Modernisasi Ekonomi Sangat Urgen Bagi Kesejahteraan Indonesia

Bandung, UPI3

Bangsa Indonesia berupaya meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, para akademisi yang tergabung dalam asosiasi ISEI pun pada  1 Juli 2013 melaksanakan International Conference and Lecturing on Economics (ICLE) bertema “Modern Economics for People Welfare”. Kegiatan yang dilaksanakan di Universitas Atmajaya Kota Yogyakarta ini banyak dihadiri para akademisi dari perguruan tinggi di Indonesia salah satunya dari Universitas Pendidikan Indonesia yang diwakili Dewi Turgarini, S.S., MM.Par dosen Program Studi Manajemen Industri Katering FPIPS.

Dalam kesempatan tersebut Tanri Abeng Mantan Menteri BUMN salah satu cara untuk  meningkatkan kesejahteraan ekonomi adalah melalui peran leadership.  Ia pun menyatakan masyarakat Indonesia jangan takut dengan adanya kenaikan harga, karena negara Indonesia memiliki banyak kekayaan alam yang fundamental dan didukung oleh banyaknya BUMN di negara ini. Ia berpesan bahwa sebaiknya para akademisi harus kritis dengan permasalahan ekonomi, agar tidak terjadi lagi krisis ekonomi seperti pada tahun 1998, dengan membuat struktur nilai yang kuat. Ia pun menambahkan pada kenyataannya leadership pun perlu didukung dengan posisi politik sehingga dapat melakukan inovatif, dan memotivasi orang lain menjadi lebih baik.

Acara ini terdiri dari tiga sesi, sesi pertama bertema “Manajemen Kepemimpinan”, yang menghadirkan Marthin Nanere P.hd dari La Trobe Busines School Bendigo di kota Melbourne Australia, Selanjutnya Prof. Dr. Djokosantoso Moeljono, dan Dr. Sugiharto yang dimoderatori oleh  Dr. Roberto Akyuwen.  Sesi kedua bertema “Keuangan Publik,” dan isu pengembangan yang menghadirkan para pemateri dari Frank Dhot, P.hd dari Yale University USA, kemuian DR. Nurhayati Ali Assegaf, Dr. Maryanto  Harjowirwiryono, MA dan dimoderatori oleh Prof, Dr. Gunawan Mumodiningrt, M,Ec.  Sesi ketiga  bertema “Broadband Economic Concept”, menghadirkan pembicara Ray Boffey, Edith Cowan dari University Perth Western Australia, Dr. Setyanto P. Santosa, MA, Dr. I putu  Sigiatha Sanjaya, M,Si dengan moderator M. Parnawa Putranta, MBA. Phd.1

Bagi penulis yang menarik adalah yang dipaparkan oleh Martin Nanere tentang “green marketing dari perspektif produk dan service.” Ia menjelaskan bahwa produk dan service bias berkontribusi terhadap lingkungan. Kedua hal tersebut harus diminimalisasi dampaknya  terhadap lngkungan. Tentu menjadi suatu hal yang membutuhkan komitmen dan juga kerja keras  agar konsumen bias melakukan hal yang ramah lingkungan secara mudah. Konsumen  harus memahami nilai dan patut berperilaku bahwa  bisnis dan pemasaran yang ramah lingkungan baik bagi masa depannya. Konsumen pun perlu melakukan positioning nilai dengan melakukan  efesiensi biaya secara efektif, sehat dan  penampilan yang ramah lingkungan sebgai sebagai simbol dan status dan kenyamanan yang layak dilakukan.  Tentunya harus ada proses memberi pengetahuan kepada konsumen, dan tak lupa pula perlu menjamin adanya krediblitas saat melakukan klaim produk. Ia memberikan tipsnya untuk membuat para konsumen mengetahui bagaimana bisa ramah lingkungan, yaitu mendidik mereka agar membuat perubahan, menambahkan nilai.  Ia pun mengingatkan kita untuk mengedukasi para konsumen apabila bukan anda yang bersikap dan berperilaku ramah lingkungan, lalu siapa yang akan ramah lingkungan?

Lain lagi sudut pandang Jokosantoso bahwa dalam menghadapi ekonomi yang modern  seorang pemimpin tidak saja harus profesional namun harus memiliki kasih sayang kepada bawahannya. Bentuk kasih sayang tersebut adalah dengan pertama memimpin dengan jiwa compassion yang besar dan mampu mendengarkan dengan baik. Kedua mampu mentransfer pengetahuan dan nilai kepada bawahannya. Dan memiliki pemimpin memiliki multi fungsi terhadap subordonatenya. Ketiga mampu menjadi pelindung bagi intitusi dan subordinate. Keempat mampu memelihara posisinya secara benar daripada menjadi seorang profesional namun personal. Kesuksesan seorang pemimpin itu adalah adanya rasa hormat yang dipicu dari kasih sayang yang diberikan oleh pemimpin kepada bawahannya. Dan hal ini dapat dilihat apabila sang pemimpin dipindahkan bagaimana reaksi bawahan terhadapnya.2

Pemimpin seperti apa yang harus dimiliki oleh Negara Indonesia menurut  Sugiharto Presiden Komisaris PT. Pertamina adalah kemampuan untuk melihat bahwa dunia kita sekarang akan berubah dan bergerak secara tajam. Pada kenyataannya peran dari negara maju bisa digantikan oleh negara berkembang. Cina India dan ASEAN termasuk Indonesia, negara latin dan Rusia.  Negara=Negara tersebut  akan menjadi kekuatan baru dalam peta ekonomi global. Ia menyatakan bahwa di masa mendatang  akan ada peran, dan orientasi pemerintah yang memunculkan kebutuhan populasi dalam keamanan makanan, air dan energi. Pemerintah di dunia pun akan fokus untuk mempertemukan kebutuhan di negaranya termasuk Indonesia.

Ia menyatakan bahwa Indonesia telah menampilkan dengan baik GDP dengan 5.2 %, dan membuat negara kita dapat imun dari krisis Amerika dan Eropa karena pertumbuhan utama bukan dari ekspor tapi dari konsumsi lokal (60 %). Dengan adanya populasi generasi muda dan segera tumbuh secara signifikan akan menjadi 90 juta kelas konsumsi di masa depan. Kemudian pada tahun 2030 indoneia akan menjadi negara ke tujuh yang memiliki ekonomi terbesar di dunia dengan 135 juta anggota kelas konsumsi. Namun untuk menghadapi tahun 2030 bangsa Indonesia harus menghadapi banyaknya  tantangan. Pertama harus memiliki tenaga kerja yang terlatih, agar dapat meningkatkan produktifitas, Kedua patut memiliki kemampuan untuk mengelola luasnya permintaan dari kelas konsumsi.  Ketiga memiliki  kemampuan untuk mempertemukan pertumbuhan permintaan untuk energi, material, air dan yang laiinya dari populasi yang tumbuh. Dalam menghadapi tantangan tersebut maka diperlukan pemimpin Indonesia yang kuat,  dan cerdas, dan memiliki keemimpinan yang membawa percepatan pertumbuhan ekonomi yang dapat ememelihara stabilisasi politik dan memecahkan isu utama yang kita hadapi.  Beragam pendapat para pakar tentunya menjadi bahan perenungan bagi para akademisi untuk meningkatkan kualitas akademiknya dibidang ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan bangsa pada umumnya diberbagai sektor dimana mereka berkiprah. (Dewi Turgarini)

~ dilihat : 289 kali ~