Pidato Rektor UPI pada Peringatan Dies Natalis ke-59 UPI

16

Yang saya hormati, Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI atau yang mewakili

Yang saya hormati, Pimpinan dan anggota Majelis Wali Amanat Universitas Pendidikan Indonesia

Yang saya hormati, Gubernur Provinsi Jawa Barat atau yang mewakili

Yang saya hormati, Para Pimpinan TNI dan Polri

Yang saya hormati, Para Bupati, Walikota, dan Pimpinan Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah

Yang saya hormati, Para Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta

Yang saya hormati, para Pimpinan Lembaga Mitra

Yang saya hormati, Pimpinan dan anggota Senat Akademik Universitas Pendidikan Indonesia

Yang saya hormati, Pimpinan dan anggota Dewan Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia

Yang saya hormati, Para Pimpinan Universitas, Fakultas, Sekolah Pascasarjana, Lembaga, Kampus Daerah, Direktorat, Biro, Jurusan, Program Studi, dan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia

Yang saya hormati, para dosen, tenaga kependidikan dan tenaga nonkependidikan, para Pengurus IIK di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia

Yang saya hormati para Pimpinan Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia

Para pimpinan organisasi mahasiswa dan seluruh mahasiswa yang saya banggakan,

Bapak Ibu para hadirin yang saya muliakan,

Bismillaahir-rahmaanir-rahiim,

Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Saat ini, kita berada di tengah-tengah kebahagiaan yang amat sangat. Betapa tidak. Usia lembaga yang kita cintai dan banggakan, yakni Universitas Pendidikan Indonesia, genap berusia 59 tahun. Kita tidak perlu mempersoalkan apakah usia 59 tahun itu masih baru untuk ukuran sebuah lembaga, atau justru sudah tua, sebab hal itu tentu saja akan sangat tergantung kepada sudut pandang yang kita gunakan. Keberadaan lembaga ini, sebagai institusi pertama dalam sejarah bangsa Indonesia, yang didirikan dengan tujuan khusus untuk mendidik para calon guru dan ahli pendidikan, tentu saja akan bisa dipandang sudah tua, sebab bandingannya adalah lembaga sejenis di tanah air yang diberi misi yang sama. Oleh karena itu, kalau kita gunakan alat ukur seperti ini, kita akan menyatakan bahwa lembaga kita sudah tua. Akan tetapi, kalau kita gunakan parameter lain, lalu kita bandingkan dengan sejarah perkembangan institusi formal pendidikan calon guru di dunia ini, maka usia 59 tahun belumlah berarti banyak. Institusi pendidikan calon guru di bagian dunia yang lain sudah memiliki sejarah ratusan bahkan mungkin ribuan tahun. Oleh karena itu, alih-alih mempertentangkan tua-muda dari segi usia lembaga ini, pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak hadirin yang berbahagia untuk secara bersama-sama muhasabah, baik sebagai individu maupun sebagai institusi.

Sebagai individu, kita layak bertanya, apa yang sudah diberikan kepada institusi ini, untuk meningkatkan martabat dan harga diri lembaga ini? Sudahkah kita memberikan yang terbaik yang kita miliki, baik tenaga, pikiran, waktu, atau apapun bentuknya, sehingga lembaga ini dapat tampil ke muka dengan penuh wibawa? Kemudian, kita berpikir bahwa martabat lembaga ini adalah refleksi langsung dari martabat kita sendiri. Refleksi pemikiran seperti itu tentu saja akan senantiasa menjadi penyemangat perjuangan kita untuk terus memartabatkan lembaga ini. Sebab, kita akan berpikir, Alloh swt, Tuhan Yang Maha Kuasa, telah menakdirkan kita menjadi bahagian dari lembaga ini dan rezeki kita sebagiannya dialirkan melalui kiprah kita di lembaga ini pula. Akhirnya, kita pun akan terus memanjatkan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa yang telah menjamin rezeki kita melalui aliran rezeki di lembaga ini. Atau, apakah justru sebagai warga institusi ini, kita memang lebih senang merecoki institusi ini dan tersenyum lebar penuh bangga ketika melihat lembaga ini seperti terseok-seok untuk kemudian terpuruk? Apabila kita justru berada pada kategori yang kedua, maka sebaiknya kita segera sadar karena pasti ada yang salah dengan kehadiran kita di lembaga ini. Sejatinya kita luruskan kembali niat kita hadir bersama di lembaga yang terhormat ini.

Bapak, Ibu, hadirin para tamu undangan yang amat saya hormati,

Sebagai institusi, pada usia ke 59 tahun ini kita layak bertanya, apa yang sudah kita berikan kepada negara, yang sejak awal pendirian lembaga ini sudah mengamanatkan sebuah misi mulia yang amat berat. Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) kala itu, dan kini telah berubah dalam wujud Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berstatus sebagai badan hukum otonom, ditugasi untuk ikut menanggung dan menyelenggarakan tugas negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.                     Tak tanggung-tanggung, tugas itu berupa pendidikan terhadap calon pelita bangsa, soko guru yang paling utama pembangunan mental manusia yang utuh, di samping pembangunan pengetahuan bagi para calon pemimpin bangsa ini. Dengan segala atribut yang melekat kepadanya, guru tetap akan menjadi profesi yang amat terhormat, dan perannya tak mungkin digantikan oleh teknologi semaju apapun. Oleh karena itu, pertanyaannya sekarang kembali kepada kita, seberapa besarkah sumbangsih yang sudah kita berikan kepada negara yang telah memberikan amanat tadi? Sudahkah kita menunaikannya dengan baik? Secara jujur mari kita katakan bahwa sebagai institusi kita telah melakukan hal terbaik yang kita bisa lakukan, dan kita berharap negara dapat menerima sumbangsih kita itu, seraya kita akan terus berjuang memberikan yang jauh lebih baik pada masa yang akan datang. Insya Alloh.

