Remaja Indonesia Menghadapi ‘Revolusi Seksual dan Reproduksi’

Remaja Indonesia Menghadapi ‘Revolusi Seksual dan Reproduksi’

2013-04-16 13:27:17

Remaja Indonesia Menghadapi ‘Revolusi Seksual dan Reproduksi’ YOGYAKARTA – Indonesia mengakhiri transisi demografi pertama dengan angka fertilitas total mendekati 2 dan angka kematian yang rendah. Tahap selanjutnya akan terjadi transisi demografi kedua yang ditandai dengan terjadinya revolusi seksual dan reproduksi. Terjadinya revolusi ini akan menjadi masalah bangsa Indonesia yang cukup pelik karena tidak bisa dibendung lagi kecuali berupaya mencegah dampak negatifnya agar tidak semakin parah. Demikian disampaikan Pakar Kesehatan Reproduksi dari fakultas Kedokteran, Prof. dr. Siswanto Agus Wilopo, SU., M.Sc., Ph,D., dalam pidato pengukuhan Guru Besar dirinya di Balai Senat UGM, Selasa (16/4).

Pria kelahiran Boyolali 60 tahun lalu ini mengatakan kelompok remaja dan usia subur akan menghadapi revolusi seksual dan reproduksi dalam transisi demografi kedua. Siswanto mengatakan revolusi seksual dan reproduksi sudah mulai terjadi di beberapa kota besar di Indonesia karena mengikuti perilaku seks dari trend budaya barat. Menurutnya, institusi publik dan masyarakat akan semakin sulit mengendalikan perilaku seksual dan reproduksi dalam era globalisasi khususnya meluasnya pengggunaan teknologi komunikasi elektronik. “Karenanya para remaja ini perlu diajarkan memahami pengunaan dan menghindari penyalahgunaan kontrasepsi terkini,” katanya.

Menurutnya peredaran obat-obat kontrasepsi emergensi dan aborsi medis perlu pengendalian tepat dan ketat sehingga tidak akan memberikan dampak negatif yang lebih buruk. Pelayanan teknologi kotrasepsi dan kesehatan reproduksi yang jatuh pada seseorang yang tidak profesional akan sangat membahayakan masa depan sisi remaja. “Seperti halnya pisau dapur yang sangat tajam, obat bisa dipakai untuk memasak makanan enak atau sebaliknya bisa tidak mengenakan karena dipakai untuk pembunuhan,” tuturnya.

Seperti halnya pengendalian ketergantungan obat (NAPZA), menurutnya Siswanto, kebijakan serupa dengan harm reduction perlu diberlakukan untuk obat-obat kesehatan reproduksi. Tujuannya agar hak-hak seksual dan reproduksi bagi seseorang yang telah terjerembab dalam perilaku berisiko tinggi tidak hanya dibiarkan tetapi memperoleh perlindungan. “Untuk itu semua pihak harus memahami arah perkembangan teknologi kontrasepsi dan dampaknya pada transisi demografi kedua,” katanya.

Tidak hanya remaja, transisi demografi ini juga memberikan implikasi ganda bagi dokter kesehatan masyarakat. Pertama, dokter kesehatan masyarakat harus menangani perubahan struktur penduduk yang semakin menua di Indonesia, kedua dokter juga harus menghadapi revolusi seksual dan reproduksi yang terjadi pada remaja dan usia dewasa yang sangat besar jumlahnya. Pasalnya kelompok remaja dan dewasa terutama penduduk perempuan relatif lebih banyak. Jika pada tahun 2010 jumlah wanita subur berkisar 67,4 juta maka tahun 2020 jumlahnya mencapai 71,2 juta dan akan mencapai puncaknya 72,1 juta pada tahun 2027. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

  • Remaja Jadi Fokus Perhatian APCSRHR
  • Dr Soetjiningsih: Remaja Usia 15 – 18 Tahun Banyak Lakukan Perilaku Seksual Pranikah
  • UGM Tuan Rumah Konferensi Internasional Kesehatan Reproduksi
  • Kekerasan Seksual pada Anak Tinggalkan Trauma Lebih Lama
  • Tak Semua Remaja Amerika Peroleh Akses Pendidikan Berkualitas
  • Bahasa Gaul, Cermin Perilaku Remaja
  • Strategi Komunikasi Untuk Perilaku Konsumsi Remaja