Fashion dan Mahasiswi

1

Oleh NUR IDA MAULIDA

(Mahasiswa  Prodi International Program on Science Education, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UPI)

BAGI beberapa golongan warga kampus, terutama kalangan mahasiswi, dunia fashion memang menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, beberapa mahasiswi mengatakan, “Nggak akan pergi ke kampus deh kalau kehabisan stok baju trendi. Hehehe.”Canda mereka.  Bagi mereka, tampil modis merupakan salah satu modal utama untuk meningkatkan percaya diri. Dengan percaya diri mereka akan lebih merasa nyaman untuk bergaul dengan banyak orang tanpa merasa risih dengan diri mereka sendiri.

Ketertarikan pada dunia fashion pada awalnya lebih didominasi oleh kalangan mahasiswi tertentu saja, seperti mahasiswi non-muslim dan beberapa muslimah yang tidak mengenakan kerudung. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, para jilbaber atau hijabers-pun turut andil dalam perkembangan mode masa kini. Tidak sedikit hijabers yang secara rutin meluangkan waktunya hampir setiap bulan bahkan setiap weekend untuk pergi shopping atau sekedar window shopping bersama teman-teman.2

Lebih dalam mengulik tentang dunia fashion, beberapa mahasiswi yang mengenal dengan baik tentang dunia fashion berpendapat, seseorang yang senang mengaplikasikan dunia fashion dalam kesehariannya biasa dikenal dengan istilah fashionista. Seseorang bisa dikatakan sebagai fashionista yang fashionable apabila ia sangat memprioritaskan penampilannya saat bepergian, pergi ke kampus, bahkan saat santai sekalipun. Jadi, tidak heran kalau mereka sering disebut dengan julukan Miss mach, miss fashionable, dan berbagai julukan lainnya, karena mereka memang sangat suka memakai dan membeli baju-baju yang match dan mix.

Menanggapi tentang opini bahwa mahasiswi fashionista yang fashionable itu pasti akan boros dan membutuhkan banyak uang untuk membeli barang-barang yang up to date dan branded, sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar, karena pada kenyataannya ada dua tipe fashionista. Fashionista yang pertama adalah fashionista jenis innovative, jenis yang pertama ini cenderung jauh dari kesan boros, karena kebanyakan dari mereka adalah fashionista yang memiliki kemampuan mengeluarkan gaya unik dan dapat menghasilkan berbagai karya dalam menginovasi pakaian-pakaian yang sudah lewat dari masa jayanya, dengan kata lain jadul. Sedangkan jenis yang kedua adalah fashionista yang memang cenderung membutuhkan barang-barang yang baru dan branded masa kini, sehingga membutuhkan budget yang tidak sedikit untuk memenuhinya.

Dipandang dari kacamata penulis, sebagai seorang mahasiswi, kita harus bersikap arif dalam menyikapi hobi dan keinginan, terutama masalah yang terkait dengan dunia fashion. Hidup hemat itu perlu, karena hidup bukan saja dihabiskan untuk sekedar tampil trendi. Kesenangan terhadap dunia fashion dapat disikapi secara positif dengan menyalurkan  melalui pengembangan aplikasi ilmu desain bahkan sampai berjualan pakaian sebagai usaha sampingan. Lalu, bolehkan tampil trendi? Jawabannya, boleh saja, asalkan dibatasi dan disesuaikan dengan aturan agama yang kita anut serta adat ketimuran,dan disesuaikan dengan tingkat kondisi kenyamanan kita.

This entry was posted on Wednesday, February 27th, 2013 at 07:27 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

~ dilihat : 715 kali ~