Hadirin yang saya muliakan.

Pada kesempatan yang amat baik ini, saya ingin secara khusus mengajak hadirin untuk sejenak melihat kembali sejumlah hal yang kiranya perlu memperoleh perhatian kita semua, dikaitkan dengan misi yang diserahkan negara kepada kita, seperti tadi saya sebutkan. Dengan cara seperti ini, kita akan bisa melihat posisi lembaga ini secara lebih utuh lalu berpikir tentang langkah yang harus kita siapkan di masa yang akan datang.

1. Status Kelembagaan UPI

Dari serangkaian perjalanan sejarah kelembagaan UPI sejak didirikan sebagai PTPG, bisa saya katakan bahwa saat ini status kelembagaan kita berada pada posisi yang paling kuat. Dalam Undang-undang nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dinyatakan bahwa Universitas Pendidikan Indonesia ditetapkan sebagai salah satu perguruan tinggi negeri badan hukum yang diselenggarakan secara otonom. Otonomi diberikan bukan hanya untuk hal-hal yang menyangkut kegiatan akademik tetapi juga untuk yang nonakademik. Artinya, kewenangan untuk menyelenggarakan tridharma sebagai tugas utama perguruan tinggi diserahkan sepenuhnya kepada kita, dan kini terpulang kepada kita bagaimana kita akan memanfaatkan peluang yang begitu luas tersebut.

Otonomi akademik telah kita jalankan dalam rangka mengatur kehidupan dan norma serta standar akademik yang kita yakini paling optimal. Pengembangan kurikulum, penjaminan mutu akademik, integrasi program studi, program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, pembukaan program studi dan fakultas yang kita lakukan sendiri merupakan beberapa contoh realisasi otonomi bidang akademik yang telah berjalan selama ini. Kita menyadari bahwa masih ada sejumlah kekurangan dan hambatan di sana sini, tetapi hal itu tidak boleh menjadi penghambat lalu kita mundur dari proses implementasi otonomi akademik itu. Kita terus belajar dalam proses panjang yang akan kita tapaki ke depan. Filsuf besar Italia, Michael Angelo pernah mengatakan ancora imparo ‘kita masih sedang belajar’, dan memang kita akan terus belajar untuk menjadi lebih baik.

15Pada ranah nonakademik, kita telah terapkan sejumlah kebijakan terkait implementasi otonomi ini. Perencanaan program kerja, pembinaan sumber daya manusia, pengelolaan keuangan, aset dan fasilitas merupakan wilayah di mana dapat kita buktikan bahwa apabila diberi peluang untuk mengelolanya secara mandiri, maka kita bisa lakukan dengan baik. Dalam kaitan ini, saya ingin juga menyampaikan secara khusus bahwa model pengelolaan aset yang ada di UPI ini, termasuk dimanfaatkan dalam bentuk pengusahaan dan investasi jangka panjang merupakan amanat dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga UPI. Pihak Pimpinan Universitas dan semua jajaran di UPI tidak mengada-ada, sebab yang ada dalam pikiran kami adalah menjalankan amanat itu dengan sebaik-baiknya, menggunakan dan memanfaatkan aset yang ada itu seoptimal mungkin dalam konteks penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan digunakan untuk kemaslahatan bersama, dengan tidak melanggar norma-norma aturan perundang-undangan yang ada. Sangat salah kalau ada pikiran bahwa penggunaan dan pemanfaatan aset di UPI ini adalah untuk kepentingan dan keuntungan segelintir orang. Kalau itu terjadi, maka artinya telah ada pengkhianatan terhadap amanat tadi.

Kita memahami sepenuhnya bahwa status kelembagaan menjadi sebuah keniscayaan dan amat penting dalam kaitannya dengan upaya mewujudkan cita-cita dan misi lembaga. Misi Negara yang diberikan kepada kita mesti kita terjemahkan dengan baik dalam wujud program yang rasional, terukur, dan diyakini dapat mengusung kinerja institusi yang paling optimal. Program-program tersebut merupakan gambaran nyata dari ukuran mimpi terbaik kita dalam rangka memajukan institusi ini. Namun demikian, betapa pun bagusnya program dan langkah yang telah kita rumuskan, kita tidak akan mungkin mewujudkan cita-cita paling optimal tadi manakala kita tidak memiliki keleluasaan untuk mewujudkannya. Sebebas apapun kita bermimpi, manakala kaki dan tangan terikat untuk mengambil langkah penting meraih mimpi tadi, maka sudah pasti mimpi hanyalah tinggal mimpi.

