Pendidik Abad 21 Dituntut Memiliki Keterampilan TIK

Brimy Laksmana, wakil Intel Education Indonesia saat menyampaikan materi--PhiliaTasikmalaya, UPI

Dalam rangka memenuhi syarat tugas akhir semester bagi mahasiswa tingkat I Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Tasikmalaya, dosen mata kuliah pedagogik dengan dibantu oleh 32 mahasiswa tingkat I melaksanakan seminar pedagogik, Sabtu (14/6) di Aula UPI Kampus Tasikmalaya.

Acara yang bertemakan “Transformasi Pendidikan Abad 21, Menggagas Pendidik Bermartabat di Era Globalisasi” ini bertujuan memberikan pemahaman kepada peserta agar memiliki keterampilan pembelajaran.

“Seminar pedagogik ini bertujuan memberikan pemahaman kepada peserta (baik mahasiswa tingkat I maupun para tamu undangan dari berbagai Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) bidang pendidikan di Kota Tasikmalaya, red) untuk memiliki keterampilan pembelajaran abad 21 khususnya dengan mengubah mindset dan paradigma guru dengan melakukan proses pembelajaran,” jelas Syarif Hidayat, MA., M.Pd, dosen pedagogik UPI Kampus Tasikmalaya.

Sesuai dengan misi pendidikan, lanjutnya, itu ada dua yaitu transfer of knowledge (pemberian pengetahuan) dan transfer of values (pendidikan nilai-nilai), oleh karena itu pendidik abad 21 perlu memiliki keterampilan yang memadai dan relevan dengan zamannya.

Materi tentang transformasi pendidikan, dimana berisikan tentang bagaimana gambaran manusia di tahun 2080, bagaimana siswa abad 21, keterampilan apa saja yang harus dipersiapkan untuk sukses di masa depan, dan lain-lain, disampaikan oleh Brimy Laksmana, wakil dari Intel Education Indonesia.mahasiswa tingkat 1 UPI sedang serius menyimak materi seminar--Philia

“Kehidupan pada abad 21 digambarkan sebagai kehidupan era digital, maka para guru atau pendidik dituntut memiliki keterampilan Teknik Informatika dan Komunikasi (TIK) disamping empat keterampilan pokok bagi seorang pendidik yang meliputi keterampilan pedagogik (mendidik anak, red), keterampilan profesional, keterampilan sosial, dan keterampilan personal atau kepribadian,” ungkap Brimy.

Sedangkan untuk materi filosofi dan perubahan gaya hidup dalam pendidikan disampaikan oleh Djadja Achmad Sardjana, dosen di salah satu perguruan tinggi di Bandung, berisikan tentang alasan mengapa seorang pendidik harus memiliki falsafah dalam melaksanakan pendidikan yaitu karena filsafat dapat membenarkan atau menjelaskan pendidikan secara logis dan sistematis.

Dengan mengetahui seperti apa gambaran kehidupan di masa yang akan datang, maka pendidik perlu mempersiapkan para peserta didik yang berkualitas dan berkompeten, baik dari segi entrepreneurship (kewirausahaan), technopreneurship, komunikasi, berpikir kritis, literasi teknologi, dan lain-lain. Dan melalui seminar pedagogik “Menggagas Pendidik Abad 21” ini pendidik dipersiapkan untuk mendidik para siswanya agar sukses di masa depan. (Philia)

Brimy Laksmana (kanan) tengah menanyakan tentang gambaran kehidupan di tahun 2080 kepada mahasiswa--Philia