Matematika Itu Bukan Hantu

1
Oleh IRFAN MUHAFIDIN
(Mahasiswa Pendidikan Matematika, FP MIPA UPI)

SELAMA ini, pelajaran matematika seakan-akan menjadi hantu gentayangan yang ditakuti sebagian pelajar, mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi yang masih belajar matematika. Hal tersebut juga membuat orang tua merasa khawatir karena matematika merupakan salah satu bidang studi yang diujikan secara nasional. Bahkan, juga untuk tes masuk perguruan tinggi. Tidak heran jika tempat les matematika semakin diburu, terlebih saat menjelang ujian.
Pada dasarnya, anak didik memang memiliki kelebihan dan kelemahan pada masing-masing mata pelajaran. Berbicara mengenai kelebihan dan kelemahan, tentunya perhatian orang tua dan guru sangat penting. Perhatian terhadap hal ini bertujuan agar guru dan orang tua bisa membantu anak mengembangkan bakat yang dimilikinya. Selain itu juga untuk membuat anak juga memiliki kemampuan yang baik dalam bidang studi yang menjadi kelemahannya. Sehingga, kemampuan anak tidak berada di bawah standar.
Kelemahan anak pada bidang studi matematika menjadi masalah yang sering dijumpai. Meski mendapatkan pembelajaran matematika yang sama di kelas, nyatanya masing-masing anak memiliki kemampuan yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh daya tangkap anak, ketertarikan, dan gangguan belajar yang lainnya. Jadi, anggapan ‘bodoh’ terhadap anak yang tertinggal dalam matematika merupakan kesalahan besar.
Salah satu yang bisa menjadi pemicu anak lemah pada pelajaran matematika adalah penggunaan otak kiri yang lebih dominan. Hal ini bisa disebabkan oleh strategi belajar yang digunakan. Anak yang hanya belajar angka tanpa tahu maksud dan peranan matematika dalam hidupnya akan lebih sulit memahami. Untuk mengatasinya, orang tua dan guru perlu pengetahuan tentang fungsi otak kiri dan kanan. Selain itu juga peranan media pembelajaran dalam menunjang kemampuan anak sangat diperlukan.
Otak manusia merupakan organ yang menyimpan dan mengendalikan seluruh tubuh manusia, mulai dari gerak hingga pemahaman ilmu pengetahuan. Otak terdiri atas dua bagian yang disebut dengan batang otak dan Korteks Serebral. Korteks Selebral inilah yang terbagi menjadi dua bagian yang disebut dengan otak kiri dan otak kanan.
Berdasarkan penelitian ahli, fungsi otak kiri dan kanan memiliki perbedaan yang tajam. Dalam hal pengendalian gerak, otak kiri mengendalikan semua anggota badan yang ada di sebelah kanan, termasuk muka bagian kanan. Sebaliknya, otak kanan mengontrol anggota badan dan wajah sebelah kiri. Jadi, dari segi pengontrolan fisik kedua otak ini saling silang.
Otak kanan melakukan peran khusus dalam mengenali musik dan pola-pola visual yang kompleks. Sedangkan, otak kiri mengendalikan kemampuan analitis, matematika, dan kemampuan berbahasa. Meski otak kiri mengendalikan kemampuan matematika, rupanya penggunaan otak kiri saja tidak cukup untuk membuat anak bisa menguasai matematika. Bahkan, malah membuat matematika menjadi pelajaran yang rumit dan absrak.
Peran otak kanan dalam mengenali pola audio dan visual yang kompleks memiliki peranan tersendiri dalam pembelajaran matematika. Dengan menggunakan otak kanan dan kiri yang seimbang, anak akan belajar matematika dengan menyenangkan. Selain itu, anak juga akan lebih tertarik karena matematika memang dirasa sangat nyata dengan kehidupan dan tidak hanya berupa angka-angka abstrak.
Matematika yang lebih banyak menekankan penggunaan otak kiri terbukti telah membuat pelajaran ini menjadi momok yang sangat tidak menyenangkan. Belajar Matematika sambil bermain yang dikaitkan dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari membuat peserta didik menyadari betapa pentingnya mempelajari Matematika. Mereka jadi tahu bahwa Matematika dapat mempermudah kehidupan mereka.
