menerbitkan jurnal dari karya-karya pilihan PKM mahasiswa, Selain itu, program yang telah dilaksanakan dapat diusahakan agar berkelanjutan. Program kewirausaahaan berbasis teknologi (technopreneur) atau yang berbasis ide kreatif (kreatifpreneur) misalnya, dapat diikutsertakan dalam lomba ataupun komunitas startup (rintisan usaha), yang sekarang sedang booming di Indonesia dan dunia.

Pada akhirnya, upaya meningkatkan partisipasi mahasiswa terhadap PKM adalah bagian dari usaha meningkatkan kultur ilmiah di kampus. Secara umum, mindset mahasiswa perlu diarahkan agar tidak hanya mengejar nilai kuliah saja, tetapi juga secara kongkret dapat berkontribusi lebih pada masyarakat dengan ilmu yang dimilikinya.

Jiwa progresif, kreatif, inovatif, dan kontributif tidak akan muncul jika mahasiswa hanya duduk di ruang kelas saja, begitupun ilmu yang didapatkan akan kurang bermanfaat jika hanya menguap dalam diskusi-diskusi di ruang kelas saja. Memperbanyak membaca, perluas jaringan dan diskusi, melihat realita masyarakat sekitar tentu akan membantu untuk mendapatkan ide-ide yang dapat diimplementasikan, salah satunya melalui PKM ini. Dengan demikan, semoga semakin banyak karya nyata mahasiswa yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia yang saat ini sedang kehausan akan karya-karya inovatif anak bangsa yang berkontribusi untuk perubahan, ke arah yang lebih baik. salam ilmiah!

Batas Pengumpulan proposal PKM Artikel Ilmiah dan Gagasan Tertulis untuk tahun ini diperkirakan pada bulan November, karena waktu PIMNAS yang akan dilaksanakan di Universitas Mataram Nusa Tenggara Barat diundur menjadi Bulan Desember.

This entry was posted on Sunday, June 16th, 2013 at 05:27 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.