Menristekdikti Uji Coba Kapal Pelat Datar Produksi Alumni UI

kapal pelat datar

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir melakukan uji coba kapal pelat datar karya peneliti dan alumni UI pada Sabtu (20/8/2016). Uji coba dilakukan mulai dari Teluk Naga, Tangerang hingga Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu.

Dengan menggunakan pelat-pelat baja datar, konstruksi kapal tidak lagi melewati proses pelengkungan pelat yang memakan waktu. Material ini memungkinkan produksi kapal yang berlangsung cepat dengan biaya yang relatif murah.

Kapal produksi PT Juragan Kapal yang dimotori oleh alumni-alumni UI ini berkapasitas 3 Gross Tonage (GT) dengan mesin 170 PK. Saat diuji kapal ini memiliki kecepatan 240 knot atau setara dengan kapal 350 PK.

Produksi kapal pelat datar ini awalnya diinisiasi oleh Dosen Teknik Perkapalan UI Hadi Tresno Wibowo. Ia tidak bekerja sendiri. Dalam pelaksanaannya, ia juga dibantu mahasiswa-mahasiswanya yang setelah lulus kemudian tergabung dalam PT Juragan Kapal.

Cita-cita Hadi adalah memproduksi kapal laut yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk belajar dan berlayar di laut Indonesia. “Mimpinya nanti punya kapal untuk belajar di laut dan untuk berlayar mengenal kekayaan laut,” kata Hadi.

Berangkat dari Kepedulian terhadap Nelayan

Kepedulian terhadap nasib nelayan tradisional memotivasi Hadi membuat kapal pelat datar. Pada Agustus 2012, kapal nelayan pelat datar produksinya telah dimanfaatkan untuk membantu kerja nelayan Mirasa Sejati di Desa Limbangan, Balongan, Indramayu.

Dosen Teknik Perkapalan, Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik itu berkeingiann membuat satu terobosan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang hidup di pulau atau pesisir.

Menurut Hadi, perguruan tinggi harus mempunyai inisiatif membantu kebutuhan masyarakat pesisir. Dalam hal ini, ia berharap UI dapat menjadi inisiator dalam bidang pelayaran rakyat.

Pelayaran rakyat, kata dia, meskipun terlihat sebagai sesuatu yang kecil, sesungguhnya berdampak besar terhadap pergerakan ekonomi di Indonesia sebagai negara kepulauan. Ia berpendapat, pelayaran yang baik dapat menyatukan pulau-pulau.

Saat ini, transportasi di pulau-pulau di Indonesia masih minim. Akses transportasi yang sulit seringkali membuat warga di kepulauan tidak dapat menjangkau berbagai komoditas.

Masalah yang ada selama ini antara lain sulitnya aksesibilitas sehingga harga-harga kebutuhan masyarakat menjadi mahal. Ke depan, Hadi berharap kapal pelat datar yang dirancangnya mampu mengatasi masalah di bidang pelayaran rakyat dan memicu perkembangan pulau-pulau.

Pengganti Kapal Kayu Tradisional

Kapal yang mendominasi pelayaran rakyat saat ini adalah kapal tradisional dari kayu. Hadi berpendapat bahwa kapal kayu tidak bisa lagi terlalu diandalkan. Jumlah kayu secara signifikan semakin langka, ditambah kesulitan dalam pembuatan dan perbaikan jika kapal mengalami kerusakan. Fakta inilah yang kemudian membuat Hadi berinisiatif membuat kapal pelat datar dari baja.

Kapal tersebut dibuat dari lempengan-lempengan pelat baja datar. Ia mengakui bahwa bahan dasar kapal pelat datar tersebut mudah didapat. Di samping itu, proses pembuatannya juga mudah, tidak memerlukan waktu yang lama dan biayanya pun terjangkau. Selain itu, kapal pelat datar ini juga dapat didaur ulang.


~ dilihat : 39 kali ~