Pemasar Perlu Pendekatan Media Sosial

urban marketBerubahnya pola dan perilaku konsumen karena kondisi pemasaran (marketing) yang kian dinamis membuat para pemasar (marketer) perlu melakukan pendekatan melalui media sosial. Dengan mengetahui apa yang diinginkan para konsumen di media sosial, pemasar bisa melakukan penetrasi untuk menguasai pasar urban (urban market).

Analis dari Provetic Analyst dan konsultan di AkonLabs, Iwan Setyawan, mengatakan bahwa dengan pendekatan media sosial, pemasar bisa mengetahui apa yang dibicarakan konsumen di media sosial. Iwan mencontohkan, dari hasil riset yang dilakukan pihaknya dari media sosial, ia melihat kecenderungan obrolan terkait makan malam lebih ramai dibicarakan ketimbang makan pagi dan makan siang konsumen.

“Banyak orang mempertanyakan dan mempersiapkan makan malam. Saat dilihat, yang paling banyak muncul adalah makanan berupa ayam. Karena itu, restoran selalu menyajikan ayam,” ungkap Iwan dalam seminar marketing nasional bertajuk “The 11th MIST (Marketing Insight Seminar and Training)”, Senin (2/3/2015) di Fakultas Ekonomi UI, Depok.

Jebolan Institut Pertanian Bogor yang juga penulis buku 9 Summers 10 Autums itu menambahkan, dengan melihat uniknya perilaku bersosial media (social media behaviour) para konsumen, pemasar bisa mencari peluang dari hal itu. Dengan berkembangnya penelitian terkait pemasaran (marketing research), pendekatan sosial media dinilai efektif untuk dilakukan.

Menurut Executive Director Nielsen Indonesia, Karmelia Nurdjalim, pemasar juga perlu menciptakan brand loyalty (kesetiaan pada merek). Karmelia mengatakan, salah satu langkah untuk menciptakan brand loyalty, pemasar butuh brand ambassador yang ditampilkan di medial sosial. Hal itu dilakukan lantaran pasar urban saat ini berkumpul di ruang tersebut. “Kalau social community ada di digital, ke situlah marketing harus menyasar,” ujar Karmelia.

Sementara itu, Founder Managing Director ETNOMARK Consulting, Amalia E. Maulana menyebutkan, pelaku pemasar saat ini diminta untuk tidak berorientasi pada produk. Pemasar harus berorientasi para konsumen sehingga tahu apa yang dibutuhkan konsumen.

Seminar yang dilakukan dalam sepekan ini diselenggarakan oleh Management Student Society (MSS) FE UI dan menjadi salah satu agenda MIST selain kompetisi, konferensi, training, dan workshop. Menurut Project Officer MIST, Reiza Bani Paftalika, kondisi pemasaran yang kian dinamis, dengan masuknya banyak brand lifestyle anak muda, menyebabkan adanya perubahan pola pada konsumen. Dengan sejumlah seminar yang mengundang pembicara andal di bidang pemasaran, kata Reiza, isu tentang upaya penetrasi terhadap pasar urban tersebut bisa dibicarakan. “Kami menjembatani para marketing practical dengan marketing academical,” ujar Reiza.

Pembicara yang mengisi seminar nasional tersebut antara lain Vice Dean Prasetiya Mulya Business School, Agoes W. Soehadi, Chief Executive majalah Marketeers Waizly Darwin, Managing Director PT Berita Nusantara, President Director PT Excelcomindo Pratama Tbk., Marketing Director Retail Group LOTTE Mart Indonesia Engeline Tjia, Head of Partnership Traveloka Tantia Dian Permata Indah, dan sejumlah pakar atau pelaku pemasaran lainnya. (DPN)