Bahasa Asing vs Bahasa Lokal

Oleh MOCHAMAD ADI LEVY
(Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Kelas B, FP IPS, UPI)

DEWASA ini, di era serba global, perkembangan bahasa asing di negara kita cukup pesat. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya sekolah-sekolah yang memiliki taraf dan tarif internasional. Bahasa pengantar atau bahasa sehari-hari yang digunakan di sana sudah barang tentu bukan lagi bahasa Indonesia. Namun, digantikan oleh penggunaan bahasa Inggris secara intensif. Hal ini dilakukan oleh sekolah-sekolah itu untuk mempersiapkan murid-murid mereka, untuk menghadapi tantangan global. Belum lagi, kaum muda-mudi penerus bangsa ini yang lebih berbangga diri ketika menggunakan bahasa asing sebagai lingua franca mereka. Karena mereka menganggap bahasa Indonesia sudah ketinggalan zaman, sedangkan penggunaan bahasa Inggris mereka anggap sebagai gengsi.

Fenomena di atas membuktikan, bahwa eksistensi bahasa pemersatu bangsa ini, tengah terancam oleh serangan dari luar. Bahasa yang diperjuangkan dengan darah dan air mata, secara perlahan mulai tergeser dengan penggunaan bahasa asing di kehidupan sehari-hari. Kebanyakan dari mereka berdalih bahwa jika kita tidak berbicara bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Maka kita dianggap sebagai bangsa yang tertinggal, dan akan tergilas oleh laju globalisasi yang semakin merajalela.

Nampaknya generasi sekarang mulai melupakan bahasa yang berhasil menyatukan bangsa ini untuk mengusir para penjajah. Sumpah berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu nampaknya telah luput dari ingatan mereka. Sebelum era kemerdekaan, bahasa Indonesia sempat dilarang penggunaannya, karena dapat mengancam keberadaan bangsa asing di bumi Nusantara. Para penjajah menganggap bahwa bahasa dapat menyatukan mereka yang terpecah-belah, dan dapat membangkitkan semangat juang rakyat untuk mengusir penjajah.

Oleh karena itu, janganlah kita merasa malu untuk menggunakan bahasa Indonesia. Karena bahasa Indonesia ialah salah satu media pemersatu bangsa. Kita pun dapat melihat ke salah satu kerabat Asia kita yang cukup sukses, yaitu Jepang. Kebanyakan orang Jepang tidak dapat berbahasa Inggris, mereka amat bangga dan selalu merasa bahwa bahasa mereka lebih baik daripada bahasa lainnya. Mereka berpendapat jika orang asing ingin menjalin kerja sama dengan mereka, orang asing lah yang harus memahami budaya dan bahasa mereka. Bukan sebaliknya.

Kita sebagai orang Indonesia, harus berbangga dengan bahasa dan juga budaya kita sendiri. Namun, harus tetap berorientasi kepada global agar bangsa kita ini tidak tertinggal kemajuan zaman yang semakin pesat. Penulis sedikit mengutip kata-kata yang pernah disampaikan oleh seorang pemateri kepada para mahasiswa di suatu kuliah umum. “Think globally, act locally”. Berpikirlah secara global, namun berperilakulah sesuai dengan tradisi lokal.

This entry was posted on Saturday, June 8th, 2013 at 11:59 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

~ dilihat : 421 kali ~