Pengembangan Wisata Budaya Tradisi Alit di Yogyakarta Perlu Ditingkatkan

Pengembangan Wisata Budaya Tradisi Alit di Yogyakarta Perlu Ditingkatkan

2013-03-18 16:18:46

Pengembangan Wisata Budaya Tradisi Alit di Yogyakarta Perlu Ditingkatkan Pengembangan wisata budaya Tradisi Alit di Yogyakarta memiliki prospek yang cerah sehingga perlu terus ditingkatkan. Selain memiliki prospek, pengembangan wisata budaya Tradisi Alit tersebut sekaligus akan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat lapisan bawah (kampung) di perkotaan dan masyarakat lapisan bawah di pedesaan.

Hal ini ditegaskan oleh peneliti Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra pada seminar dengan topik Desa Wisata Budaya di Yogyakarta: Modernisasi Berbasis Tradisi di R. Pertemuan Puspar UGM, Senin (18/3).

“Pengembangan wisata budaya ini perlu ditujukan salah satunya untuk membangun masyarakat Yogyakarta menjadi masyarakat winisatawan (penerima) yang berkualitas,”papar Heddy.

Sayangnya, potensi wisata budaya di Yogyakarta sejauh ini menurut Heddy belum ditampilkan dengan baik. Tradisi alit juga masih kurang mendapat perhatian dalam rencana induk pengembangan (RIP) kepariwisataan di DIY. Jika melihat tipologisasi budaya di Yogyakarta, yaitu adanya Tradisi Ageng, Tradisi Alit serta budaya non-Jawa memungkinkan dikembangkannya wisata budaya dengan lebih sistematis dan terarah.

“Bisa dikembangkan baik tradisi alit yang ada di kota maupun desa,”tutur guru besar Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM itu.

Lebih jauh Heddy mengatakan perkembangan pariwisata adalah salah satu bentuk gaya hidup masyarakat modern. Salah satu ciri modernitas (budaya modern) di masa kini adalah hidupnya budaya pariwisata dalam suatu masyarakat, baik budaya sebagai wisatawan (pengunjung) maupun budaya sebagai winisatawan (penerima). Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengembangkan budaya pariwisata yang berkualitas ini, kata Heddy, antara lain mampu memberikan pelayanan kepariwisataan yang baik.

“Disamping menyajikan atraksi wisata budaya yang menarik dan fasilitas kepariwisataan yang memadai,’tegasnya.

Untuk DIY pengembangan kampung dan desa menjadi kampung/desa wisata budaya merupakan sebuah langkah modernisasi yang sangat cocok. Strategi modernisasi ini tidak mempertentangkan yang modern dengan yang tradisional, tetapi membuat keduanya menjadi saling mendukung dan menguatkan. Heddy yakin pengembangan wisata budaya di Yogyakarta yang difokuskan pada Tradisi Alit akan memberikan banyak manfaat, seperti meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat wong cilik.

”Mereka akan menjadi masyarakat yang ”modern”, namun tetap berakar dan berpijak pada tradisi mereka,”pungkasnya (Humas UGM/Satria AN)

  • 11 Sektor Penyusun Industri Pariwisata di NTB
  • Pariwisata Warisan Budaya Kian Diminati Masyarakat Global
  • Minim, Apresiasi dan Pemahaman Tradisi Lisan Nusantara
  • UGM dan Pemkab Klaten Resmikan Museum dan Kampung Wisata Tani
  • Budaya Seni Ukir Perak di Kotagede Terancam Punah
  • UGM-PT.TWC Borobudur, Prambanan & Ratu Boko Sepakat Kerjasama Pengembangan SDM Pariwisata
  • Argentina Tertarik Model Wisata Budaya DIY

~ dilihat : 334 kali ~