Pendidikan : Pondasi Masyarakat Asia Raya

Foto Bersama Rektor UPI dan Mahasiswa UGM

Pada Senin siang (25/11/2013) suasana kampus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada menjadi berbeda karena kehadiran Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata di Ruang Multimedia Lantai 2 Gedung Margono.

Kehadiran rektor disertai Diani Risda koordinator One Asia Foundation (OAC) di Indonesia.  Rektor UPI pada hari itu menjadi quest lecture dalam rangkaian acara International Lecture Series Asian Community, and Its Development in Globalization disponsori oleh yayasan tersebut yang dilaksanakan sejak  21 Oktober hingga 20 Januari 2014.

Saat Sunaryo mempresentasikan “Masalah dan Tantangan Kehid Menyongsong Masyarakat Asia Raya Implikasi Bagi Dunia Pendidikan.” Ia memaparkan walaupun sekarang membicarakan masyarakat Asia raya yang memang wujudnya belum ada, namun topik yang dipilih menjadi tepat karena membahas pendidikan di perguruan tinggi merupakan lembaga yang jernih.  Adanya partisipasi perguruan tinggi seperti UPI, dan UGM dapat menjadi tempat latihan untuk membangun toleransi kedamaian mengenai banyaknya persoalan-persoalan  di dunia.

Ia menginformasikan bahwa pada masa kini terdapat persoalan-persoalan di Indonesia yang subjek, dan pelakunya adalah manusia.  Menurutnya kondisi manusia dari berbagai aspek patut mendapat perhatian serius. Apalagi khususnya penduduk indonesia saat ini 60 % berada dalam usia produktif,  dan diperkirakan pada usia 15-65 tahun akan memiliki  ekspektasi  hidup yang bagus. Usia produktif ini adalah modal yang luar biasa, dalam 30 tahun ke depan, bila  mampu dikawal.  Hal ini berdasarkan  asumsi usia kelahiran, dan kematian makin kecil, maka akan besar usia produktif manusia,  Kemudian  terdapat persoalan besar bagi bangsa Indonesia, mau diapakan masyarakat berusia produktif tersebut.  Tentunya Ini menjadi sebuah tantangan yang tidak mudah, oleh karena itu  salah satu solusi yang ia anggap patut dilakukan adalah melalui jalur pendidikan.

“Realitas yang ada saat ini baru 56 % anak –anak masuk jalur pendidikan usia dini, dan masih terkonsentrasi di kota besar, yang harus dikejar target 100% pada tahun 2020. Namun kita patut berbangga hati pula karena di Indonesia sudah terdapat kebijakan membuka peluang dalam aksesibilitas pendidikan.  Sebagai contohnya adalah program bidik misi yang patut dikawal, dan wajib dijaga eksistensi, serta daya saingnya.” ujarnya.

Peserta Bertanya dalam event OAC

Pendidikan Solusi Masalah Global-Local

Ia mengungkapkan kepada para mahasiswa dan dosen UGM yang hadir bahwa pada saat ini terdapat beberapa isu, yaitu pertama  isu teknologi informasi  yang berpengaruh kepada cara berperilaku manusia. Kedua persoalan-persoalan kompleksitas daya dukung energi yang akan berpengaruh kepada terjadinya defisit lingkungan yang saat ini pun menjadi  ajang politik dalam memperebutkan energi. Perlu diingat bahwa Indonesia sungguh kaya akan sumber daya energi, apabila tidak arif, dan cermat akan membawa petaka, dan akan pula mempengaruhi  pola respon manusia. Oleh karena itu sebagai mahasiswa harus memiliki pola hidup yang lain. Hal itu adalah sumber daya melalui kemampuan  inovasi, kreatifitas, dan daya tahan sosio kultural perlu dikuasai oleh bangsa ini di masa depan.  Tentunya ini sudah menjadi tugas pendidikan untuk melatih kemampuan mengelola pola respon tersebut.  Ketiga adalah masalah keseimbangan (equity), dimana perlunya pemahaman untuk mendekatkan golongan masyarakat yang  kaya dengan yang miskin,  dengan adanya prinsip keadilan juga adanya keseimbangan dalam pengelolaan sumber daya alam atau lingkungannya.

“Pada abad  21 perlu adanya cara berfikir, cara bekerja, alat-alat kerja dalam kehidupan di dunia dengan memiliki dalam keutuhan jati diri kultural yang memiliki ke-imtak-an, dan nasionalisme yang harus dimiliki manusia Indonesia dalam hard kills, dan soft skills.  Melalui kecakapan tersebut diharapkan bangsa Indonesia dapat memiliki daya saing dalam menghadapi  tantangan hidup manusia di masa depan. Di dalam konteksnya tentunya harus sesuai dengan budaya Indonesia yang tentu tidak sama dengan bangsa lain. Indonesia memiliki keberagaman aset budaya yang harus dirawat.  Suatu  keunikan harus menjadi kekuatan yang memberikan kemaslahatan dalam membangun kebersamaan. Menjadi harapan kita sebagai para akademisi untuk bisa menjadi mata hati, kata hati bangsa, dan menjadi bekal dalam pergaulan bangsa indonesia.” ungkap Sunaryo.

“Kemampuan berfikir dalam menghadapi kondisi futuristik abad 21 yang memiliki 60 % manusia produktif, tentunya membutuhkan kecakapan hardskill, softskill dan kultur, serta agama yang harus dijaga oleh kita agar mencapai profil generasi emas pada tahun 2045. selain itu adanya mobilitas penduduk, dan permintaan terhadap pendidikan harus mampu diupayakan menjadi kekuatan bangsa kita dalam menarik bangsa lain untk belajar ke kita. Hal ini akan membutuhkan adanya kesetaraan dan standarisasi dimana adanya pengakuan akan hasil belajar dan pengalaman standarisasi nasional.”ungkapnya.

Menurut Sunaryo salah satunya agar kelangsungan  kekuatan lokal  dapat memiliki daya saing secara internasional khususnya di wilayah Asia, adalah menggunakan paradigma riset yang bernilai guna terhadap masyarakat, Melalui pendidikan disertai  kesadaran multikultur, empati, dan terdapat proses edukasi dan proses budaya harus dilakukan secara  terpadu dan utuh, Sehingga hasilnya mahasiswa sebagai bangsa Indonesia menjadi whole learner. Dimana manusia Indonesia memiliki keutuhan diri, profesional, berkarakter, respek terhadap etika keilmuan mensintesiskan  kreasi dan  saling menghargai,” paparan pamungkas rektor terhadap peserta yang hadir (Teks :Dewi Turgarini/ Foto : Dianni Risda).

~ dilihat : 303 kali ~