Sekelumit Kisah Pembelajaran OBIP 2013, “Senam Jantung“ Menjelang Ramadhan

1

PROGRAM OBIP tahun ini akhirnya bisa dilaksanakan setelah melalui “senam jantung” kurang lebih satu bulan gara gara visa dari kedubes Jepang tidak kunjung turun sesuai dengan yang diharapkan. Penyebabnya karena jenis visa yang akan diberikan oleh pemerintah Jepang perlu proses dan waktu yang cukup lama dibandingkan dengan visa wisata. Padahal untuk proses visa tahun sebelumnya – masih program yang sama-, visa ini bisa diperoleh dalam waktu hanya empat hari kerja. Berdasarkan  pengalaman tahun yang lalu itulah, UPI (dalam hal ini petugas Hubungan Internasional UPI) bergerak memproses visa ke kedubes Jepang seperti halnya OBIP tahun sebelumnya. Ternyata pada kenyataannya, tidak demikian untuk proses visa OBIP tahun ini.

Atas “keterlambatan” turunnya visa ini, Tim Pengelola OBIP 2013, “merugi” baik secara finansial, tenaga, maupun pikiran. Kenapa tidak? Karena rencana semula akan berangkat tanggal 13 Juni tidak jadi alias batal. Konsekwensi batal ini, setidak tidaknya tiket pesawat dan uang sewa akomodasi di Jepang yang sudah dipesan jauh jauh hari “melayang” begitu saja. Karena keberangkatan tanggal 13 Juni itu batal, sehingga Panitia OBIP memutuskan untuk memprogram ulang keberangkatan beberapa hari kemudian. Namun reskedul kedua kalinya ini juga batal berangkat karena visa tidak turun juga.

Dalam proses visa ini, kami tidak tinggal diam. Kami mencoba mencari informasi kepada pemerintah Jepang baik kepada petugas visa di Kedubes Jepang di Jakarta, Kemlu  Jepang dan Kehakiman Jepang yang ada di Tokyo, namun informasi yang diperoleh adalah katanya ada kekurangan dokumen pendukung padahal persyaratan yang diajukan diawal itu sama dengan persyaratan yang diajukan untuk visa OBIP tahun sebelumnya. Selain itu, jawaban yang diperoleh hanya demikian, ““tunggu saja sedang diproses”. Kami tanyakan, “ kapan kira kira selesai?”; jawab mereka “tidak tahu, tunggu saja sedang diproses”. Maksud kami bertanya itu tiada lain hanya ingin kepastian “ apakah visa akan dikasih atau tidak?. Kalau dikasih kira kira kapan bisa diperoleh”, “kenapa visa OBIP tahun 2012 lancar bisa diperoleh dalam waktu empat hari kerja, tapi untuk OBIP 2013 ini tidak demikian – padahal masih program yang sama?, kira kira seperti itulah kepenasaran kami kepada pemerintah Jepang. Informasi ini sangat diperlukan oleh kami guna merancang program ulang (baik pesan tiket, pesan untuk akomodasi, memberikan informasi untuk perusahaan yang akan menerima mhs OBIP, dan tentunya pengurusan dokumen penting lainnya. Namun, jawaban yang diharapkan itu tidak muncul muncul. Hanya satu jawaban yang kami peroleh yaitu diminta untuk menunggu saja.

Mengingat program OBIP ini sangat baik, bermaslahat bagi pribadi mahasiswa itu sendiri, dan tentunya bagi lembaga UPI (setidaknya dalam hal pencitraan lembaga), dan mungkin bermanfaat bagi negara ini, bahkan saya pernah diminta oleh perguruan tinggi lain untuk mengembangkan program yang sama, tapi saya tidak bersedia, kami tetap bertekad OBIP 2013 yang notabene sudah merupakan program universitas harus terlaksana.

