Nilai Keimanan merupakan Kebenaran Paling Kuat

Bandung, UPI

Salah satu karakter yang dapat mempengaruhi pribadi seseorang yaitu karakter religius. Karakter religius sangat erat kaitannya dengan masalah keimanan. Nilai keimanan merupakan nilai yang memiliki dasar kebenaran paling kuat dibandingkan dengan nilai yang lainnya, karena nilai ini bersumber dari Tuhan.

“Karakter religius memiliki kaitan yang erat dengan masalah nilai keimanan, karena memiliki dasar kebenaran paling kuat yang bersumber dari Tuhan”, kata Dr. H. Fachruddin, dalam kajian lanjutan terhadap materi yang disampaikannya pada seminar Rabu (273/2013), yang membahas tentang Pendidikan Karakter dalam Perspektif Thariqah Syatariah. Fachruddin kali ini mengkaji tentang internalisasi pendidikan nilai keimanan berbasis tasawuf syathariyah sebagai upaya membentuk karakter manusia Arifun Billah.

Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Furqan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kamis (2/5/2013), pukul 13.00 hingga selesai, merasa perlu untuk menyelenggarakan kajian lanjutan terhadap dua materi yang disampaikan oleh Dr. H. Fachruddin, tentang Pendidikan Karakter dalam Perspektif Thariqah Syatariah, dan Dr. H. Aam Abdussalam, tentang Problematika Kontemporer dalam Istinbath/Pengkajian Al Quran, dalam Seminar tentang ”Simbiosis Pendidikan Karakter di Pesantren dan Perguruan Tinggi”, di Aula Masjid Al-Furqan UPI, hadir dalam kegiatan ini, para dosen dari jurusan MKDU FPIPS dan mahasiswa IPAI.

Dikatakan Fachruddin, pentingnya mengangkat nilai keimanan dalam segala aspek kehidupan, dikarenakan saat ini banyak sekali terjadi pelanggaran nilai keimanan sebagai akibat merosotnya kepedulian manusia akan pentingnya makna nilai keimanan.

Pendidikan harus berbasis tasawuf, yaitu pendidikan keimanan yang dilandasi oleh nilai-nilai tasawuf, yang menekankan kepada kajian hati yang tujuan akhirnya untuk dapat mengantarkan para peserta didik agar dapat mengenal Allah dengan seyakin-yakinnya (‘Arifun Billah), sehingga dapat merasakan kedekatan dengan Allah dan merasakan kehadiran Allah dalam dirinya, dan untuk mengenal Allah maka harus melalui proses internalisasi nilai keimanan berbasis tasawuf syathariyah, ujarnya. (Dodiangga)

~ dilihat : 138 kali ~

Silahkan baca juga :close