Guru Profesional

Vitalis

Oleh: VITALIS JEBARUS

(Peserta PPG-SM-3T angkatan I UPI)

 

Profesionalitas Dalam Mengajar

MENGAJAR merupakan suatu representasi esensi diri seseorang guru yang berpengaruh pada mental dan perilaku pembelajar. Esensi diri dalam konteks ini tidak hanya menyentuh performansi yang tampak kasat mata, tetapi lebih dari itu, menyangkut sejumlah noumena yang terintegrasi di balik yang lahiriah itu. Noumena-noumena itu adalah keseluruhan potensi diri; pengetahuan, keterampilan, afeksi, dan sejumlah sifat atau kualitas lain yang melekat dalam diri guru.

Seorang guru bisa mengajar dengan baik bila noumena-noumena itu teraktualisasi dalam tindakan mengajar dan memberikan elumenasi terhadap mental dan prilaku subjek didik sehingga pada akhirnya guru memiliki predikat  sebagai katalisator, transformator,  model, cerminan diri peserta didik, dan lain-lain.

Selain itu, mengajar juga berarti membuat siswa terlibat aktif, kreatif, inovatif, konstruktif dan dinamis dalam belajar. Agar terciptaya kegiatan belajar yang aktif, kreatif, inovatif, konstruktif dan dinamis maka guru harus mampu menggerakan spirit dari setiap noumena yang ada kearah itu. Efektifitas diri unggul terwujud  dalam pembelajaran kalau guru berhasil mengembangkan siswa menjadi peribadi unggul dalam segala dimensi, baik fisik maupun mentalnya.

Pembentukan Diri Unggul Melalui Belajar yang Konstan dan Terfokus

Pembentukan diri unggul seorang guru terjadi melalui belajar secara terus-menerus. Belajar sepanjang hayat adalah salah satu prinsip profesionalitas menurut UU No 14 2005, (Alwasilah:27).

Bagaimana substansi belajar guru? Substansi belajar seorang guru sangat berbeda dengan substansi belajar seorang anak yang sedang belajar. Perbedaanya terletak pada soft instruction goal-nya. Anak belajar supaya terbentuk mental dan perilakunya. Mental dan perilaku yang diharapkan masih bersifat umum dan belum terfokus pada scope karier tertentu. Kompetensi yang ditekanpun belum tertuju pada kompetensi profesinya.

Sebagai contoh Reni belajar di SMP selama tiga tahun. Perubahan perilaku yang tampak pada Reni adalah bisa mengerjakan; tugas, soal ulangan/ujian, rajin, disiplin, dan belum terfokus pada skill yang dituntut oleh suatu dunia profesi. Belajar yang terfokus ke dunia kerja belum menjadi kebutuhannya karena spesifikasi profesi yang akan digelutinya masih merupakan mimpi baginya.

Pak Remon guru Reni melakukan kegiatan belajar. Belajar yang dilakukan oleh pak Remon bertujuan untuk membentuk mental dan perilaku juga. Perubahan mental dan perilaku yang diharapkan adalah terbentuknya pengetahuan, skill, keterampilan, dan afeksi yang adaptasi dengan kebutuhan terkini dalam lingkungan profesinya. Perubahan pengetahuan akan membantu dia untuk menemukan pemecahan terhadap pelbagai persoalan yang terjadi dalam dunia kerjanya.

Belajar  Inovatif Berfokus pada Kebutuhan Pragmatis dan segala Masalahnya

Substansi belajar seorang guru adalah pembentukan sifat dan perilaku yang tertuju pada suatu kebutuhan pragmatis yaitu membentuk kompetensi-kompetensi profesinya sebagai guru dan pendidik. Belajar yang sedang dilakukan oleh guru menjadi terfokus apabila guru memahami pelbagai persoalan dan masalah yang sedang terjadi dalam dunia profesinya. Agar bisa mengetahui pelbagai persoalan dan solusi yang akan ditempu maka guru melakukan pengamatan secara cermat. Pengamatan itu bukan untuk memenuhi tuntutan tertentu tetapi lebih kearah bagaimana menemukan solusi terhadap persoalan-persoalan dalam pembelajaran.