Kita sungguh amat beruntung. Para pendahulu kita telah berani mengambil langkah yang sangat strategis dalam kaitan dengan arah dan status lembaga ini. Ketika ada terbuka peluang untuk mengubah diri dari status sebagai satuan kerja kementerian menjadi perguruan tinggi badan hukum milik negara (BHMN) pada tahun 2003, mereka mengambilnya dengan penuh keyakinan bisa memenuhi dan menghadapi tantangan yang mungkin terjadi. Mereka bukan tidak sadar bahwa lembaga kita saat itu bukanlah merupakan lembaga yang setara dengan perguruan tinggi yang sebelumnya telah berubah menjadi perguruan tinggi badan hukum milik negara. Namun, karena keyakinan yang kuat dan penuh akan kemampuan yang dimiliki, mereka meneguhkan langkah untuk secara bersama-sama mengambil peluang itu. Situasinya bisa dikatakan now or never. Untunglah, mereka mengambil sisi now-nya. Sejak saat itu, kita memasuki tahapan baru dalam langkah bersama dengan perguruan tinggi BHMN lainnya.

Akan tetapi, bagi kita bukanlah perubahan  status itu saja yang penting. Sebab, yang justru jauh lebih penting lagi adalah bahwa dalam status BHMN tersebut sejak tahun 2004 kita telah bisa berbuat jauh lebih banyak dibandingkan dengan saat kita berstatus sebagai satuan kerja. Dengan kerja yang lebih banyak tersebut, kita pun telah meraih prestasi yang lebih banyak. Artinya, kita telah mampu memberikan sumbangsih yang lebih banyak pula kepada kemartabatan bangsa ini. Sebagai gambaran, saya bisa sampaikan beberapa contoh. Pertama, ketika instansi induk kita, yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belum mampu menjadikan kementerian dan seluruh instansi di lingkungannya memperoleh predikat penyelenggaraan dan penggunaan serta pertanggungjawaban keuangan yang wajar tanpa pengecualian (WtP), kita telah berhasil memberikan sumbangsih dengan memperoleh predikat tersebut sejak tahun 2008. Di sini artinya, sebagai institusi, kita telah beberapa langkah lebih maju dan ini menunjukkan bahwa kita mampu membuat pertanggungjawaban keuangan yang diperoleh dari masyarakat yang memberikan amanah kepada kita itu dengan baik.

Kedua, ketika Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan begitu berharap bahwa perguruan tinggi negeri dapat menyediakan akses yang lebih luas kepada masyarakat yang memiliki potensi akademik tinggi tetapi berkemampuan ekonomi rendah dengan tidak menurunkan kualitas, maka UPI telah tampil menjadi perguruan tinggi BHMN yang tetap menerapkan biaya rendah, bahkan kalau dibandingkan dengan perguruan tinggi negeri yang bukan BHMN sekali pun. Hal ini bisa kita lakukan karena kita memiliki keleluasaan untuk mengatur pendapatan dan pengeluaran sesuai dengan kondisi dan tuntutan yang ada menurut skala prioritas yang kita evaluasi sendiri. Sepertinya, hal tersebut kecil maknanya bagi sebagian orang, namun sesungguhnya amat besar artinya bagi kelangsungan pendidikan nasional yang berkualitas. Kita tidak pernah menurunkan standar kualitas penyelenggaraan pendidikan di lingkungan kita, bahkan kita senantiasa menaikkan setahap demi setahap agar semakin hari semakin baik. Jaminan yang kita tawarkan adalah biaya pendidikan tetap terjangkau, tetapi kita tidak akan pernah menurunkan standar kualitas pendidikan. Ini kita lakukan semata-mata karena kita yakin benar bahwa hanya dengan pendidikan yang berkualitaslah martabat bangsa ini akan menapak merangkak naik.

Ketiga, persaingan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi banyak ditentukan oleh layanan dan produk tridharma perguruan tingginya. Sementara itu, sumber-sumber untuk pembiayaan tridharma tersebut tidak senantiasa bisa diakses di tengah keterbatasan dan ikatan aturan yang dihadapinya. Tuntutan penyelenggaraan pendidikan tinggi dalam situasi seperti itu meminta kreativitas tinggi dari semua komponen di perguruan tinggi tersebut. Kreativitas tidak akan bisa terwujud ketika ruang untuk bergeraknya amat sangat dibatasi. Kondisi tersebut ternyata tidak berlaku kepada kita, sebab kita diberi peluang untuk memanfaatkan semua potensi kreativitas itu untuk terwujud. Kita bisa mengakses berbagai sumber untuk pembiayaan tridharma dan oleh karenanya kita bisa membuat program yang bisa memberikan produk lebih baik. Kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (litabmas) yang kita kembangkan merupakan contoh nyata dari kreativitas itu. Skim litabmas yang kita kembangkan jauh melebihi skim yang ditawarkan oleh kementerian sekalipun. Dana yang kita alokasikan meningkat dari tahun ke tahun, demikian pula jumlah dosen yang terlibat dalam kegiatan ini. Kita bahkan bisa membuat skim insentif khusus bagi dosen-dosen yang menunjukkan kinerja sangat baik dalam berbagai hal. Keleluasaan ini bisa terjadi karena status kita memang otonom dalam bidang akademik dan nonakademik. Oleh karena itu, tadi saya katakan bahwa status otonom yang kita miliki saat ini merupakan posisi tertinggi yang kita capai dalam konteks status kelembagaan. Saat ini, kita tengah menunggu aturan turunan dari Undang-undang tentang Pendidikan Tinggi yang akan mengatur penyelenggaraan otonomi yang kita miliki itu dalam bentuk Peraturan Pemerintah tentang Statuta UPI. Melalui statuta, kita memiliki pedoman yang kokoh dan tidak mudah digoyahkan dalam rangka kita mengelola lembaga ini lebih baik lagi. Oleh karena itu, kita berharap statuta yang telah kita bahas dan rumuskan bersama dan kini tengah menunggu pengesahan Pemerintah itu dapat segera berwujud. Insya Allah.