Misalnya, anak kelas satu sekolah dasar mulai belajar menghitung dengan memperhatikan semua benda yang ada di ruang kelas dan di luar kelas. Perintah yang dipakai guru. “Anak-anak, menghitung jumlah pohon di luar, yuk!” Anak yang kreatif malah ada yang bertanya, “Pohon yang kecil atau pohon yang besar, Bu? Pohon berdaun lebar atau pohon berdaun kecil?” Bila guru menjawab bahwa yang dihitung adalah jumlah pohon berdaun kecil-kecil saja, bayangkan saat di luar salah satu anak bertanya, “Boleh tidak menghitung semua jumlah pohonnya?” Inilah pertanyaan yang menunjukkan bahwa keinginan belajar yang lebih telah tumbuh di hati anak tersebut.
Konsep pengurangan lebih susah bila guru langsung memberikan rumusannya. Namun, jika anak-anak diminta berbaris, lalu jumlah barisan dikurangi satu per satu, anak bisa melihat konsep itu dengan lebih nyata. Setelah itu, suruhlah mereka berbelanja di koperasi sekolah. Mintalah membeli barang yang harganya lebih murah dari jumlah uang yang mereka punya.
Perkalian tentu jauh lebih susah dibanding penjumlahan dan pengurangan. Tetapi konsep ini akan lebih mudah ketika anak telah memahami konsep penjumlahan. Misalnya guru menerangkan bahwa 3×4 itu sama dengan 3 + 3 + 3 + 3. Kita menggunakan konsep penjumlahan agar konsep yang terdahulu masih bisa diterapkan pada konsep-konsep selanjutnya.
Konsep dasar matematika yang terakhir adalah konsep pembagian ini akan jauh lebih susah dibanding konsep-konsep yang lainnya. Misalnya kita mempunyai kelereng dengan jumlah10 dari jumlah tersebut kita suruh anak untuk membagikan kelereng tersebut kepada 2 temannya dengan jumlah yang sama tiap temannya. Hal itu akan lebih memudahkan anak memahami konsep pembagian.
Setelah anak mengenal bagaimana menggunakan konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian dalam kehidupan sehari-hari, barulah guru menerangkan lambang dan cara proses penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian dijalankan. Cara ini lebih efektif untuk pembelajaran matematika yang berupa angka-angka. Dengan demikian, anak akan belajar dengan tujuan yang jelas.
Informasi dan rumus matematika yang masuk ke dalam otak akan disimpan ke dalam memori. Namun, dalam otak sendiri terdapat dua jenis memori yaitu memori jangka pendek dan jangka panjang. Jika informasi dan rumus tersebut masuk ke dalam memori jangka panjang, bisa meningkatkan kemampuan anak dalam menguasai matematika. Jika sebaliknya, memori tersebut akan hilang dan anak akan kesulitan jika menemui persoalan yang membutuhkan informasi tersebut.
Nah, sekarang persoalannya, bagaimana cara agar informasi tersebut masuk ke dalam memori jangka panjang? Jawaban pastinya adalah rumus dan informasi tersebut harus secara berulang-ulang dilatihkan pada anak, disinilah peran orang tua yang mengontrol anaknya dan membantu anaknya agar terus berlatih dan berlatih.
Selain siswa harus sering berlatih peran guru dan orang tua dalam membuat strategi dan menyediakan media belajar yang terencana dengan baik, pengajar bisa memberikan miniatur lingkungan yang memang dekat dengan matematika. Otak kanan menjadi ikut terlibat karena pembelajaran yang didapat tidak berupa sesuatu yang abstrak. Jadi, anak benar-benar merasakan sendiri bahwa matematika memang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Media dan strategi yang digunakan tentu harus disesuaikan dengan kompetensi yang harus dikuasai. Pengajar atau orang tua bisa menggunakan balon, bola berwarna, tabel, video, hingga benda-benda yang dekat dengan anak sebagai media. Strategi yang dibuat harus menyenangkan dan mencakup seluruh kegiatan, mulai dari awal hingga evaluasi.

This entry was posted on Thursday, March 7th, 2013 at 04:27 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

~ dilihat : 687 kali ~