The 6th Conference of Indonesian Student Association in Korea 2013: Gempa pun Bisa Jadi Media Belajar

cisak_1jpg

Bandung, UPI

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Korea (Perpika) setiap tahun menyelenggarakan Conference of Indonesian Student Association in Korea (CISAK). Tahun ini peneliti muda komunitas sekolah riset Forum Komunikasi Mahasiswa Sekolah Pascasarjana (FKM SPs) UPI berkesempatan bicara soal literasi sains melalui inovasi pembelajaran Fisika dengan media pemodelan gempa. Mereka adalah Lailatul Nuraini (Program Magister Pendidikan Fisika), Adila Jefiza (Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris), dan Agusta Danang Wijaya (Universitas Jember). Makalahnya yang berjudul “An Innovation of Disaster Mitigation Based on Physics Learning Using Earthquake Media Model in Improving Students’ Scientific Literacy and Disaster Awareness” itu termasuk 76 makalah yang lolos seleksi kelayakan dari 200 lebih makalah yang masuk meja reviewer.cisak_2

Konferensi tahunan ini sengaja dikonsep untuk merangkum ide berbagai disiplin ilmu dari peneliti, pemuda, akademisi, dan profesional demi pengembangan kemajuan bangsa Indonesia. Pada kesempatan ini, peneliti muda komunitas sekolah riset FKM SPs UPI berhasil mempersembahkan risetnya dalam kategori educational studies. Mereka mengusulkan inovasi dalam pembelajaran Fisika dengan menggunakan media pemodelan gempa dalam mencapai tujuan peningkatan kesadaran bencana dan kemampuan sains siswa. Dengan media tersebut diharapkan nantinya siswa dapat lebih mawas terhadap bencana gempa yang sering terjadi di Indonesia dan meningkatkan kemampuan mereka dalam pengembangan literasi sains.

Menurutnya, sekolah perlu membangun pembiasaan menghadapi bencana, terutama gempa bumi dan tsunami. Lewat pendidikan, siswa perlu disadarkan bahwa daerah yang kita tempati saat ini rawan bencana alam geologi karena posisi Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik dunia, yaitu lempeng Australia di selatan, lempeng Euro-Asia di bagian barat, dan lempeng Samudera Pasifik di bagian timur. Oleh karena itu, setiap warga negara Indonesia, termasuk siswa harus mengetahui cara meloloskan diri secara tepat. Ke depan, kegiatan pengurangan risiko bencana yang dimandatkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana harus terintegrasi ke dalam program pembangunan pendidikan. Ditegaskan pula dalam undang-undang tersebut bahwa pendidikan menjadi salah satu faktor penentu dalam kegiatan pengurangan risiko bencana.

Rasionalisasinya guru di sekolah harus mengambil peran dalam kegiatan pengurangan risiko bencana dengan cara memulai mengenalkan materi-materi tentang kebencanaan sebagai bagian dari aktivitas pendidikan keseharian. Lebih-lebih saat implementasi kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan sainstifik sekarang ini. Usaha meningkatkan kesadaran adanya kesiapsiagaan terhadap bencana di dunia pendidikan harus dilaksakanakan baik pada taraf penentu kebijakan maupun pelaksana pendidikan di pusat dan daerah.Cisak-3

Ditanya tentang perasaannya mengikuti agenda tahunan itu, mereka pun menjawab. “Kami bangga bisa turut serta menyumbangkan pemikiran dalam bidang pendidikan di forum ilmiah skala internasional tersebut sebab dengan cara itu secara tidak langsung kami turut meneguhkan moto SPs UPI yakni memasuki kualitas dunia (entering world quality) dan moto UPI yakni universitas pelopor dan unggul dalam bidang pendidikan (a leading and outstanding university in education),” ungkapnya sepulang dari negeri ginseng. (WAS)

Cisak-4

~ dilihat : 292 kali ~