Hadirin yang berbahagia,

2. Posisi UPI dalam Kancah Dunia

Rencana Strategis (Renstra) Universitas Pendidikan Indonesia 2011-2015 menetapkan bahwa pada tahun 2015 UPI dapat tampil menjadi salah satu universitas bidang pendidikan yang ternama di Asean dan pada tahun 2025 di Asia. Ini artinya kita tidak hanya ingin tampil pada kancah nasional, tetapi juga pada tataran dunia global.

Target yang dicanangkan dalam Renstra tersebut menyiratkan tantangan yang tidak ringan, mengingat persaingan global dari waktu ke waktu semakin ketat. Pada setiap perguruan tinggi muncul kesadaran yang sangat kuat bahwa pemenang persaingan hanyalah mereka yang sadar mutu. Oleh karena itu, masing-masing berupaya untuk menetapkan dan mencapai target dengan derajat mutu tinggi.

Salah satu cara yang selama ini kita tempuh adalah menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi yang memiliki reputasi baik di kancah dunia. Kebijakan rujuk mutu (benchmarking) seperti ini telah mampu membawa UPI ke jajaran perguruan tinggi yang dikenal dan diakui di kalangan perguruan tinggi besar di dunia, baik untuk bidang pendidikan maupun di luar bidang pendidikan. Mereka tersebar di Asia, seperti Jepang, China, Korea Selatan, Hongkong, Singapura, Malaysia. Selain itu, kita juga memiliki jaringan di Amerika Serikat, Australia, dan Eropa (Inggris, Jerman, Belanda, Perancis).

Namun demikian, sesungguhnya, banyaknya jumlah perjanjian kerja sama dengan mitra di luar negeri tidak bermakna banyak manakala kita hanya menyandarkan kepada kebesaran nama dan reputasi mereka. Kita tidak mau hanya seperti lauk buruk milu mijah alias mendompleng kepada kebesaran mereka, padahal kita tidak berbuat banyak dan belajar secara sungguh-sungguh untuk mampu memanfaatkan peluang bergaul dengan mereka yang memiliki nama besar itu, dan mengupayakan agar kita masuk ke dalam lingkaran bersama-sama dengan mereka. Oleh karena itu, sesuai dengan kebijakan dalam Renstra, kita telah menggariskan dan mewujudkan program-program dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) yang sungguh-sungguh mampu menopang pergerakan UPI masuk ke arah pusaran pergerakan perguruan tinggi besar tadi. Ini terealisasi dalam bentuk riset bersama yang dilakukan oleh para dosen kita dalam berbagai topik, publikasi bersama pada jurnal-jurnal bereputasi baik, konferensi bersama, bimbingan dan pengujian bersama, dan kegiatan lainnya.2

Satu hal yang tentunya akan harus selalu menjadi catatan kita terkait dengan penyelenggaraan kerja sama antarlembaga di tingkat global ini. Ada kalanya, kita merasa bahwa kemitraan yang kita jalin itu lebih bersifat pertukaran kunjungan antarlembaga, dan bahkan kita lebih berperan sebagai penerima program lembaga mitra. Bagaimanapun, perspektif seperti ini harus kita hilangkan, sebab itu pertanda bahwa kita memang belum memiliki percaya diri yang bagus. Kita mestinya berpikir dan bersikap bahwa kita datang kepada mereka atau mereka datang kepada kita itu karena kita memang punya program yang bisa kita tawarkan sesuai dengan kepakaran yang kita miliki. Bahwa mereka memiliki sumber daya yang mungkin jadi lebih baik daripada kita saat ini, kita tidak akan pungkiri. Hanya saja, apabila kita sungguh-sungguh mau melakukannya dan kita memoles profesionalisme kita sebagai dosen yang hakiki, maka kita sesungguhnya tidak terlalu jauh dengan mereka. Bahkan, untuk sejumlah hal bisa jadi kita jauh lebih unggul. Dalam konteks ini, saya mengajak seluruh tenaga dosen di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia untuk terus menerus meningkatkan profesionalisme, melalui upaya yang sungguh-sungguh menjiwai hakikat atau jati diri dosen yang sesungguhnya itu. Seorang dosen bukanlah dan memang tidak boleh berpikiran bahwa ia adalah tenaga pengajar di perguruan tinggi, sebab dosen memiliki tanggung jawab yang jauh lebih luas daripada itu. Ia adalah pengembang ilmu dan penjaga nilai-nilai keilmuan itu untuk selanjutnya diterapkan dan dirasakan manfaatnya oleh warga masyarakat yang lebih luas.

