Curug Cinulang Air Terjun Paling Jauh

curug cinulang

Oleh Lina Barokah

Mahasiswi Manajemen Resort and Leisure FPIPS UPI

Kota Bandung seringkali disebut sebagai Kota Kuliner, karena di Kota Kembang ini terdapat tempat aneka makanan untuk dinikmati bahkan untuk dijadikan oleh-oleh bagi keluarga ataupun kerabat. Namun, selain sebagai kota kuliner, Kota Bandung juga terkenal dengan daerah parawisata, berbagai tempat parawisata yang ada di kota ini menjadi buruan para turis baik lokal maupun mancanegara. Uniknya lagi beberapa tempat wisata sering dikaitkan dengan mitos sehingga ini menjadi daya tarik tersendiri.

Salah satu tempat wisata yang sering dikunjungi adalah Curug Cinulang. Dulu mitos yang ada di curug ini ialah jikalau ada orang yang berpacaran di Curug Cinulang nanti hubungan mereka akan cepat berakhir atau putus. Tapi kalau sendirian ke sana tanpa punya pacar  akan mendapatkan jodoh dan jodoh itu bukan berarti orang asli Curug Cinulang tetapi bisa saja dari orang yang sedang liburan atau yang lainnya.

Sebagai curug yang terletak paling jauh dari pusat Kota Bandung mengakibatkan para penggemar olah raga lintas alam dari Bandung menamakannya dengan “Curug Penjauhna” yang artinya air terjun paling jauh. Meskipun demikian curug ini lebih populer dengan nama Curug Cinulang. Lokasi curug Cinulang ini berada dekat dengan perbatasan antara Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Garut dengan jarak sekitar 38 km dari Kota Bandung ke arah Timur. Selepas tol Cileunyi dari arah Bandung, anda harus berjalan sejauh kurang lebih 11 km ke arah Kabupaten Garut, nanti akan terdapat sebuah papan penunjuk lokasi wisata Curug Cinulang untuk kemudian berjalan lagi sejauh kurang lebih 2,5 km lagi ke arah timur sebelum akhirnya tiba di lokasi.

Meskipun letaknya cukup jauh, pengunjung yang datang ke lokasi ini cukup banyak juga, mengingat curug ini mempunyai ketinggian dan debit air yang cukup besar. Liburan akhir tahun 2004 lalu, pengunjung objek wisata ini sangat banyak sekali. Puluhan mobil nampak berjejer hingga keluar dari area parkir yang memang tidak terlalu besar untuk menampung semua mobil yang datang berkunjung. Pengunjung yang didominasi kaum muda-mudi ini nampak datang secara berpasangan maupun bergerombol menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Dari area parkir pengunjung mesti berjalan kaki sejauh +/- 100 meter untuk mencapai lokasi air terjun. Sepanjang perjalanan, banyak sekali warung penjual makanan maupun aksesories di kanan-kiri jalan. Jumlah pengunjung yang membludak saat itu ditambah dengan kondisi jalan tanah yang licin karena basah terkena tetesan air yang berasal dari pakaian pengunjung sehabis bermain air, diperlukan kewaspadaan yang tinggi saat menuruninya agar tidak tergelincir.

Sesampai di bawah, terlihat dua air terjun di lokasi wisata ini. Air terjun utama mengalir dengan derasnya “didampingi” air terjun lain yang merupakan pecahannya dengan debit air yang jauh lebih kecil. Sementara yang satu lagi berjarak 30 meter lagi ke arah barat dan mengalir dari dinding tebing yang berada di selatan. Air yang kedua ini juga tidaklah sebesar dan sederas air terjun pertama dan memiliki ketinggian yang sedikit lebih rendah. Begitu derasnya air terjun yang mengalir di air terjun utama, mengakibatkan para pengunjung tidak ada yang berani bermain air atau menikmati limpahan air terjun ini tepat dibawahnya. Umumnya pengunjung lebih memilih bermain air dengan jarak 5 meter dari kolam limpahan air. Sebagian lagi menikmati air terjun dari jembatan yang melintasi sungai yang tentunya semakin mempersulit pengunjung lainnya bila ingin menyeberangi sungai melalui jemabatan tersebut karena lebar jembatan itu sendiri hanya sekitar satu meter.

Selain menikmati air terjun, pengunjung yang datang umumnya juga mencoba mendaki bukit yang terletak di seberang sungai. Ketika mendaki menyusuri jalan setapak yang ada, di kanan kiri jalan masih banyak juga terdapat warung kecil yang tak henti-hentinya menyapa sambil menawarkan dagangannya. Cukup melelahkan mendaki bukit kecil ini, untungnya jalan setapak yang ada, berada di bawah rindangnya pohon sehingga mampu meredam panasnya matahari yang bersinar cukup terik.

Rupanya di bagian atas tepat di samping sungai dari air terjun utama terdapat lokasi bermain bagi anak-anak. Lokasi permainan anak yang sederhana, karena terdiri dari sebuah ayunan dan bangunan Panjat Tangkas. Bila diperhatikan secara seksama seharusnya terdapat tiga buah ayunan namun yang dua rupanya telah lepas/rusak. Beberapa anak kecil nampak bersemangat bermain di lokasi ini, tanpa menghiraukan sinar matahari yang cukup menyengat karena lokasi bermain terltak di area terbuka tanpa ada pohon atau tanaman yang menaunginya.

Mungkin bila wisatawan yang datang berkunjung tidak sebanyak saat itu, jadi bisa lebih menikmati suasana alam dan lebih bebas bermain air tanpa perlu berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Saat itu yang bisa dilakukan hanyalah mencoba menikmati air terjun dari kejauhan diantara riuh rendahnya teriakan pengunjung yang sedang asik bermain air.

This entry was posted on Monday, February 4th, 2013 at 03:22 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

~ dilihat : 441 kali ~