PESTA PERINGATAN PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI

Peneliti komunikasi politik, dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat

HINGGA pertengahan dekade 80-an, sebagai anak-anak yang dibesarkan di kampung, saya hanya mengenal satu pesta yang ditunggu-tunggu dan dirayakan sangat istimewa. Pesta dimaksud adalah perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus. Nenek saya, dan orang-orang yang sebaya dengannya, menyebut peringatan hari kemerdekaan dengan kata “pesta” saja. Boleh jadi, itu karena dalam kamus hidupnya hanya ditemukan satu kata pesta.

Pesta yang dimaksud hanyalah prosesi iring-iringan penduduk dari berbagai kampung, yang dipusatkan di balai desa, dan mengarak “dongdang” (jampana) dengan berbagai hasil bumi –padi, singkong, pisang, dan makanan hasil olahannya- diiringi berbagai tetabuhan menuju kota kecamatan. Orang tua, anak-anak, laki dan perempuan, semuanya berjalan kaki. Anak-anak sekolah pun berjalan kaki, berbaris paling depan, sejauh 15 kilometer. Sungguh luar biasa, bahkan terasa kaget, kok bisa anak-anak kelas IV sampai kelas VI sekolah dasar berjalan kaki sejauh itu, di tengah terik matahari. Sebuah kemeriahan yang panjang dan dirasakan bersama.

Meski lapar dan haus, tidak tampak raut kesedihan dari wajah-wajah yang berarak menuju kota. Meski kehidupan warga sehari-hari tidak mudah, namun tidak tersirat kesulitan hari itu. Meski pengalaman hidup dan latar belakang yang berbeda, semua menjadi aktor drama kolosal dengan tema tunggal: bahagia dan membahagiakan orang lain.

Di kampung saya, bukan tidak ada praktik yang bisa dibilang pesta. Ada pesta pernikahan, pesta kenaikan kelas, atau pesta sehabis panen. Namun, ketiganya tidak pernah disebut pesta. Untuk menggambarkan ketiga ritus tadi cukup disebut “hajat ngawinkeun”, “samen”, dan “ngaruat bumi”. Meski ada kemeriahan, namun ketiganya tidak disetarakan dengan “pesta” (tujuh belas agustusan).

Mengapa masyarakat setempat bersepakat melekatkan makna kegembiraan panjang hanya kepada “pesta” peringatan hari kemerdekaan ?

PESTA prof karimTelah lama diyakini bahwa reproduksi sebuah makna tidak bisa dilepaskan dari pengalaman hidup seseorang. Meski di kampung banyak peristiwa menggembirakan, nyatanya kegembiraan memperingati hari kemerdekaan memiliki makna tersendiri. Hal ini diyakini terkait pengalaman pahit hidup di bawah kolonialisasi yang merampas semua sumber kebahagiaan. Itulah sebabnya, keharusan memperingati hari kemerdekaan muncul sebagai panggilan jiwa, sebagai ungkapan kesadaran akan beratnya perjuangan masa lalu sekaligus ungkapan syukur.

Belakangan, ritus memperingati hari kemerdekaan seperti mengalami distorsi antargenerasi. Bentuk dan maknanya berbeda. Kegermbiraan yang diciptakan amat terasa artifisial dengan bentuk yang tak jauh dari kelucuan yang dibuat-buat. Memang di luar angkatan ’45 sulit merasakan apa yang terjadi saat itu, dan tak terbayangkan bagaimana keberanian para pemuda menantang maut dengan slogan “Belanda kita seterika, Inggris kita linggis”.

Soekarno melukiskan konteks yang melatari lahirnya Indonesia merdeka dengan kalimat berikut, “Republik kita tidak dilahirkan dalam adhem tentremnya sinar bulan purnama. Tidak! Api peperangan yang hampir membakar habis seluruh permukaan bumi pada waktu itu masih belum padam sama sekali, gempa masih menggunjingkan bawana, samudra masih bergolak-golak dan mendidih! Malahan pernah kukatakan bahwa republik kita dilahirkan di dalam api… telah kukatakan tempo hari; apa yang dilahirkan di dalam api tak akan cair meleleh kena sinarnya matahari” (Soekarno, Amanat Proklamasi, hal. 114).

Di luar konteks yang melatarinya, bisa jadi distorsi antargenerasi terjadi pula akibat spektrum tantangan yang berubah. Bila Angkatan 45 dan generasi sebelumnya menghadapi tantangan akibat pergaulan dunia yang sempit, maka sekarang persoalan muncul akibat keterbukaan. Bila dulu tantangan yang muncul akibat keadaan serba sulit, maka kini tantangan sesungguhnya muncul dari gaya hidup yang serbamudah dan memanjakan. Lebih dari itu, bila dulu tantangan muncul akibat kelangkaan, maka sekarang masalah muncul akibat keserbacukupan (affluenza).

Keswadayaan warga menggelar “pesta” (memperingati hari kemerdekaan) mengirim pesan bahwa meski ekspresi dan visualisasi material kemerdekaan akan berbeda-beda bagi setiap orang, namun substansinya mengandung tiga hal yang sama. Kesatu, kemerdekaan adalah pemberdayaan. Ini berarti kesempatan yang dirasakan semua orang untuk mewujudkan perubahan dalam hidupnya dan merawat optimisme yang dimilikinya. Kedua, kemerdekaan adalah ruang untuk berekspresi, bukan hanya menunjukkan apa yang dirasakan, tetapi juga menampilkan apa yang diimpikannya. Ketiga, kemerdekaan adalah keadilan dalam memanfaatkan sumber daya publik, di mana setiap orang akan menerima hak-hak sosialnya sebelum mereka menuntutnya.

Kita berharap peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan RI bisa menghadirkan kembali jiwa-jiwa yang tangguh dan percaya diri, bukan pribadi yang mudah terkoyak dan berjiwa lembek. Ketangguhan jiwa dan percaya pada kekuatan sendiri menjadi taruhan nasib bangsa ke depan karena persoalan yang muncul akan lebih bercorak cuci otak, dan perang keyakinan. Indonesia yang hebat hanya bisa dibangun lewat penguatan jiwa dan kepercayaan diri, bukan lewat modernisme infrastruktur semata. Bila mengabaikan penguatan jiwa dan percaya diri, gemerlap infrastruktur tak ubahnya benteng kosong yang tampak mewah dari luar namun berisi rongga-rongga kosong di dalam hingga mudah diterobos musuh.***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/kolom/2016/08/15/pesta-377506

~ dilihat : 31 kali ~