3. Penyiapan SDM Indonesia Masa Depan

Sering disebut-sebut bahwa Indonesia kini berada dalam jendela peluang untuk bisa menikmati kondisi demografi yang menguntungkan untuk periode 25-30 tahun di depan (demographic windows of opportunities). Dalam laporan yang kita dengar dan baca itu tergambarkan betapa sebuah negara yang tidak mampu memanfaatkan jendela peluang itu menjadi sebuah bonus demografi, maka bangsa itu akan kehilangan kesempatan yang sama untuk selama-lamanya. Kita membaca bahwa Korea Selatan adalah salah satu negara yang mampu melihat peluang itu dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kemakmuran bangsanya. Kini, Korea Selatan, kita ketahui bersama, menjadi salah satu negara yang sangat maju, dengan kemakmuran ekonomi masyarakatnya yang tergolong tinggi. Sementara itu, Brazil merupakan contoh yang sebaliknya. Ketika jendela peluang demografis itu ada di hadapan mereka, negeri itu tidak memanfaatkan peluang tersebut dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak membuat perencanaan yang komprehensif untuk memajukan kehidupan masyarakat dan negerinya seoptimal mungkin. Akibatnya, Brazil tetap berada pada kelompok negara berkembang dengan tingkat ekonomi masyarakatnya biasa-biasa saja bahkan termasuk kategori rendah.

Kalau dilihat dari hasil analisis para pengamat perkembangan dunia, dapat kita tarik simpulan bahwa sesungguhnya Korea Selatan amat jeli dalam memanfaatkan jendela peluang demografis itu. Di antara sekian banyak variable yang terlibat di dalamnya, ada satu kunci yang paling utama yang ternyata berperan paling penting, yakni pendidikan yang bermutu. Mereka menyiapkan sumber daya manusia yang dimilikinya melalui pendidikan yang benar-benar diarahkan untuk menghadapi kemajuan di masa depan. Semua infrastruktur yang akan menunjang keberhasilan pendidikan disiapkan, dukungan finansial diberikan secara besar-besaran untuk menjamin keberhasilan program yang telah dirancang secara komprehensif, dan sumber daya yang akan menyiapkan generasi berikutnya itu dilatih agar mampu mendidik calon pemimpin mereka ke depan. Dan tentu saja, di sini kata kuncinya adalah keberadaan guru-guru yang bermutu. Sebab, pendidikan untuk keberhasilan dan kegemilangan generasi di masa depan harus disiapkan oleh guru-guru yang bermutu. Mereka menyadari betul bahwa perbaikan kehidupan harus dimulai dari pendidikan dan penyiapan gurunya sekaligus. Dan ini memperoleh prioritas yang paling tinggi. Upaya dan pengorbanan pemerintah Korea Selatan yang begitu fantastis itu kini membuahkan hasil yang amat menggembirakan. Hampir di setiap lini kehidupan, mereka bisa tampil ke muka, baik teknologi tingkat tinggi, perdagangan, sosial dan budaya. Kita menyaksikan anak-anak sampai orang tua di berbagai belahan bumi banyak menggunakan gadget produk Korea Selatan. Pada sisi lain kita menyaksikan pula, tak hanya anak-anak tetapi juga justru orang tua banyak yang demam dan keranjingan K-Pop. Dengan kata lain, kini Korea Selatan tinggal meraup bonus besar setelah upaya sungguh-sungguh mereka lakukan di awal munculnya peluang jendela demografis itu beberapa tahun lalu.

Bapak, Ibu, hadirin para tamu yang saya muliakan,

Keberhasilan Korea Selatan memanfaatkan jendela peluang menjadi bonus demografi itu sudah semestinya menjadi inspirasi bagi kita semua, khususnya Pemerintah sebagai penentu kebijakan arah pembangunan nasional. Peluang yang sama itu kini ada di hadapan kita, untuk bisa dipanen pada 20-30 tahun di depan. Pertanyaannya, apa yang bisa kita lakukan? Dalam konteks kita sebagai institusi yang menyiapkan calon-calon guru khususnya, kita sudah semestinya tidak hanya melakukan pendidikan sebagai praktek yang business as usual, sesuatu yang dianggap sebagai sebuah rutinitas. Kita perlu menyiapkan para calon pemimpin masa depan itu dengan terobosan cara berpikir yang jauh lebih menantang tumbuhnya kreativitas pada para siswa. Kita harus berani membiarkan mereka tumbuh dengan imajinasinya yang kadang kala “liar”. Tidak perlu kita membunuh kreativitas serta imajinasi mereka itu, tetapi justru kita harus mampu untuk mengarahkannya agar tersalurkan ke hal-hal yang jauh lebih baik. Kita berikan kepada mereka arena dan pengalaman terbaik untuk tumbuh dan berkembangnya imajinasi itu. Kita amat yakin bahwa potensi yang dimiliki anak-anak kita tidak terlalu jauh berbeda dibandingkan dengan anak-anak Korea Selatan, Jepang, Australia atau Amerika. Yang banyak membedakan hal ini justru pengalaman yang disiapkan oleh para guru kepada anak-anak itu agar mereka mampu berkreativitas yang paling optimal.

Kita yakin bahwa Pemerintah kita menyadari adanya jendela peluang itu yang kini berada di hadapan kita. Akan tetapi, kita belum bahkan tidak yakin sepenuhnya bahwa Pemerintah kita akan melakukan seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Korea Selatan. Ketidakyakinan kita itu berdasar kepada apa yang saksikan dan kita rasakan, bahwa kebijakan Pemerintah belum secara optimal berpihak kepada penyiapan guru-guru bermutu, baik untuk memoles proses penyiapannya di perguruan tinggi, maupun peningkatan kompetensi sejawat kita yang kini telah berada dan mengabdi di lapangan pendidikan mulai tingkat dasar sampai menengah.

