Maaf dan Terima Kasih

1

Oleh INTAN MAR ATUS SHOLIHAH

(Mahasiswi Prodi International Program On Science Education 2012)

BANGSA Indonesia dikenal oleh bangsa lain sebagai bangsa yang kaya akan budaya dan kental dengan kesantunannya. Akan tetapi, dalam kenyataannya sekarang ini banyak anak-anak Indonesia yang mulai acuh dengan kebudayaannya dan mulai meninggalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyang kita dan cenderung menjadikan bangsa kita mengalami krisis moral.

Satu hal sederhana saja yang sekarang ini mulai diremehkan oleh orang-orang di bangsa kita yaitu berterimakasih. Terima kasih. Satu frasa sederhana yang menunjukkan penghargaan kita terhadap seseorang yang telah memberikan sesuatu kepada kita. Satu frasa yang mudah dan singkat untuk diucapkan akan tetapi kerap kali dilupakan atau sengaja tidak diucapkan karena gengsi. Satu hal yang terkesan tidak penting akan tetapi akan memberi sebuah kepuasan batin tersendiri bagi penerimanya ucapan tersebut.

Budaya berterimakasih seharusnya diterapkan sejak kecil sampai kita dewasa dan beranjak tua. Orang lain yang membantu kita dengan ikhlas memang tidak mengharapkan apapun dari kita, tidak mengharap imbalan dari kita. Akan tetapi apabila kita tidak mengucapkan terima kasih, bisa jadi orang tersebut akan merasa tidak enak karena khawatir bahwa apa yang ia lakukan dengan niat membantu justru tidak membantu malah menambah masalah dan tak menutup kemungkinan ia justru menjadi tersinggung karena tak ada penghargaan sedikitpun atas usahanya. Oleh karenanya, sekecil apapun bantuan orang lain untuk kita, kita harus hargai. Paling tidak dengan berterimakasih. Tak perlu melihat siapa yang membantu kita. Tak peduli itu anak kecil, teman sebaya atau orang yang lebih tua.

Rasa gengsi terkadang muncul dari dalam diri kita karena merasa malu untuk mengucapkan terima kasih. Hal itu perlu dibuang jauh-jauh. Berterimakasih haruslah dibudayakan. Bukankah sejak kita kecil kita sudah diajarkan untuk saling menghormati dan menghargai lewat pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang bahkan saat kita berkuliahpun masih kita temui? Lalu apa gunanya ajaran-ajaran masa yang sudah diberikan bila tidak diterapkan?

Di masing-masing agama, menghargai dan menghormati orang lain juga pasti diajarkan. Selain diajarkan untuk selalu mensyukuri nikmat Tuhan, sebagai makhluk sosial kita juga diajarkan untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia baik dengan sesama umat beragama maupun antar umat beragama. Membudayakan terima kasih akan sangat membantu untuk menjaga kebersinambungan antar umat beragama pula.

Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, budaya berterimakasih seharusnya justru kian diperkuat karena hubungan bangsa Indonesia dengan bangsa lain menjadi lebih mudah. Orang-orang dari bangsa lain akan dapat merasa lebih terkesan dengan budaya kita bila kita menunjukkan sisi positif dari bangsa kita, salah satunya adalah dengan membiasakan diri untuk menghargai orang lain dan cara paling sederhana dengan membiasakan diri untuk berterimakasih itu.

Selain berterimakasih budaya mengucapkan maaf juga menjadi sebuah hal yang sangat sulit diterapkan oleh sebagian orang. Padahal, mengucapkan maaf adalah sebuah hal yang sangat penting apabila kita melakukan kesalahan. Memang benar, memaafkan seseorang terlebih dahulu sebelum orang yang berbuat salah meminta maaf kepada kita adalah lebih baik. Akan tetapi, hal itu tidaklah dengan mudahnya dijadikan alasan kuat untuk kita tidak meminta maaf kepada orang yang kita sakiti. Meminta maaf bukanlah hal yang memalukan seperti yang dipikirkan oleh kebanyakan orang. Meminta maaf justru bisa membuktikan bahwa kita bukanlah seorang pecundang yang tidak mau mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Meminta maaf juga bisa membuat orang yang kita sakiti menjadi tidak lagi berprasangka buruk pada kita dan merasa lebih dihargai.

Biasanya seseorang akan merasa sangat sulit untuk meminta maaf kepada anggota keluarganya karena malu. Mereka orang yang bersalah merasa tanpa meminta maaf, anggota keluarganya pasti akan memaafkan kesalahan yang ia perbuat. Orang yang bersalah tidak sadar bahwa kekuatan kata maaf akan semakin mendekatkan mereka. Setidaknya anggota keluarga yang dimintai maaf akan bertambah rasa pedulinya terhadap orang yang bersalah sehingga orang yang melakukan kesalahan akan segan untuk melakukan kembali kesalahannya dan akan lebih berhati-hati dalam bertindak supaya tidak akan lagi menyakiti atau mengecewakan keluarganya.

Kita harus berani meminta maaf apabila kita melakukan kesalahan. Tak peduli siapapun objek yang merasa dirugikan. Entah itu bawahan, atasan, entah orang miskin, orang kaya, entah itu dari anggota keluarga atau bukan. Tak usah takut permintaan maaf kita tak diterima. Tuhan saja Maha Pemurah. Jadi apabila orang yang kita mintai maaf tidak memaafkan kita, itu berarti dia tidak bijak dan menutup hatinya. Hal itu justru akan merugikan dirinya sendiri. Selain kemungkinan prasangka buruk yang akan ia terima dari orang-orang sekitar, orang yang tak mau menerima maaf juga akan mengalami konflik batin jika ia suatu saat membutuhkan Anda.

Intinya, untuk membangun kembali budaya bangsa agar lebih baik, kita harus memulainya dari hal kecil seperti mengucapkan terimakasih dan mengucapkan maaf, dan memulai hal-hal baik mulai dari objek paling dekat yaitu diri kita sendiri.

This entry was posted on Friday, March 22nd, 2013 at 11:57 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

~ dilihat : 641 kali ~