Cermin Kecil Dari Serambi Mekkah

maghfiratun

Oleh: MAGHFIRATUN RINA

(Mahasiswi Pendidikan Matematika FPMIPA UPI)

 

Unik dan menarik, dua kata yang tak lepas dari ciri khas kebudayaan Indonesia. Bermula dari Sabang sampai Merauke, kebudayaan bangsa yang tidak terhitung banyaknya. Tarian, upacara adat, seni lukis, sampai makanan pun ada di dalamnya. Tak heran jika Indonesia dinobatkan sebagai zamrud khatulistiwa.

Enam puluh tujuh tahun lamanya Indonesia merdeka, tapi bukan berawal dari itu kebudayaan bermula. Itu sudah turun-temurun jauh sebelum Indonesia merdeka. Nenek moyang kita telaten menurunkan warisan berharga kepada generasi penerus. Mari kita lihat budaya Dayak nun jauh di kalimantan sana, tradisi memakai anting-anting besar dan banyak memberi kesan pelestarian yang menakjubkan. Tarian Dayak dengan hiasan bulu dan senjata kayu yang tersampir indah, menunjukkan betapa hebatnya seni ukir yang terpahat. Belum lagi dengan keindahan pantai yang terpampang di pulau Lombok dan Bali, objek wisata tersebut mengundang banyak turis yang mengunjungi setiap harinya. Sungguh karunia Allah yang tiada bandingannya.

Amerika boleh saja dijuluki sebagai negara Adi Kuasa. Akan tetapi, pernahkah terbayang bagaimana keadaan Amerika, Inggris, bahkan dunia tanpa adanya Indonesia? Indonesia sebagai penyuplai terbesar oksigen bagi dunia, yang apabila seluruh hutan yang ada di Kalimantan dibakar, maka tamatlah dunia ini.

Lalu, coba kita lihat dengan keadaan masyarakat kita sekarang, yang sangat krisis akan kepedulian terhadap negara Indonesia. Kebanyakan lebih menyukai barang impor yang diagung-agungkan, sedangkan barang dalam negeri dianggap tidak berkualitas. Juga banyak yang terpengaruh dengan budaya-budaya luar negeri seperti Korea, sedangkan budaya kita sendiri kurang apresiasi.

Fast food yang sudah menjamur dimana-mana, padahal makanan tersebut sangat tidak bagus untuk kesehatan. Begitu juga dengan dunia entertainment sangat mempengaruhi budaya kita, yang kebanyakan menyorot tentang budaya-budaya luar negeri, bahayanya, berita tersebut tidak hanya ditonton oleh kaum ibu, akan tetapi para remaja, bahkan anak-anak kecil, Sehingga mempengaruhi pemikiran anak-anak tersebut. Dan lagi adanya bahasa-bahasa gaul yang dipakai sehari-hari, hal tersebut juga menjadikan pengaruh banyak dalam penggunaan kata serapan dari bahasa asing.

Lalu, patutkah kita berbangga dengan hal ini? Tentunya tidak. Kita bisa saja bercermin pada salah satu daerah di ujung Sumatera yaitu Aceh. Banyak kaula muda di Aceh yang hingga sekarang berbangga dengan kebudayaan yang ada di Aceh. Salah satu buktinya adalah tarian Saman yang sangat masyhur hingga keluar negeri, bahkan hingga sekarang banyak yang mempelajari tarian tersebut. Walaupun begitu, masyarakat Aceh tidak berpuas diri, akan tetapi mereka berusaha untuk memperkenalkan kebudayaan lainnya yang mereka miliki kepada dunia.

Upaya yang dilakukan oleh masyarakat Aceh salah satunya adalah dengan mengadakan PKA (Pekan Kebudayaan Aceh), dengan didukung oleh pemerintah Aceh, masyarakat mengadakan acara tersebut empat tahun sekali. Pada acara tersebut, setiap daerah memperkenalkan dan menampilkan kebudayaannya masing-masing, seperti rumah dan pakaian adat, makanan khas, benda-benda bersejarah dan lain-lain. Dengan tujuan memperkenalkan pada generasi muda dan untuk menarik pengunjung daerah Aceh. Dan pula acara ini disambut dengan sangat antusias oleh warga Aceh.

Setelah menelaah lebih jauh mengenai wacana di atas, sudah selayaknya kita sebagai warga Indonesia mengikuti langkah seperti yang dilakukan oleh warga Aceh untuk mencintai dan melestarikan kebudayaan kita sebagai salah satu wujud kecintaan kita terhadap Indonesia dan rasa syukur kita kepada Allah yang Kuasa.

This entry was posted on Wednesday, March 13th, 2013 at 08:15 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

~ dilihat : 423 kali ~