Kebijakan untuk mendukung upaya peningkatan kompetensi guru dan para calon guru masih sangat sporadis, tersebar di mana-mana, dengan ego sektoral yang begitu kuat, baik di tingkat pusat maupun daerah. Belum ditemukan adanya fokus  yang bisa dijadikan acuan kala bergerak dalam irama yang sama dengan tema besar memperbaiki kualitas proses pendidikan calon guru dan perbaikan kompetensi guru dalam jabatan dan perbaikan mutu pendidikan pada umumnya. Akibatnya, biaya besar yang dikeluarkan Pemerintah dalam setiap tahun anggaran tidak menjamin membuahkan hasil yang paling optimal. Dengan kata lain, kita tidak tahu secara pasti bagaimana pola pikir dan konsep utuh yang dimiliki Pemerintah untuk memanfaatkan jendela peluang demografis itu melalui sektor pendidikan, yang sudah jelas-jelas berhasil dicontohkan oleh Korea Selatan, Jepang, dan kini menyusul China. Kekhawatiran terbesar yang muncul adalah manakala kita, khususnya Pemerintah tidak memiliki konsep utuh untuk menyiapkan generasi emas 100 tahun setelah Indonesia Merdeka seperti yang sering didengungkan para pemimpin negeri ini.

Walaupun saya menyebutkan bahwa aspek yang amat penting dalam penyiapan generasi emas adalah melalui penyiapan para pendidik handal, hal itu tidak berarti bahwa penyiapan sumber daya lain tidak diperlukan. Khusus yang terjadi di lingkungan UPI, sejak diberikannya mandat yang diperluas untuk membuka program studi nonkependidikan, kita telah mengembangkannya dalam model yang utuh dan bersinergi dengan program-program studi kependidikan. Model yang di lingkungan kita dikenal dengan istilah perabukan silang (cross-fertilisation) ini pada beberapa bagian telah menunjukkan hasil yang amat baik. Program-program studi nonkependidikan telah tampil ke muka menjadi bagian yang membanggakan kita, bukan hanya menyamai program sejenis di perguruan tinggi umum, tetapi juga bahkan melampaui kehebatan yang dimiliki perguruan tinggi umum lain itu. Hal ini amat membahagiakan, karena kehebatan yang dimiliki program studi nonkependidikan di lingkungan kita itu dapat secara langsung berkontribusi untuk memperkuat keunggulan yang dimiliki oleh program-program studi kependidikan. Namun, saya ingin mengingatkan, bahwa kita harus mencegah terjadinya pindah aset keilmuan (knowledge relocation) atau terjadi brain drain yang akan mengakibatkan tandusnya keilmuan di salah satu lini, jelasnya ilmu pendidikan dan keguruan, bahkan terjadinya discharge mode yang sulit untuk dipulihkan.

4. Arah Pendidikan Guru

Menghadapi jendela peluang demografis seperti yang disebutkan di atas, kita tampaknya harus sepakat secara institusional bahwa kita memiliki tanggung jawab besar untuk memanfaatkannya dan dapat menawarkan konsep yang paling ideal terkait dengan arah pendidikan guru. Ini tiada lain, seperti saya sampaikan di awal tadi, karena kita secara institusional telah diberi amanat untuk menyiapkan para calon guru tersebut. Kita mesti tampil ke muka mengambil inisiatif untuk merumuskan konsep pendidikan guru yang paling ideal. Misi institusional ini mari kita kaji ulang dan perhatikan kembali di tengah-tengah kita merayakan berdirinya institusi ini.

Hadirin yang mulia,

Pertama, kita mesti sepakat bahwa guru adalah sebuah profesi yang proses penyiapannya harus dibuat seprofesional mungkin, melalui sebuah pendidikan yang terstruktur. Untuk menjadi seorang guru profesional, tidaklah cukup seseorang itu mengikuti pendidikan profesi yang ditempatkan di ujung pendidikan akademiknya atau diberi pelatihan-pelatihan yang tidak terprogram dengan baik. Internaslisasi dan penghayatan untuk menjadi seorang guru yang baik harus dimulai dari kesadaran profesional, dalam arti bahwa sejak awal mereka harus membuat rencana besar dalam dirinya bahwa profesi mereka adalah sebagai guru. Tidak boleh profesi guru menjadi sebuah profesi yang dibuat begitu luas terbuka bagi siapa saja, apalagi hanya untuk menampung mereka yang kalah bersaing dalam profesi lain. Guru bukan profesi ‘keranjang sampah’, dan bisa diisi atau dilakukan siapa saja. Untuk sampai kepada pemikiran seperti ini, maka kita harus membuat kesadaran kolektif bahwa institusi ini perlu diisi oleh para dosen alias mahaguru yang mumpuni, sebab mereka akan menyiapkan para calon guru. Dosen alias mahaguru di institusi ini tidak boleh terdiri atas orang-orang yang berkualitas biasa-biasa saja, tetapi mereka harus memiliki dan menjadi teladan dalam keilmuan, teladan dalam ucap dan perilaku.