Tujuan pengamatan yang cermat itu  adalah untuk menemukan korelasi causal-effect antara variabel-variabel yang ada. Sebagai contoh, kalau karakter anak sebagai spot  masalah maka guru perlu mempelajari secara serius, mengapa itu terjadi, apa penyebanya, apa indikasi anak yang memiliki karakter yang bermasalah, apa pengaruhnya terhadap diri anak dan lingkungannya, kemudian bagaimana cara mengatasi permasalahan itu. Dalam koteks ini guru tidak cukup efektif kalau hadir dalam kapasitas sebagai model atau cerminan tampa mempelajari akar persoalan. Guru bisa hadir sebagai model atau cerminan bagi anak bila penyebabnya adalah guru. Kalau anak terlambat karena meniru gurunya yang sering terlambat maka saat itulah guru hadir sebagai model/cerminan bagi anak.

Kalau anak terlambat datang ke sekolah karena bangun telat atau orang tuanya suruh bekerja dulu sebelum ke sekolah maka “model” guru bukanlah solusi yang relefan dan tepat dengan masalah ini. Kalau anak-anak tidak mengerti karena gurunya tidak menjelaskan materi ajar dengan baik maka guru itu perlu memperbaiki cara mengajarnya. Kalau anak-anak tidak  mengerti karena tidak belajar maka yang perlu diatasi adalah bagaimana cara meningkatkan keaktivan belajar siswa. Guru harus memiliki kemampuan tambahan dalam mengeksplorasi pelbagai persoalan dalam pembelajaran di kelas.

jebranus 1

Kompetensi Kepribdian dan Kompetensi Sosial Guru Terbentuk dari Lingkungan Keluarga, Lingkungan Budaya dan Sekolah

Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial seorang guru tidak bisa terbentuk tampa ada wadah yang membentuknya. Wadah pembentukan kedua kompetensi itu adalah keluarga, lingkungan budaya dan sekolah. Dalam lingkungan keluarga guru berusaha untuk mencinta dan menerima keberadaan masing-masing individu yang ada, menghormatinya dan solider dengan anggota keluarganya. Tanggung jawab dan sikap hidup yang baik pertama-tama tumbuh dan berkembang dalam lingkungan ini. Regulasi dan norma-norma spontan yang terbentuk dalam keluarga turut berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan karakter pribadi dan sosial seorang guru. Semangat renda hati, rekonsiliasi, bertanggung jawab, disiplin, jujur, berani berkata dan bertindak secara benar, bertagwa semuanya terlatih dan terbentuk dalam lingkungan kecil ini.

Selain lingkungan keluarga, pembentukan karakter guru juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan budayanya. Lingkungan budaya adalah tempat yang baik bagi pembentukan identitas seseorang guru yang berbudaya. Dalam lingkungan budaya seorang guru “diciptakan” menjadi manusia berbudaya. Saya adalah seorang guru yang berbudaya Manggarai karena saya dibesarkan dalam komunitas Manggarai. Sikap cinta terhadap pelbagai perbedaan yang lebih kompleks mulai terjadi di lingkungan ini, dan di sini juga terjadi penyerap nilai-nilai yang berlaku umum dalam hidup bersama.

Demikianpun lingkungan sekolah. Di sekolah guru mempelajari karakter orang sesuai dengan latar dan tingkat pengetahuannya, baik guru, maupun muridnya. Kepribadian dan guru menjadi tampak bila guru mampu mengaktualiasaikan diri bagi individu-invidu yang memiliki keragaman pengetahuan itu. Tidak jarang pula, keragaman pengetahuan yang dimiliki akan menguji kesabaran dan mendorongnya untuk mencari pemecahan atas masalah-masalah yang disebabkan oleh perbedaan pengetahuan dan keterampilan yang ada.

Jadi pembentukan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial guru memerlukan komunitas hidup bersama. Komunitas-komunitas itu adalah lingkungan keluarga, lingkungan budaya dan lingkungan sekolah. Nilai-nilai positif yang diserap dari ketiga lingkungan itu turut berpengaruh bagi pembentukan sikap, perilaku seorang guru. Pematangan akan terlihat jika seorang guru mampu merealisasikan diri sesuai dengan tuntutan dan karakter masing-masing individu yang ada dalam setiap lingkungan sosial yang berbeda itu.

This entry was posted on Wednesday, May 8th, 2013 at 02:28 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.