Karena proses visa seperti yang kami uraikan di atas seperti itu, akhirnya diputuskan bahwa OBIP 2013 dipending dalam waktu yang tidak ditentukan. Keputusan ini diambil satu hari sebelum visa disetujui.

Begitu mendengar dari Kedubes Jepang Jakarta bahwa visa mahasiswa OBIP sudah disetujui, dan paspor sudah bisa diambil, maka reskedul pun dimulai lagi. Untuk reskedul ketiga kalinya ini ditetapkan keberangkatan mahasiswa OBIP tanggal 20 Juli 2013, dan pulang ke tanah air 2 Agustus 2013.

“Pil pahit” dalam memproses visa program OBIP tahun ini, suka atau tidak suka harus ditelan. Namun dibalik itu, ada sebuah pembelajaran yang sangat berharga bagi kami yaitu ujian kesabaran, konsistensi pemerintah Jepang dalam menjalankan aturan main di lingkungan mereka, dan kesadaran perlunya prilaku sigap dalam melakukan suatu program kegiatan terlebih lebih keputusan itu melibatkan lembaga asing (jangan dibiasakan dilaksanakan dipenghujung – Sunda mepet), dan yang paling penting adalah jangan dibiasakan mencari kesalahan orang lain dalam suatu proses kegiatan  manakala kegiatan itu terancam gagal atau tidak lancar, yang penting kita mesti berusaha mencari solusi yang baik dan kondusif (sikap istiqomah).

Setelah menunggu kurang lebih satu bulan, akhirnya visa untuk keberangkatan mahasiswa OBIP 2013 bisa diperoleh beberapa hari yang lalu. Insya Allah, mahasiswa UPI yang terpilih dalam program OBIP ini akan berangkat ke Jepang pada tanggal 20 Juli dan pulang ke tanah air 2 Agustus 2013. “Pelaksanaan OBIP tahun ini lebih pendek dibandingkan dengan OBIP tahun 2012 mengingat dana yang tersedia sudah minim”, demikian informasi yang kami peroleh dari tim pengelola OBIP di Jepang.

Seperti program OBIP tahun sebelumnya, kegiatan mereka akan training atau “belajar bekerja” di sejumlah perusahaan di Jepang, dan pada hari libur (Sabtu dan Minggu) melakukan rekreasi ke tempat tempat bersejarah di Osaka dan sekitarnya. Peserta OBIP kali ini sebanyak 19 orang, yang terdiri atas 15 orang mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang FPBS, dan empat orang masing masing dari Jurusan Fisika FPMIPA, Pend. Khusus FIP, Bahasa Daerah FPBS, dan Keperawatan FPOK. Mereka akan tinggal di Hotel Daimond; alamat: 1-13-21 Taishi, Nishinari-ku, Osaka-shi, Japan; tlp. 06-6649-3581.

Melalui media ini, saya sebagai Ketua Pelaksana Tim Pengelola OBIP 2013 menghaturkan terima kasih banyak kepada pihak pihak yang “sudah direpotkan” oleh kami, terutama Mr. Okamoto Keigo dan Mr. Nabeshima Yoshiro dari OHRE sebagai koordinator pelaksana OBIP di Jepang, para pimpinan perusahaan perusahaan di Jepang yang bersedia menerima mahasiswa OBIP, pimpinan UPI (khususnya Rektor UPI, Pembantu Rektor Bidang Akademik dan Hubungan Internasional UPI, dan Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kemitraan UPI), Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, KBRI Tokyo, Konjen RI di Osaka, bahkan DEPLU dan Dep. Kehakiman – Imigrasi Jepang di Tokyo, dan sekaligus kami mohon maaf atas segala kehilapan (kalau memang dalam proses visa ini terdapat keteledoran di pihak kami). Kami berharap program OBIP di tahun tahun mendatang lebih baik dan lebih mantap lagi, jangan sampai terjadi „Senam jantung“ untuk keduakalinya gara gara visa ini. (Ahmad Dahidi)

~ dilihat : 260 kali ~