Seminar Maritim Indonesia Bahas Potensi Kelautan Lewat Pendekatan Budaya

FullSizeRenderKamis (10/9/2015), Lembaga Kajian Indonesia (LKI) mengadakan Seminar Maritim Indonesia di Gedung IV FIB UI. Beberapa pembicara di bidang kelautan turut hadir, yakni Letjen TNI Mar (Purn) Nono Sampono, S.Pi., M.Si., Ratu Raja Arimbi Nurtina, S.T., M.Hum., Don Kardono, Ismail Zulkarnain, M.Sc., Prof. Dr. Multamia R.M.T. Lauder, Prof. Dr. Titik Pudjiastuti. Dimoderatori oleh Prof. Dr. Agus Aris Munandar dan Dr. Untung Yuwono, seminar ini bertujuan mengulas potensi Indonesia di bidang maritim dengan pendekatan budaya dan historis.

Indonesia yang memiliki laut seluas 5,8 juta km2 merupakan negara maritim terbesar di dunia. Sayangnya, sektor maritim ini hanya menyumbang 20% pendapatan terhadap negara. Menurut Nono Samporno, hal ini disebabkan oleh paradigma masyarakat Indonesia yang cenderung menyandarkan diri pada kehidupan di darat. “Laut hanya dianggap sebagai ‘halaman belakang’, dijadikan tempat membuang sampah, dan akhirnya malah dimanfaatkan oleh negara lain,” ujarnya.

Untuk memajukan sektor maritim Indonesia, Nono berpendapat bahwa kesadaran budaya merupakan hal pertama yang harus dibangun. “Aspek budaya yang terpenting adalah pendidikan. Oleh karena itu, perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi bagian penting dengan fungsi Tridharma,” ujar Nono.

Salah satu langkah strategis yang direkomendasikan oleh Nono adalah pembangunan perguruan tinggi unggulan di setiap koridor ekonomi, terutama di kawasan timur Indonesia. Hal ini dilakukan demi terciptanya kemerataan persebaran PTN berkualitas di Indonesia.

“Sebab, lembaga perguruan tinggi (PT) adalah sentra perubahan melalui riset-riset terapan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk mengubah paradigma Indonesia ke arah maritim,” tuturnya.

Pentingnya peran riset terapan ini juga diakui oleh Multamia, peneliti dari Komunitas Toponomi Indonesia (KOTASIA) FIB UI. KOTASIA, komunitas yang menggunakan toponimi atau nama tempat untuk mengungkap jati diri bangsa, telah mendatangi titik-titik pelabuhan yang disinggahi para pelaut masa lampau untuk melakukan riset multidisipliner. Beberapa titik pengamatan riset adalah Banten, Jakarta, Cirebon, Jepara, Tuban, Sumenep. Di masa mendatang, riset juga akan dilakukan di seluruh wilayah Indonesia.

“Tujuannya jelas, kita menelusuri jati diri bangsa melalui rekaman catatan masa lampau agar kita benar-benar dapat memahami diri sendiri, menghargai diri sendiri, lalu bangkit membangun negara ini berdasarkan potensi yang selama ini nyaris terlupakan,” ujar wanita yang kerap disapa Mia ini.

Mia juga menyinggung tentang bonus demografi yang akan dinikmati Indonesia pada tahun 2020-2030 mendatang. Peneliti linguistik ini menilai, Indonesia harus memanfaatkan bonus demografi untuk merevitalisasi kejayaan maritim Indonesia. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah penguatan kurikulum tentang sektor kelautan di buku pelajaran sejarah untuk menanamkan paradigma bangsa maritim.

Penulis: Dara Adinda Kesuma Nasution