Budaya Akademik dan Organisasi untuk Membangun Karakter dan Kecerdasan Bangsa

1

Oleh DUDIH SUTRISMAN

(Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS UPI)

HILIR mudiknya pemberitaan tentang pendidikan nasional di negeri ini datang silih berganti, berawal dari beragam permasalahan bangsa yang terus mendera, dimana permasalahan itu timbul sebagai bukti bahwa negeri ini telah mengalami degradasi moral dimana generasi muda Indonesia yang hidup pada era modern disuguhkan dengan beragam produk budaya barat yang kian lama kian mengakar dalam keseharian masyarakat sebagai akibat dari globalisasi.

Produk budaya barat yang menampilkan sisi-sisi tanpa memandang norma ini menyerbu segala aspek kehidupan, sejak bangun hingga tidur lagi tidak lepas dari produk barat. Permainan yang dimainkan anak-anak pun lebih banyak mengandung unsur budaya barat sehingga anak tersebut sebagai generasi penerus bangsa terus diracuni oleh nilai-nilai barat yang tak memandang etika serta penuh dengan kekerasan dan hal-hal negatif lainnya.

Sebagai masyarakat yang selalu bangga dengan adat ketimurannya yang santun dan penuh dengan nilai norma, beberapa waktu lalu Indonesia melalui pemerintahannya mencanangkan konsep yang disebut dengan pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang dicanangkan pemerintah ini memang bertujuan untuk memperbaiki kualitas manusia Indonesia yang kian terpuruk.

Nilai-nilai pancasila yang memiliki makna filosofis tinggi kian hari kian pudar dari keseharian masyarakat Indonesia, sedikitnya akan digaungkan kembali dengan konsep pendidikan karakter tersebut. Pendidikan Karakter ini sangat berkaitan dengan nilai-nilai luhur Pancasila.

Sejak tumbangnya orde baru pada 1998, paradigma massa menjadi negatif terhadap Pancasila yang kerapkali digunakan oleh pemerintah Orde Baru sebagai alat untuk mewujudkan pembangunan nasional. Ditambah lagi oleh kurikulum pendidikan nasional yang kala itu secara bertahap menghilangkan nama Pancasila dalam salah satu mata pelajaran pokoknya. Materi kurikulum pun sudah mulai berubah, dahulu ketika duduk di bangku sekolah dasar (SD) kita masih mempelajari akan bagaimana budi pekerti yang baik, musyawarah yang baik dan masih banyak lagi yang merupakan implementasi nyata dalam kehidupan kelak dari sila-sila yang ada dalam Pancasila tersebut namun kini materinya hanya sebatas pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan politik kenegaraan dan hukum.

Memperbaiki karakter manusia Indonesia yang menggambarkan nilai-nilai luhur pancasila memang tak semudah membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan dan proses yang panjang untuk mencapainya. Karakter manusia sangat menentukan pada pola pemikiran, perilaku, dan kemampuan intelegensinya. Hal tersebut adalah setali tiga uang, saling berkaitan. Jika karakternya sudah baik maka ia akan selalu berusaha berlaku positif dan meninggalkan yang negatif.

Universitas Pendidikan Indonesia sebagai kampus pencetak calon pendidik di masa yang akan datang perlu sekiranya untuk mengaplikasikan kehidupan atau keseharian yang selalu menampilkan serta menjiwai nilai pancasila. Salah satu bentuk nyatanya adalah tak lain dan tak bukan adalah dengan turut berperan aktif dalam beragam organisasi kemahasiswaan yang ada di UPI. Kampus telah memfasilitasi namun akibat dari gencarnya budaya barat yang hedonis dan individual, mahasiswanya kini banyak yang tak peduli pada pengembangan softskill yang hanya bisa didapat di organisasi.

Budaya organisasi mesti ditanamkan kembali pada para mahasiswa UPI, stigma bahwa seorang aktivis kampus IP (Indeks Prestasi) nya selalu rendah. Itu bagi penulis adalah omong kosong belaka. Jika aktivis itu berat sebelah dalam artian lebih mementingkan organisasi dibanding dengan akademis pastilah akan memiliki IP rendah, sebab itu berarti dia sudah malas untuk kuliah. Jika lebih focus pada akademis juga tidak benar sebab dia nantinya akan jadi insan yang penuh dengan teori belaka sebab aplikasi teorinya lebih banyak didapat di organisasi. Jadi alangkah lebih baiknya jika kita menjadi seorang akademisi-organisatoris, sehingga kedua aspek itu pun sama kuat dalam pribadi kita.

Budaya organisasi yang erat kaitannya dengan kegiatan bernama rapat juga sebuah pembelajaran yang sangat penting dalam pengaplikasian sila “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Pengaplikasian seperti itulah yang membuat nilai-nilai pancasila dapat menjadi sebuah kekuatan tersendiri dalam diri seorang individu.

Sebagai laboratorium kehidupan, seluruh elemen yang ada di UPI semestinya mendukung dan atau bahkan mendorong mahasiswanya untuk aktif berorganisasi sebab sebagai orang yang dicetak menjadi seorang pendidik, mahasiswa UPI ini akan tersebar di berbagai pelosok negeri sehingga akan membawa virus yang bernama karakteristik pancasila pada generasi muda yang kelak akan menjadi anak didiknya.

Melihat realita yang ada tersebut alangkah lebih baiknya pemerintah kembali menggalakkan semangat Pancasila, tanamkan pada seluruh warganya utamanya para pemuda sebagai calon pemimpin bangsa ini akan nilai-nilai luhur Pancasila mulai dari hal terkecil sekalipun karena bagaimanapun juga Pancasila adalah soko guru dari segala aspek dalam kehidupan negeri ini. Jangan sampai Pancasila tidak memiliki ruang lagi dalam benak dan jiwa bangsa ini, jika berlanjut, mau dibawa kemana negeri ini?

Mari mulai saat ini, detik ini kita bersama-sama mengaplikasikan setiap nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila agar pancasila tidak hanya menjadi symbol semata namun benar-benar merasuk dalam kepribadian kita. Sehingga dari kumpulan terkecil kampus Bumi Siliwangi akan tersebar ke seluruh pelosok nusantara, niscaya karakter manusia Indonesia akan kuat kembali dan manusia Indonesia yang cerdas akan terwujud.

This entry was posted on Thursday, August 22nd, 2013 at 03:02 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

~ dilihat : 300 kali ~