Kedua, kita harus berani untuk hanya mengambil calon mahasiswa yang bermutu, walaupun jumlahnya mungkin tidak terlalu banyak. Kita tidak boleh berpikir bahwa pendidikan calon guru boleh dilakukan secara massal. Pepatah menyatakan bahwa good diamonds can only be crafted from original diamonds. Tidak mungkin kita dapat menghasilkan guru-guru yang baik dengan kreativitas tinggi manakala kita diberi masukan calon mahasiswa yang kualitasnya rendah atau biasa-biasa saja. Apalagi kalau mereka masuk ke institusi ini sebagai pilihan terakhir setelah mereka membuat kalkulasi bahwa mereka tidak mungkin masuk ke perguruan tinggi lain, yang dalam pandangan mereka dan informasi dari masyarakat, perguruan tinggi lain itu lebih baik daripada institusi kita.

Memang benar bahwa apabila kita menerapkan kebijakan penerimaan calon mahasiswa seperti disebutkan di atas akan mempengaruhi sistem penganggaran kita, mengingat dukungan finansial dari Pemerintah dan masyarakat akan menurun. Akan tetapi, saya berkeyakinan, bahwa kondisi itu hanyalah akan sesaat saja, sebab dalam beberapa tahun berikutnya, setelah kita mampu menampilkan diri bahwa dengan kualitas masukan (intake) yang amat terpilih, kita bisa memberikan yang jauh lebih baik kepada masyarakat, berupa guru-guru yang jauh lebih kreatif dan berkualitas. Akibatnya, dalam jangka panjang kualitas pendidikan di tingkat persekolahan pun akan setahap demi setahap berangsur membaik. Namun demikian, kebijakan seperti ini tentu saja harus juga diikuti oleh institusi sejawat kita, dan didukung oleh Pemerintah, bukan malah sebaliknya, yakni mereka menyelenggarakan pendidikan massal, hal mana didukung pula oleh kebijakan Pemerintah. Ini tentu saja salah kaprah.

Sebetulnya, Pemerintah sudah diamanati untuk menyelenggarakan sebuah model pendidikan guru berkualitas dengan sistem terkendali dan berasrama. Ini tercantum secara jelas dalam Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Berbagai forum diskusi sudah kita laksanakan dan hadiri, baik atas inisiasi Pemerintah maupun kita sendiri. Banyak hasil dan rekomendasi yang kita sepakati untuk ditindaklanjuti sebagai arah yang bisa dipedomani. Hanya karena Pemerintah memang belum sepenuhnya berpihak kepada dunia pendidikan calon guru, dan lebih mengedepankan sektor lain di luar pendidikan untuk menyiapkan calon guru, maka sepertinya Pemerintah abai terhadap amanat konstitusional ini. Di sisi lain, tekanan kepada institusi yang menyiapkan calon guru ini begitu kuat, maka yang terjadi hanya kepasrahan sebagai bentuk dari ketakberdayaan. Untuk itu, saya menghimbau kepada para sejawat untuk mengatur ulang ritme pergerakan misi institusional kita ini agar derap langkah kita berada pada irama yang sama untuk menaikkan martabat institusi kita bersama, demi perbaikan kualitas pendidikan bangsa ini dan perbaikan kualitas warga masyarakat bangsa ini. Sekecil apapun sumbangsih kita untuk gagasan besar ini, masih tetap akan menjadi bagian tari upaya baik kita semua. Yang justru sangat salah adalah kalau tak ada upaya perbaikan yang kita lakukan, dan membiarkan hal-hal yang bertentangan dengan gagasan ideal itu tetap terus terjadi.

18Ketiga, proses pendidikan calon guru seperti saya sebutkan tadi dan munculnya harapan akan menghasilkan guru-guru yang kreatif itu menuntut kurikulum pembelajaran yang adaptif-antisipatif, dalam arti ia memiliki fleksibilitas tinggi untuk mampu menyikapi dan menyiasati setiap perubahan yang tengah dan mungkin akan terus terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Kuirkulum yang saat ini kita miliki merupakan upaya kita untuk secara ketat mengawal cita-cita kita menghasilkan lulusan terbaik. Model penyiapan calon guru dan pembinaan profesi guru dalam jabatan yang kita kemas dalam Redesain Pendidikan Profesional Guru merupakan upaya kita untuk menampilkan konsep utuh dalam pendidikan (calon) guru profesional. Sejatinya kita bisa menyiapkan semua potensi yang kita miliki untuk secara sungguh-sungguh melaksanakan konsep kita itu. Sangat tidak mungkin orang/pihak lain percaya akan kehebatan model itu dan mau menerapkan konsep yang dikandungnya, kalau kita sendiri di lingkungan kita ini tidak meyakini akan kehandalannya, yang justru akan diperoleh kesan dan keyakinan itu setelah kita menguji coba konsep tersebut.

