Napak Tilas Perjuangan dr. Moewardi

Indeks Berita


Napak Tilas Perjuangan dr. Moewardi

Posted by humas-ui on 2013-09-13 18:11:30

Meski hilang dan tidak pernah ditemukan lagi, perjuangan dr. Moewardi tidak pernah hilang di benak bangsa Indonesia. Pahlawan nasional yang namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit di Solo tersebut, telah banyak sekali berjasa bagi tanah airnya. Untuk mengenang perjuangan dr. Moewardi, Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran (Iluni FK) UI bekerja sama dengan Perhimpunan Ahli THT Indonesia (PERHATI), Perhimpunan Sejarah Kedokteran Indonesia (PERSEKIN), RSUD Dr. Moewardi Solo, dan Yayasan Dokter Moewardi menyelenggarakan acara sarasehan dan pameran foto bertajuk “Jejak Langkah Pahlawan Nasional Dokter Moewardi, SpTHT, Membangkit Batang Terendam”. Acara sarasehan berlangsung pada Kamis (12/9) di Aula Fakultas Kedokteran UI. Pada hari yang sama berlangsung pula pembukaan pameran foto yang berisi foto-foto kenangan tentang dr. Moewardi.

Acara dibuka oleh sambutan dari Ketua Iluni FKUI Dr. Doddy P. Partomihardjo, Sp.M, Dekan FKUI Dr. dr. Ratna Sitompul, Sp.M (K) dan Direktur RSUD Dr. Moewardi. Selanjutnya, dalam sarasehan hadir sebagai pembicara yaitu, Dr. dr. Rusdy Hoesein, M. Hum., yang merupakan perwakilan keluarga dr. Moewardi. Ia menyampaikan pemaparan secara garis besar tentang jejak langkah dr. Moewardi. Hadir pula Laksma TNI (Purn) Dr. Amoroso Katamsi, SpKJ, MM yang mengisahkan kiprah dr. Moewardi sebagai perintis pandu dan pramuka. Selain itu, hadir pula Prof. Dr. dr. Padmosantjojo yang menceritakan perjuangan dr. Moewardi sebagai dokter spesialis. Acara juga diramaikan dengan pembacaan puisi oleh cucu Dr. Moewardi, Alya Bambang Adhi. Selain itu ada juga nyanyian lagu pahlawan oleh anak dan cucu dr. Moewardi, yaitu Ir. Hardjanto Soegianto dan Amatta Hardjanto. Secara garis besar, acara ini bertujuan untuk menginspirasi kaum muda Indonesia untuk mencintai bangsa dan negara. Dengan mengenang pahlawannya, generasi muda juga diharapkan dapat memelajari dan menerapkan nilai kepahlawanan dalam kehidupan.

dr. Moewardi adalah alumni School Tot Opleiding Voor Indische Arsten (STOVIA), yang saat ini menjadi Fakultas Kedokteran UI. Ia lahir di Pati, Jawa Tengah pada tahun 1907 dari pasangan Sastrowardoyo dan Sastrowarsoyo. Setelah menamatkan kuliah di STOVIA, ia kemudian melanjutkan ke Geneeskuundige Hogeschool (GH) untuk mendapat gelar dokter atau Indische Arts. Di GH, pada 1939 ia berhasil lulus sebagai dokter spesialis Telinga Hidung Kerongkongan (THK). dr. Moewardi secara resmi dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui SK Presiden RI No. 190 tahun 1964. Inisiator Pekan Olahraga Nasional pertama di Solo ini, juga adalah pelopor terbitnya Koran Jateng. Kiprah dr. Moewardi tidak sampai di situ saja. Ia juga pada 1929 memimpin Kepanduan Bangsa Indonesia yang berdasar pada tekad “Satu Pandu untuk Seluruh Indonesia”.

Selain menjalani tugas mulia sebagai dokter, dr. Moewardi juga memberikan kontribusi besar lain, salah satunya saat proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, ia bertindak sebagai Ketua Barisan Pelopor cabang Jakarta yang mempersiapkan proklamasi kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta di Pegangsaan Timur. Tak berselang lama setelah proklamasi digulirkan, ia ditunjuk sebagai Ketua Umum Barisan Pelopor menggantikan Bung Karno. Pada tahun 1948, dr. Moewardi turun ke politik dan membentuk Gerakan Rakyat Revolusioner (GRR). Saat itu kondisi Jakarta sedang memanas dan GRR dibentuk untuk melawan aksi-aksi Front Demokrasi Rakyat (FDR), yang merupakan kaki tangan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada 13 September 1948 saat menjalankan praktek sebagai dokter di Rumah Sakit Jebres Solo, dr. Moewardi diculik dan sampai saat ini jasadnya tidak ditemukan. (KHN)