Tantangan Memperkenalkan Kuliner Indonesia di Mancanegara

Relief Kuliner di Candi Siwa Prambanan, Yogyakarta.

Relief Kuliner di Candi Siwa Prambanan, Yogyakarta.

Laporan DEWI TURGARINI

(Dosen Program Studi Manajemen Industri Katering UPI, dan Steering Commitee ICA BPD Jawa Barat)

 PADA tahun 2014 bangsa Indonesia dituntut mampu menjawab tantangan dalam mengembangkan gastronominya di mancanegara. Kita perlu melihat bahwa di dunia terdapat  Akademi Gastronomi Internasional,  yang saat ini  beranggotakan 22 negara. Mereka adalah Argentina, Austria, Belgia, Brasil, Perancis, Jerman, Yunani, Italia, Lebanon, Mexico, Peru, Polandia, Portugal, Spanyol, Swedia, Swiss, Siria, Turki, Amerika, United Kingdom.

Kita sebenarnya dapat berkaca pada Akademi Gastronomi Spanyol yang telah berkontribusi melakukan pemilihan yang terbaik kepada hal-hal yang terkait dengan Gastronomi (restoran, chef, manajer Food & Beverage, penyaji wine, wartawan, media dan buku). Secara ekonomi  gastronomi Spanyol merupakan sektor strategis karena memberikan kontribusi sekitar 20% dari total Gross Domestik Product (GDP) Spanyol. Akademi Gastronomi Internasional pada saat pertemuan 14 Desember 2013 di Casino de Madrid Spanyol menyatakan kesepakatan mereka akan mempromosikan kuliner Indonesia. Mereka juga  akan menjalin kerjasama dalam mengembangkan gastronomi di Indonesia.

Sebenarnya terdapat manfaat bagi gastronomi Indonesia bila bergabung dalam Akademi Gastronomi Internasional karena pertama kuliner Indonesia dapat lebih cepat dikenal di tingkat internasional.  Kedua upaya terobosan langkah promosi kuliner Indonesia khususnya yang sudah dilakukan Spanyol dan dunia internasional.  Ketiga bergabungnya dalam asosiasi ini dapat menjadi jembatan atau akses untuk mempromosikan produk Indonesia di pasaran dunia, khususnya produk makanan dan pertanian.  Keempat  selain memiliki nilai tambah ekonomi, melalui gastronomi akan serta merta meningkatkan citra bangsa Indonesia yang memiliki ribuan warisan budaya kuliner. Kelima dapat meningkatkan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia untuk alasan berwisata kuliner.

Akademi Gastronomi Internasional yang dipimpin Rafael Anson pada awal bulan April akan berkunjung ke Indonesia untuk mengevaluasi kesiapan Akademi Gastronomi Indonesia untuk bergabung dengan Akademi Gastronomi Internasional. Hal ini segera ditindaklanjuti oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang dipimpin Akhyaruddi, SE, M.Sc  Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus, Konvensi, Insentif dan Event bersama para gastronome.  Para gastronome tersebut adalah William Wongso, Tuty Cholid, Haryo Pramoe Linda Adimidjaja, Reno Andam Suri, Santhi Serad (ACMI),  Dewi Turgarini (UPI), Azril Azahari (Trisakti), Amiluhur Soeroso (UGM),  Yayat Sugiana (Setditjen Amerika dan Eropa Barat), Amanda Katili Niode (Omar Niode Foundation), Helianti Hilman (Slow Food) dan yang lainnya.

Para gastronome tersebut  berkumpul di ruang rapat lantai 14 Gedung Kemenparekraf Jalan Medan Merdeka Barat No. 17 Jakarta dan mulai melakukan inisiasi pembentukan akademi gastromi Indonesia. Akademi Gastronomi Indonesia dimulai dengan menyepakati beberapa syarat yaitu pertama melakukan perekrutan  anggota awal yang terdiri dari 10 hingga 20 orang yang merupakan figur terpandang (prominent person).  Mereka adalah kalangan pengusaha, social, politik, akademisi, opinion leaders, selebritis dan lainnya.  Kedua penyusunan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga didaftarkan sebagai organisasi sosial nirlaba. Ketiga akademi ini tentunya dilengkapi dengan para staf yang menangani kantor tersebut.  Pada pertemuan yang dilaksanakan pada 6 Pebruari 2013 tersebut dipilih pakar Gastronomi Indonesia yaitu William Wongso sebagai ketuanya. Sebenarnya upaya masuknya Indonesia ke dalam akademi gastronomi internasional tersebut belum menjadi jaminan bahwa secara serta merta gastronomi Indonesia bisa langsung di kenal di mancanegara.

Selain itu pun Indonesia  menjawab tantangan untuk memperkenalkan makanan Indonesia di kegiatan Food Expo yang diselenggarakan di Jepang.  Kegiatan yang dilaksanakan pada 2 hingga 9 Maret 2013 ini di wakili oleh Wedyana Yanuar Ketua Asosiasi Chef Indonesia Badan Pengurus Daerah Jawa Barat yang disponsori oleh Kokita. Dalam kegiatan ini sang chef mendemonstrasikan tujuh resep makanan Indonesia yang diunggulkan.  Kegiatan ini adalah bukti kerjasama yang sinergis antara praktisi dan juga perusahaan dibidang ini dalam mengusung kuliner Indonesia di mancanegara.

Komitmen semua pihak perlu dilakukan baik secara individu maupun lembaga juga korporat secara kontinyu dalam melakukan upaya pelestarian, publikasi, promosi dengan mengikuti trend yang ada baik secara teknis juga tidak gagap teknologi.  Selain koordinasi secara sinergis dengan para gastronome dalam melakukan aksi di tingkat regional, nasional, juga internasional.  Sebenarnya semua orang dengan mudah dapat membangun publikasi tentang gastronomi Indonesia.  Caranya adalah dengan menggunakan beragam aplikasi di dunia maya yang dapat diakses multi bahasa dengan menggunakan kata kunci gastronomi/kuliner, food, pariwisata, Indonesia.  Penggunaan kata kunci tersebut akan membuat peringkat akses internet terhadap makanan Indonesia akan meningkat.  Beragam cara dan upaya sudah dilakukan tinggal bagaimana anda akan mendukung dikenalnya seni kuliner Indonesia dapat bersaing di mancanegara.  Jangan menunggu gerakan yang besar untuk memperkenalkan makanan kita, mulailah dengan publikasi secara mandiri dengan begitu akan menyokong pengembangan seni kuliner Indonesia di mancanegara.

~ dilihat : 774 kali ~