Bagaimanapun, perubahan akan pasti selalu lebih cepat terjadi tinimbang rumusan yang ada dalam dokumen kurikulum pembelajaran. Oleh karena itu, prinsip-prinsip dasar dalam rumusan kurikulum pembelajaran itu harus ditafsirkan lebih cerdas oleh para pengampu setiap mata kuliah, agar ia tidak mati beku. Melalui sentuhan tangan dan pikiran para dosen kreatif, saya sangat yakin, kurikulum yang sudah kita miliki saat ini akan mampu menghasilkan lulusan yang kreatif, inovatif, berwawasan luas, mampu bersaing dalam kancah global, namun tidak lupa terhadap nilai-nilai lokal yang menjadi jati diri bangsanya. Untuk mewujudkan harapan ini, kita mesti menyelenggarakan proses pendidikan untuk menyiapkan lulusan itu dengan standar prosedur yang baku dengan jaminan kualitas tinggi. Seiring dengan implementasi Kurikulum baru  UPI yang dimulai pada tahun 2013, pada kesempatan ini saya mengajak semua unsur dan elemen di Universitas ini untuk menyepakati mengikuti standar baku tersebut dan taat asas terhadap prinsip penyelenggaraan proses akademik yang ada di dalamnya. Semua unsur saya minta untuk fokus mengawal implementasi kurikulum baru dalam upaya memperbaiki mutu proses dan hasil pendidikan guru. Kita perlu sungguh-sungguh menyadari bahwa semua pekerjaan yang kita tanamkan hari ini akan sangat menentukan kualitas generasi mendatang bangsa ini, yang di antaranya mereka itu adalah anak dan cucu kita. Kita perlu mewariskan yang terbaik untuk mereka, karena kita menginginkan kualitas kehidupan mereka jauh lebih baik daripada kualitas kehidupan kita saat ini. Amiin.

Keempat, sebagai institusi kita tidak akan pernah lepas tanggung jawab dalam pembinaan profesi para alumni kita di lapangan. Mereka merupakan garda terdepan mitra kita yang secara langsung mengelola proses pendidikan calon-calon pemimpin bangsa ini. Kita harus ikut menjamin bahwa proses yang terjadi di lapangan pun berjalan sesuai dengan standar mutu yang tinggi agar memberikan hasil yang baik. Untuk itu, kita harus mengupayakan model-model pembinaan profesi mereka yang benar-benar tepat dan sesuai dengan tantangan di lapangan. Program pengembangan profesional yang kita miliki saat ini memang masih sangat terbatas, namun kita terus berupaya agar setiap aspek yang terkait dengan peningkatan kompetensi profesional guru harus kita siapkan. Namun demikian, satu fakta yang sangat menyedihkan yang kita temukan saat ini adalah bahwa pembinaan profesional guru dibuat sangat birokratis oleh para pejabat di birokrasi. Para guru lebih banyak dihadapkan kepada kewajiban untuk memenuhi syarat dan ketentuan administratif, sementara isi materi untuk pembinaan mereka tidak terlalu diperhatikan. Semestinya, pembinaan profesional mereka dilakukan bukan oleh aparat birokrasi, melainkan oleh organisasi profesi, sebab merekalah yang sesungguhnya amat faham terhadap tuntutan dan kebutuhan di lapangan anggota profesinya. Dengan cara seperti ini, maka akan tercipta dialog yang lebih hidup di antara para anggota profesi itu untuk secara bersama-sama membuat solusi terhadap masalah yang berpotensi menghambat kerja profesional mereka. Dari anggota profesi, oleh organisasi profesi, untuk anggota profesi, demi kemaslahatan bangsa. Bukan dari aparat birokrasi, oleh aparat birokrasi, kepada anggota profesi, apalagi kalau untuk kepentingan (aparat) birokrasi.

Bapak, Ibu, dan hadirin yang saya muliakan.

Dalam kesempatan yang amat baik ini, izinkan saya untuk menyampaikan penghargaan yang amat tinggi dan rasa terima kasih yang amat tulus tulus kepada seluruh elemen di Universitas ini yang telah secara sabar dan ikhlas mengabdikan diri kepada Allah swt, Tuhan Yang Maha Kuasa melalui pengabdian di Universitas ini. Pengabdian Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara semua pasti akan memperoleh ganjaran yang jauh lebih baik dari Allah swt. Amiin. Secara khusus, saya ingin menyampaikan penghargaan kepada para sesepuh Universitas ini, yang sejak didirikan sebagai PTPG hinggi kini, telah membimbing generasi berikutnya dalam menapaki arah perjuangan membesarkan lembaga ini. Para Pembina, Dewan Penyantun, Majelis Wali Amanat, Dekan PTPG dan FKIP, para Rektor, para guru besar, dosen, karyawan, alumni, dan para mahasiswa serta orang tua dan masyarakat sangat berperan dalam menjaga martabat dan misi lembaga ini. Kepada para mitra di dalam dan luar negeri, saya juga menyampaikan penghargaan yang sangat tinggi atas kepercayaan terhadap kami di Universitas Pendidikan Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tetap merupakan pengayom arah kebijakan pengembangan institusi ini. Kepada semuanya, saya menyampaikan penghargaan dan berdo’a mudah-mudahan semua jerih payah Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara memperoleh balasan yang jauh lebih baik, sebagai bukti amal bakti kita semua. Amiin.

Akhirnya, saya ingin mengucapkan Selamat Dies Natalis Universitas Pendidikan Indonesia ke 59, semoga semua warganya tetap jaya, berbahagia, dan terus berkhidmat untuk kemartabatan institusi yang kita cintai dan banggakan ini. Amiin. Dirgahayu Universitas Pendidikan Indonesia.

Terima kasih.

Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

~ dilihat : 367 kali ~