Setelah Meletus, Tangkuban Parahu Masih Waspada

5

Bandung, UPI

Gunung Tangkuban Parahu meletus sebanyak dua kali, Kamis (21/2/2013), mengakibatkan terjadinya hujan abu di daerah pintu masuk kawah Domas menuju kawah Ratu. Namun, pengelola masih belum menutup kawasan wisata yang mengakibatkan masih banyak turis lokal berdatangan, meskipun sebagian kios telah ditutup, terutama kios makanan dan souvenir.

Adang, staf BMG.

Adang, staf BMG.

Pada hari yang sama pukul 10.30 WIB, BMKG memeriksa kawasan terjadinya letusan. Menurutnya, letusan itu kemungkinan kecil akan terjadi lagi sewaktu-waktu karena sampai saat ini kondisi perut tangkuban Parahu sedang tidak stabil. BMKG belum memastikan status dari tangkuban Parahu. (laporan 11.30, Kamis 21 Februari 2013)

Sebagian besar masyarakat sekitar merasakan kecemasan yang berlebihan dan gentar akan peristiwa tersebut karena letusan itu terjadi secara tiba-tiba tanpa adanya gempa bumi, meskipun BMKG belum menetapkan status Tangkuban Parahu.

Pada Jumat (22/2) 02.00 WIB terjadi letusan kecil disertai dengan hujan abu selama 5-6 jam di sekitar pintu masuk sampai kawah ratu yang membuat akses menuju Tangkuban Parahu cukup terhambat karena ketebalan abu yang menumpuk mencapai kurang lebih 20 cm di atas permukaan tanah.

“Kami tetapkan status waspada pada Tangkuban Parahu karena seismograf mencatat aktifitas gunung Tangkuban Parahu mencapai 4,4 SR. Lalu, hujan abu yang turun selama 5 – 6 jam terus menerus.” ujar Adang Sudrajat (42) staf BMKG,  (22/2) 09.30 WIB.

Kaban, pengelola Gunung Tangkuban Parahu.

Kaban, pengelola Gunung Tangkuban Parahu.

Keluarnya gas beracun di sekitar kawah Ratu dapat dibuktikan dengan asap yang keluar tingginya mencapai kurang lebih 80 cm diatas permukaan tanah. Selain itu, masih ada kabut yang menutupi pandangan. BMKG menyarankan tempat wisata ini ditutup dulu untuk sementara waktu sampai kondisinya mulai membaik kembali.

“Saya akan menjalankan apa yang disarankan oleh BMKG. Saya akan menutup Tangkuban Parahu untuk sementara waktu minimal 10 – 14 hari,” ujar Putra Kaban (53) pengelola tempat wisata tanguban Parahu. Siapa pun tidak boleh masuk dulu ke kawasan Tangkuban Parahu. Apabila hal itu terjadi, pihak pengelola tidak bisa menjamin keselamatannya dan tidak bertanggung jawab dengan apa yang terjadi.

Peristiwa meletusnya gunung Tangkuban Parahu membuat warga sekitar kawasan di antaranya Desa Cikole (Lembang) dan Ciater (Subang) menjadi resah. Mereka tidak menyangka akan meletus karena tidak ada tanda-tanda yang mereka rasakan.

Seismograf

Seismograf

“Saya panik ketika tahu gunung Tangkuban Parahu meletus karena tempat tinggal saya yang tidak jauh dari Tangkuban Parahu, Saya tidak mengungsi,” kata Neneng Hermawati (42) Kepala Desa Cikole belum menginstruksikan warga Desa Cikole untuk mengungsi. Sampai berita ini diturunkan masyarakat sekitar masih merasa cemas akan terjadinya letusan kecil itu karena BMKG belum mencabut status waspada Tangkuban Parahu. (Ila Anida Rachmawati/Tedy Heriyadi/Tri Sugiarti/Wartawan UPI.EDU)

~ dilihat : 344 kali ~