Apa Kabar Agen Perubahan?

Oleh CESHILIA PUTRI PALAGUNA

(Mahasiswi Prodi International Program on Science Education, FP MIPA UPI)

KOSONG dan terpuruk. Itulah yang menggambarkan kondisi mahasiswa saat ini. Mahasiswa tidak lagi mampu menjalankan peranannya sebagaimana mestinya. mahasiswa yang seharusnya menjadi pembaharu dan dianggap sebagai agen perubahan tidak menunjukan sikap dan perilaku yang sesuai. Padahal sebutan “agen perubahan” adalah sebuah beban yang harus dipertanggungjawabkan oleh mahasiswa. Kini masyarakat mulai mempertanyakan eksistensi mahasiswa sebagai agen perubahan ke arah yang lebih baik atau malah sebaliknya?

Sebetulnya mahasiswa memang mempunyai otoritas untuk melakukan perubahan di masyarakat. Mahasiswa memang dipersiapkan sebagai penerus pembangunan serta pemimpin bagi generasi selanjutnya. Mahasiswa diharapkan mampu membawa suatu bangsa menjadi lebih baik pada masa kepemimpinannya kelak. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan generasi yang tidak hanya berintelektual namun juga mempunyai mentalitas dan moralitas yang baik.

Namun, kondisi saat ini menunjukan adanya degradasi moral pada mahasiswa. Hal tersebut terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah pengaruh globalisasi. Banyak mahasiswa beranggapan bahwa budaya asing jauh lebih baik dan lebih modern untuk diikuti. Pada akhirnya tidak sedikit mahasiswa yang terjebak dalam pergaulan yang banyak bertentangan dengan nilai-nilai sosial di masyarakat. Lalu saat menghadapi globalisasi saja sudah gagal, bagaimana mahasiswa dianggap mampu membawa perubahan positif di masyarakat?

Hal lain yang berperan penting dalam penurunan moralitas mahasiswa adalah kurangnya pemahaman mengenai nilai-nilai agama. Padahal nilai-nilai tersebut bersifat fundamental serta menjadi suatu acuan bagi mahasiswa dalam berprilaku. Hal tersebut membuat mahasiswa mudah terpengaruh oleh budaya-budaya asing yang seharusnya tidak diikuti oleh mahasiswa. Saat mahasiswa dianggap sebagai seorang agen perubahan, maka perubahan sekecil apapun yang dilakukan mahasiswa akan berdampak pada generasi selanjutnya. Apa yang dilakukan mahasiswa saat ini akan ditiru dan diikuti secara terus menerus oleh generasi selanjutnya.

Mengkritisi tanpa solusi

Mahasiswa secara kritis mampu menilai kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan serta tidak memihak masyarakat. Mahasiswa pun tidak jarang mengkritisi perilaku serta sikap para pemimpin yang dianggap tidak sesuai serta tidak menjadi contoh yang baik untuk masyarakat. Namun seringkali penyampaian aspirasi serta pemikiran yang dilakukan mahasiswa tidak sesuai dengan intelektualitas mereka. Tidak sedikit aksi-aksi dan demonstrasi mahasiswa disertai pengrusakan benda atau bahkan berujung ricuh. Mahasiswa menyuarakan pendapatnya dengan emosional sehingga tujuan awalnya tidak tercapai.

Dilain pihak banyak mahasiswa yang hanya mengkritik kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah tanpa disertai dengan solusi yang baik. Saat pemerintah berencana membuat Undang-undang yang baru atau saat pemerintah membuat kebijakan tentang suatu masalah, dengan lantang dan tegas mahasiswa mengkritik hal tersebut bahkan menolaknya tanpa lebih jauh memikirkan solusi yang tepat. Mahasiswa seakan-akan hanya menjadi seorang hakim yang menilai bahwa apa yang dilakukan pemerintah itu salah tanpa mempunyai kewajiban untuk membenarkan letak kesalahannya. Padahal seorang kritikus yang baik tidak hanya dapat menilai salah sesuatu tetapi mempunyai jawaban untuk memperbaiki letak kesalahannya. Sehingga perbaikan tersebut akan berubah kearah yang lebih baik.

Lebih jauh banyak mahasiswa yang mengkritik pemimpin tanpa melihat dirinya pun melakukan hal yang ia kritisi. Sebagai contoh, saat mahasiswa mengkritisi perilaku pemimpin yang bertindak curang dalam kampanye pemilu padahal dia juga berlaku curang saat mengerjakan tugas kuliah atau curang saat tes. Walaupun kecurangan yang dilakukan mahasiswa adalah hal kecil dan tidak berdampak langsung kepada masyarakat namun hal tersebut adalah awal mula tumbuhnya mentalitas dalam dirinya.

Mengubah diri sendiri

Seharusnya mulai dari sekarang para mahasiswa tidak hanya memikirkan perubahan seperti apa yang akan dia lakukan untuk bangsa ini. Namun bagaimana cara merealisasikan perubahan tersebut. karena saat kita membangun impian merencanakan perubahan besar tanpa ada cara kita tidak akan pernah dapat mencapai hal tersebut. Untuk itu, ubahlah cara pandang dan fokus mahasiswa terhadap perubahan. Saat mahasiswa sibuk membenahi kinerja pemerintah tanpa berbenah diri kenyataannya adalah mahasiswa tidak merubah apapun. Pada masanya mahasiswa mempimpin bangsa ini, mereka akan melakukan kesalahan yang sama dengan yang dilakukan pemimpin yang dulu mereka kritisi. Mereka terlalu sibuk membenahi orang lain tanpa menyadari mereka yang harus dibenahi untuk mempersiapkan diri memimpin bangsa.

Untuk melakukan perubahan besar dapat dilakukan dengan langkah kecil dengan memulai melakukan perubahan pada diri kita kearah yang lebih baik. Selanjutnya tularkan perubahan tersebut kepada teman dan lingkungan kita. Jika setiap mahasiswa melakukan hal tersebut bisa  dipastikan  bangsa ini akan berubah kearah yang lebih baik dimasa kepemimpian mereka.

This entry was posted on Saturday, October 19th, 2013 at 05:43 and is filed under Lain-lain. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

~ dilihat : 394 kali ~