Pemkab Purwakarta Gandeng UI Kembangkan Daerah

15866432674_987972bd76_kPemerintah Kabupaten Purwakarta menggandeng Universitas Indonesia (UI) untuk menjalin kerja sama mengembangkan potensi daerah dalam bidang pendidikan, riset atau penelitian, dan pengabdian masyarakat. “Kerja samanya dalam bentuk aspek kebutuhan publik. Sekarang kita fokus tiga desa percontohan, untuk dibuat miniatur idaman, semacam mini Indonesia,” kata Bupati Kabupaten Purwakarta, H. Dedi Mulyadi S.H., usai penandatangan Nota Kesepakatan Bersama (NBK) dengan pihak UI, Selasa (10/02/2015) di Gedung Pusat Administrasi UI, Depok.

Menurut Dedi, desa percontohan tersebut akan dibina dari segi pendidikan berkarakter, pertanian berkarakter, serta penataan lingkungan berkarakter. Hal tersebut bertujuan guna mewujudkan integritas daerah dan membangun kultur di daerah tersebut.

Sebelumnya, pihak UI melalui Progam Vokasi telah melakukan studi riset di Desa Sukamulya, satu dari tiga desa yang akan dibina, guna mengembangkan potensi daerah. Di sana, kelompok jurusan Pariwisata di Program Vokasi pernah mengembangkan buah manggis asal Purwarkarta menjadi komoditas yang bernilai ekonomi tinggi. Dedi mengakui, produsen manggis lokal kerap dirugikan lantaran petani tidak memahami dan memiliki akses ke pasar. Hal tersebut berakibat manggis terbaik dari Purwarkarta dibeli oleh daerah lain dan diakui sebagai hasil daerahnya.

Dalam rapat teknis pelaksanaan kerja sama yang dipimpin Direktur Kerjasama UI, Dr. Ir. Dodi Sudiana, M.Eng, sejumlah fakultas juga menawarkan bentuk kerja sama spesifik antara lain Fakultas Kedokteran Gigi (FKG UI). Perwakilan FKG, Ratnasari Dewi, pihaknya menawarkan pembuatan desa binaan kesehatan gigi. Fakultas Ilmu Matematika dan Pengetahuan Alam (FMIPA) juga turut menawarkan uji kompetensi guru di daerah Purwakarta untuk dibimbing oleh pakar yang ada di fakultas tersebut.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Bambang Wibawarta, S.S, M.A mengatakan bahwa dalam pelaksanaan kerja sama nantinya, yang penting adalah tetap berbasis kearifan lokal. Meskipun perkembangan teknologi begitu pesat, lanjut Bambang, perlu upaya menjaga titik singgung antara kearifan lokal dan perkembangan teknologi. “Yang penting adalah menjaga titik singgung antara nilai-nilai yang ada dengan perkembangan teknologi tersebut,” ungkap Bambang. (DPN)

~ dilihat : 166 kali ~