Peneliti UI: Perawakan Pendek Pigmi Rampasasa Bukan karena Malnutrisi

Aman B Pulungan2Desa Rampasasa, Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur telah lama menjadi sorotan para peneliti dunia. Desa tersebut memiliki populasi manusia dengan perawakan pendek atau biasa disebut manusia Pigmi. Manusia Pigmi didefinisikan sebagai individu dewasa bertubuh pendek dengan tinggi badan kurang dari 150 cm. Jumlah manusia Pigmi yang tinggal di Desa Rampasasa kini berkisar 200 orang.

Selain di Indonesia, populasi manusia Pigmi terdapat di berbagai belahan dunia seperti di Afrika, Filipina, Malaysia, dan Papua Nugini. Di Indonesia, populasi Pigmi ditemukan di Desa Rampasasa, Flores, Nusa Tenggara Timur. Telah banyak studi yang dilakukan untuk mengetahui penyebab perawakan pendek pada populasi tersebut. Namun, kesimpulan yang dihasilkan berbeda-beda.

Manusia Pigmi Spesies Baru?

Desa Rampasasa terletak berdekatan dengan Liang Bua yang merupakan lokasi ditemukannya fosil yang diperkirakan sebagai spesies baru: Homo floresiensis. Spesies baru tersebut ditemukan oleh Peter Brown dan Michael J Morwood. Dua artikel tentang temuan itu dimuat dalam majalah ilmiah prestisius dunia, Nature. Para penemu menyebutkan bahwa mereka menemukan bagian tulang dari seorang perempuan dewasa bertinggi badan kurang dari satu meter dengan volume otak 380cc. Morwood kemudian mengumumkan bahwa penemuan tersebut adalah bagian dari spesies baru, yaitu Homo floresiensis.

Namun, Teuku Jacob, seorang paleoantropologis dan profesor dari Universitas Gadjah Mada beserta timnya, The Rampasasa Pygmy Somatology Expedition, dalam penelitiannya pada tahun 2006 menyanggah pendapat Morwood. Ia mengungkapkan bahwa Homo floresiensis memiliki kecenderungan anatomi yang sama dengan Homo sapiens. Untuk itu, Teuku Jacob dan timnya menyimpulkan bahwa fosil yang ditemukan adalah fosil manusia modern dengan keunikan karakter yang diperkirakan memiliki gangguan pertumbuhan.

Bukan Malnutrisi

Perawakan tubuh (tinggi badan) sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti faktor genetik, endokrin (hormonal), dan lingkungan (nutrisi). Perawakan tubuh dikatakan pendek apabila tinggi badan individu tersebut berada di bawah persentil tiga pada kurva pertumbuhan spesifik sesuai usia dan jenis kelaminnya atau berada pada nilai kurang dari -2 simpang baku (SB). Salah satu penyebab perawakan pendek yang paling sering ditemukan adalah malnutrisi.

Defisiensi nutrisi berkepanjangan akan menyebabkan penurunan kecepatan pertumbuhan. Selain itu, perawakan pendek juga dapat disebabkan oleh faktor endokrin seperti hipotiroidisme, defisiensi hormon pertumbuhan, gangguan hormon paratiroid, serta kortisol berlebih. Dari penelitian yang pernah dilakukan untuk mengetahui penyebab perawakan pendek pada populasi Pigmi, didapatkan hasil bahwa populasi Pigmi memiliki perawakan pendek yang proporsional sehingga bukan disebabkan oleh suatu sindrom tertentu. Sebagian besar penelitian menekankan pada faktor hormonal dan genetik sebagai penyebab.

Akan tetapi, penelitian-penelitian tersebut memberi hasil yang berbeda pada setiap populasi. Misalnya saja, studi pada populasi Pigmi Afrika menunjukkan lebih rendahnya kadar faktor yang memengaruhi kerja hormon pertumbuhan, yaitu IGF-1, apabila dibandingkan dengan populasi normal. Di sisi lain, populasi Pigmi Papua Nugini menunjukkan kadar IGF-1 yang normal. Adanya perbedaan tersebut menunjukkan bahwa terdapat peran genetik lain yang menyebabkan perawakan pendek pada manusia Pigmi.

Penemuan-penemuan yang didapatkan dari penelitian mengenai populasi Pigmi di seluruh dunia menimbulkan tanda tanya besar dan keinginan bagi Dr. dr. Aman B. Pulungan Sp.A(K) untuk mencari tahu lebih lanjut penyebab perawakan pendek pada Pigmi Rampasasa.

“Hingga saat saya melakukan penelitian ini, belum ada penelitian lain yang mencari penyebab perawakan pendek populasi Pigmi di Rampasasa. Saya mencari faktor-faktor yang berkontribusi, apakah faktor nutrisi, hormonal, maupun faktor genetik. Penelitian ini menjadi disertasi doktor saya,” ucap Aman.

Temuan Peneliti UI

Selasa (13/1/2015), Aman berhasil mempertahankan disertasinya tentang Pigmi Rampasasa di hadapan para penguji di Fakultas Kedokteran UI. Disertasinya berjudul “Faktor Genetik dan Non-Genetik pada Manusia Pigmi Rampasasa, Flores”. Menurut Aman, hingga saat ini masih banyak salah pengertian mengenai perawakan pendek (stunting) yang selalu dikaitkan dengan gizi buruk. Menurut data UNICEF pada tahun 2010, lanjutnya, Indonesia menempati posisi ke-5 dari 136 negara dengan anak berperawakan pendek di bawah usia 5 tahun.

“Kita perlu juga kurva atau parameter pertumbuhan orang Indonesia. Ada Pigmi lain di Indonesia. Dan gen orang Indonesia ini ada banyak. Artinya, ada multifaktor dalam pertumbuhan manusia. Bahkan, vitamin D lebih tinggi daripada rata-rata orang di Jakarta,” ungkap Aman.

Pada penelitian ini disimpulkan bahwa Pigmi Rampasasa memiliki perawakan pendek dengan proporsi tubuh yang normal. Perawakan pendek mereka juga tidak berhubungan dengan faktor nutrisi (vitamin D, kalsium, dan hemoglobin). Namun, didapatkan defek genetik yang tidak ditemukan pada manusia normal. Hal ini mengindikasikan adanya pengaruh faktor genetik walaupun kandidat gen belum dapat diidentifikasi. “Penelitian genetik ini sangat sulit dilakukan dan membutuhkan waktu, kesabaran, serta biaya yang besar.” Kata Aman lagi.

Lebih lanjut, Aman berharap penelitian ini semakin memacu keingintahuan, terutama para peneliti Indonesia, untuk mencari tahu dan meneliti secara lebih mendalam faktor-faktor lain penyebab perawakan pendek Pigmi Rampasasa. Selain itu, perlu dilakukan penelitian yang berfokus mencari kandidat gen, defek genetik terkait perawakan pendek. Saat ini, banyak ilmuwan dunia berlomba-lomba mencari defek genetik pada manusia Pigmi, tetapi belum ada yang berhasil. “Ini adalah aset bangsa, dan diteliti oleh anak bangsa,” pungkas Aman. (Humas FKUI)

~ dilihat : 219 kali ~