Rektor UGM: Ketimpangan Pembangunan Makin Memprihatinkan

Rektor UGM: Ketimpangan Pembangunan Makin Memprihatinkan

2013-04-25 12:48:17

Rektor UGM: Ketimpangan Pembangunan Makin Memprihatinkan YOGYAKARTA – Ekonomi dunia dalam 150 tahun terakhir didominasi oleh kekuatan industri besar dunia utara yakni Amerika Serikat, Inggris Raya, Jerman, Perancis, Kanada dan Italia. Namun untuk pertama kali setelah 150 tahun lebih, dominasi negara-negara utara tersebut tersaingi oleh kekuatan ekonomi besar di Cina, Brasil dan India di lapis pertama kemudian disusul Indonesia, Meksiko, Afrika Selatan dan Turki.

Rektor UGM, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., mengatakan kekuatan tiga negara Brasil, Cina dan India diperkirakan akan mengambil porsi 40 persen dari ekonomi dunia di tahun 2050. Apabila dikombinasikan dengan kekuatan Indonesia dan beberapa negara selatan lain maka dunia selatan akan menjadi kekuatan terbesar ekonomi dunia. “Indonesia saat ini berada di uturan ke 16 ekonomi terbesar dunia akan terus naik menjadi 10 besar dunia tahun 2040an,” kata Pratikno dalam pidato wisuda program pascasarjana periode III, Kamis (25/4), di Grha Sabha Pramana.

Menurut Pratikno kemampuan Negara-negara selatan untuk memenuhi kebutuhan pangan serta produk manufaktur untuk kebutuhan sendiri dan ekspor ke Negara-negara utara menjadi penggerak utama. Oleh karena itu, Indonesia menurut Pratikno harus mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi serta menjaga kekuatan bangsa dalam semangat keikaan dalam kebhinekaan. Kendati masih menghadapi permasalahan lingkungan, demografi dan tata kelola pemerintahan serta ketimpangan pemerataan pembangunan. “Dengan semangat kebersamaan kita harus terus koreksi ketimpangan pembangunan yang semakin memprihatinkan,” katanya.

Diakui Pratikno pemerataan pembangunan seharusnya dinikmati untuk seluruh rakyat dan seluruh wilayah, karenanya percepatan pembangunan Indonesia kawasan timur perlu diprioritaskan karena kawasan ini mengalami ketertinggalan dibanding kawasan lainnya. “Saya berharap alumni UGM bisa mendorong itu,” katanya.

Wisuda 1.025 Lulusan Pascasarjana

Universitas Gadjah Mada mewisuda 1.025 lulusan program pascasarjana, terdiri 927 master, 69 spesialis dan 29 doktor. Lama studi rata-rata adalah 2 tahun 7 bulan untuk jenjang S-2, 4 tahun 2 bulan untuk jenjang spesialis dan 5 tahun 1 bulan untuk jenjang S-3.

Waktu studi tersingkat untuk jenjang S-2 diraih Reiza Miftah Wirakusuma dari Fakultas Teknik dengan studi 1 tahun. Untuk jenjang spesialis diraih Agustinus Ronny Cahyadi dari Fakultas Kedokteran Gigi dengan lama studi 2 tahun 4 bulan. Sedangkan untuk jenjang studi S-3 diraih Raden Roro Siti Astuti dari Fakultas Pertanian dengan lama studi 2 tahun 3 bulan.

Jumlah wisudawan jenjang S-2 yang berpredikat Cumlaude sebanyak 180 orang atau 19,42 persen dari 927 orang lulusan, sedangkan wisudawan jenjang S-3 yang berpredikat Cumlaude sebanyak 9 orang atau 31,03% dari 29 orang lulusan S-3.

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) rata-rata untuk jenjang S2 adalah 3,53, sedangkan IPK tertinggi 4,0 diraih 19 wisudawan. IPK rata-rata untuk jenjang spesialis adalah 3,46 dengan IPK tertinggi 3,96 diraih Dwi Rakhmawati dari prodi ilmu penyakit kulit dan kelamin Fakultas Kedokteran. Adapun IPK rata-rata untuk jenjang S-3 adalah 3,72 dengan IPK tertinggi 4,0 diraih Anwar Rosyidi dari prodi Sain Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

  • HUT Ke-67 RI : Jati Diri UGM Untuk Atasi Ketimpangan Sosial
  • Pembangunan Yang Hanya Tekankan Pertumbuhan Justru Pertajam Kesenjangan
  • Ketimpangan Infrastruktur Hambat Desentralisasi Keuangan Daerah
  • Koento Wibisono Prihatin Maraknya Kasus Korupsi Pejabat Negara
  • 27 Daerah Perbatasan Masih Tertinggal
  • Kondisi Perbankan Syariah Indonesia Masih Memprihatinkan
  • Kemacetan di Ruas Jalan Kota Yogyakarta Bisa Capai 45 Persen